alimun hakim

Alimun Hakim

May 2 • Aqidah • 1218 Views • No Comments on Alimun Hakim

Oleh : Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

Mengetahui makna dari nama-nama Allah azza wajalla merupakan satu cara untuk menguatkan keimanan kepada-Nya. Allah subhaanahu wata’ala memiliki asmaul husna, dengannya Allah menyuruh kita untuk berdoa kepada-Nya.

Diantara nama-nama Allah itu adalah al-‘Aliim dan al-Hakiim, yang biasanya Allah sebutkan secara bersamaan di dalam al-Qur’an pada akhir-akhir ayat.

Jika kita mengamati ayat-ayat tersebut, Allah azza wajalla biasanya menyebutnya dengan bentuk “كان عليما حكيما” (Kaana ‘Aliiman Hakiima), atau “والله عليم حكيم” (Wallahu ‘Aliimun Hakiim)” atau dengan bentuk yang lainnya yang semuanya menunjukkan nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang Maha Mulia, yaitu Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.

Perhatikanlah ayat-ayat di dalam Al-Qur’an. Sebelum menyebutkan dua nama-Nya ini, terlebih dahulu Allah menyebutkan keputusan-keputusan-Nya, baik berupa ujian kepada hamba-hamba-Nya berupa pembebanan ibadah atau musibah, atau penetapan hukum berdasarkan kehendak-Nya yang tidak satupun dari makhluk bisa merubahnya.

Contoh, ketika Allah subhanahu wata’aala menjelaskan tentang penetapan hukum-Nya berupa pembagian harta warisan yang adil menurut Allah walau manusia kadang menolaknya, di akhir ayat Allah berfirman:

فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Inilah ketetapan dari Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 11)

Atau ketika Allah menjelaskan bahwa Dia menetapkan kepada manusia kemampuan untuk berkehendak memilih jalannya sendiri, akan tetapi semua kehendak itu tidak akan terjadi kecuali Allah menghendakinya. Allah berfirman:

إِنَّ هَٰذِهِ تَذْكِرَةٌ ۖ فَمَن شَاءَ اتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِ سَبِيلًا [] وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Insan: 29-30)

Atau ketika Allah menetapkan nikmat dan adanya ujian dalam kehidupan, sebagaimana disebutkan dalam kisah Nabi Yusuf akan ta’bir mimpinya, yang akan menjadi seorang yang mulia, namun sebelumnya ia harus melalui ujian yang berat. Allah azza wajalla berfirman:

وَكَذَٰلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ آلِ يَعْقُوبَ كَمَا أَتَمَّهَا عَلَىٰ أَبَوَيْكَ مِن قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta’bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. Yusuf:6)

Dari sini kita mengetahui bahwa segala ketetapan Allah azza wajalla, baik berupa hukum-hukum atau segala sesuatu yang terjadi di alam ini, semua terjadi berdasarkan ilmu dan kebijaksanan-Nya.

Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Karena itu ketetapan-Nya yang ditetapkan tidak luput dari sifat-Nya yang bijaksana.

Maka dari itu, hakikatnya Allah menginginkan kita berpikiran positif pada-Nya dan tidak bersuuzhan dari ketetapan-ketetapan-Nya. Sebab Dia Maha Mengetahui yang terbaik untuk kita sedang kita tidak mengetahuinya.

Jika ada sesuatu yang kita anggap sebagai sesuatu yang buruk dari ketetapan takdir-Nya, itu hanya dari satu sisi. Tapi dari sisi yang lain, keputusan yang kita rasa buruk itu hakikatnya juga merupakan kebaikan untuk kita. Sebab tidak ada musibah yang menimpa kita kecuali dengannya Allah mengampuni dosa kita.

Banyak nikmat-nikmat Allah besar kepada hamba-Nya. Tapi diantara nikmat yang paling besar itu adalah mendapatkan ampunan-Nya. Sebab ampunan itu sudah merupakan bagian dari Rahmat-Nya, dimana tidak seorangpun dari manusia dapat masuk surga kecuali dengan mendapatkan rahmat-Nya.

Karena itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa keburukan tidak pernah dinisbatkan kepada Allah karena kebijaksanan-Nya itu.

Dia Maha Mengetahui, dan segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini tidak lepas dari kebijaksanan-Nya. Maka berbaik sangkalah pada-Nya.

Kta Knci: Alimun Hakim, Alimun Hakim, Alimun Hakim

Baca Juga >>

Azizun Hakim

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »