perahu

Agar Bahtera Kita Tak Tenggelam

Nov 25 • Hadits, Tarbiyah • 118 Views • No Comments on Agar Bahtera Kita Tak Tenggelam

Oleh : Abu Ukkasyah Wahyu al-Munawy

Disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mempermisalkan kehidupan dunia ini seperti orang-orang yang hendak menaiki satu bahtera untuk menyeberangi lautan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

مثل القائم في حدود الله والواقع فيها كمثل قوم استهموا على سفينة فصار بعضهم أعلاها وبعضهم أسفلها وكان الذين في أسفلها إذا استقوا من الماء مروا على من فوقهم فقالوا لو أنا خرقنا في نصيبنا خرقا ولم نؤذ من فوقنا فإن تركوهم وما أرادوا هلكوا جميعا وإن أخذوا على أيديهم نجوا ونجوا جميعا

 

“Permisalan orang-orang yang menegakkan batasan-batasan Allah (amar ma’ruf nahi mungkar) dan orang-orang yang bermaksiat padanya, seperti satu kaum yang melakukan undian untuk mendapatkan posisi dia atas kapal. Maka sebagian mereka mendapat posisi bagian atas, sedang yang lainnya mendapat posisi bagian bawah. Pada saat itu, orang-orang yang mendapat posisi bagian bawah, jika hendak mengambil air minum, maka mereka harus naik pada bagian atas kapal melewati orang-orang yang berada pada tempat tersebut. Sayangnya, orang-orang yang berada pada bagian atas kapal merasa terganggu, hingga orang-orang yang berada di bagian bawah berkata, “Jika saja kita melubangi kapal pada bagian kita, niscaya kita tidak akan mengganggu orang-orang yang berada di atas kita”. Seandinya orang-orang yang berada di atas kapal itu membiarkan apa yang mereka inginkan (melubanginya) niscaya mereka semua akan binasa, namun jika mereka mengambil tangan-tangan mereka niscaya mereka semua akan selamat”  (HR. Bukhari)

 

Pada hadits ini ada beberapa faidah yang agung yang disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, diantaranya:

 

  1. Permisalan kehidupan ini bagaikan orang-orang yang berlayar menggunakan bahtera, maka hendaklah setiap orang yang bersamanya menjaga bahtera tersebut agar tidak tenggelam bersama mereka.

 

  1. Suatu hal yang mustahil menjadikan manusia memiliki pendapat yang sama. Oleh karena itulah disyariatkannya amar ma’ruf nahi mungkar untuk meluruskan pendapat yang salah dan memerintahkan sesuatu yang diabaikan.

 

  1. Beruapayalah untuk memberikan hak-hak orang lain dan jangan menghalanginya. Sebab jika seseorang merasa terhalangi dari hak-haknya, ia bisa melakukan hal-hal yang dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Seperti orang-orang yang merasa terhalangi dari mendapat minuman pada hadits ini hingga akhirnya mereka ingin melubangi kapal untuk memndapatkan air, yang sebenarnya perbuatan itu dapat membinasakan mereka semua.

 

  1. Banyak orang-orang yang terjatuh dalam kesalahan, menganggap diri sedang melakukan ingkarul mungkar, namun ternyata sedang melakukan kemungkaran yang besar. Sebagaimana pada hadits ini, penumpang bagian bawah kapal hendak melubangi kapal sebagi wajud ingkarul mungkar. Sebab pada saat itu mereka beranggapan telah menggangu penghuni kapal bagian atas, dan itu adalah kemungkran –menurut kalim mereka-, maka untuk menghilangkan kemungkaran yang mereka klaim itu adalah dengan melubangi kapal, tapi ini adalah kemungkaran yang lebih besar.

 

  1. Tidak selamanya sesuatu yang dianggap mungkar oleh orang lain adalah kemungkaran. Bahkan boleh jadi apa yang dianggap mungkar itu adalah sesuatu yang ma’ruf bahkan merupakan hak bagi manusia.

 

  1. Dalam melakukan ingkarul mungkar harus benar-benar mengetahui bahwa apa yang diingkari itu benar-benar adalah kemungkaran, agar tidak mengingkari perbuatan yang makruf.

 

  1. Salah satu kaidah dalam melakukan ingkarul mungkar adalah tidak meghilangkan kemungkaran dengan mendatangkan kemungkaran yang lebih besar darinya.

 

  1. Melakukan ingkarul mungkar dengan tangan jika mampu melakukannya dan tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Olehnya, tidak boleh mengngkari kemungkaran hanya dengan lisan jika seseorang tidak berubah dengannya, namun hendaknya dengan tangan (jika mampu melakukannya) agar tidak terjadi bencana yang yang dapat menimpa manusia dan tidak terkhusus pada orang-orang yang zalim saja.

 

  1. Ingkarul mungkar dilakukan kepada siapa saja yang melakukan kemungkaran, baik itu pada rakyat jelata ataupun penguasa. Tidak ada dalil yang melarang orang-orang melakukan ingakrul mungkar pada penguasa yang melakukan kemungkaran. Syariat tidak menutup pintu ingkar al-mungkar dengan tangan atau dilakukan di depan umum kepada pelaku kemungkaran, baik itu rakyat biasa ataupun penguasa, berdasarkan hadits ini.

 

  1. Bolehnya melakukan undian, berdasarkan hadits ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

 

*وفي هذا الحديث إثبات القرعة وأنها جائزة وقد وردت الآيات والأحاديث بالقرعة في موضعين من كتاب الله وفي ستة مواضع من سنة الرسول صلى الله عليه وسلم*

 

Hadits ini menunjukkan bolehnya melakukan undian, terdapat beberapa ayat dan hadits yang menunjukkan kebolehan melakukan undian di dalam al-Qur’an maupun Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. (Syarh Riyadh al-Shalihin: 1/221)

 

Makassar, 24 November 2017

Abu Ukkasyah Wahyu al-Munawy

 

Baca Juga:

Fiqh Salaf Dalam Berdakwah : Jangan Lakukan Ini

Harakiyyah(pergerakan dakwah) Salahkah??

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »