Allah Maha Segala-galanya?

Jun 6 • Aqidah • 2595 Views • 2 Comments on Allah Maha Segala-galanya?

Syekh Abdullah al-Haraby

Sabuah kalimat, mengandung segala unsur kebaikan. Dari kalimat ini, menjadi solusi dari segala permasalahn hidup anda. Mungkin anda sedang merasakan sedih, gundah, pelana, stress dan menghadapi masalah. Maka kalimat inilah solusinya. Hanya terdiri dari tiga kata, namun mencakup surga dan seisinya.

Tahukah kalimat apakah itu?

Allahu Akbar! Allah Maha Besar!

Setiap hari kita mendengar setidaknya 30 kali. Satu kali azan sebnyak enam kali. Dikali lima shalat waktu!

Saat memulai shalat, kita membaca allahu Akbar. Begitupun setiap pergantian gerakan shalat juga membacanya.

Orang yang akan menyembelih, Bismillah Allahu Akbar

Hendak berhaji, thowaf hingga menjelang tidur disunnahkan membaca, Subahanallah, wal hamdulillah allahu akbar

MasyaAllah! Tidak hanya itu, ketika para mujahid berjihad juga mengumandangkan takdir. Sekedar mendengar suara takbir musuh sudah takut. Bahkan mereka lebih takut akan kalimat Allahu akbar daripada senjata itu sendiri.

Rasulullah saat pertamakali penaklukan, perang khaibar beliau mengucapkan, “Allahu Akbar!”

Seperti halnya penaklukan konstantionopel sampai Romawi selalu diawali dengan Kalimat Takbir.

Saya punya teman kelas, setiap kali diabsen selalu saja ada Siswa yang bertakbir. Namun satu pertanyaan, Apa makna dari sekedar bertakbir?

Namun, apakah kalimat takbir hanya sekedar lafadz belaka? Lebih penting dari itu anda harus memaknai apa sebenarnya maksud dari takbir.

Allahu Akbar, Allah Maha Besar! Bahwa Allah adalah Maha segala-galanya. Allah-lah yang paling agung. Ketika musuh begitu kuat, ketahuilah Allah Maha Besar. Allah yang Maha Berkehendak dari segala sesuatu.

Saat azan dikumandangkan, renungi, resapi, pikirkan bahwa Allah Maha Besar dari segalanya. Allah Maha Besar dari segala kesibukan pekerjaan anda. Maka jawablah panggilan itu!

Jika saja anda punya urusan sangat penting, ketahuilah urusan menjawab panggilan Allah diatas segala-galanya. Anda harus mendahulukan urusan menyangkut Allah dari segala urusan dunia.

Ada sebuah kisah nyata dari pegunugan pasir Arab sana. Seorang Miskin, faqiir di pedalaman pasir. Dia mempunyai lima orang anak. Pekerjaan pas-pas-an. Saking sulitnya, tidak ada listrik, suhu kadang mencapai 50 derajar Celcius. Suatu hari ia berniat hendak memasang kipas angin di rumah kecilnya itu. Berharap sedikit mengurangi panasnya terik marahari.

Biaya pemasangan listrik sekitar 200 real. Maka dia-pun giat bekerja sambil mengumpulkan sejumlah tadi. Hingga akhirnya tibalah, genap 200 real. Sungguh sebuah perjalan, perjuangan panjang untuk keluarga kecilnya.

 Tibalah hari dinantikan itu, ia segera pergi mendaftar di tempat pelayanan listrik dengan uang 100 real dua lembar. Di perjalanan, ia bertemu janda yang sudah ditinggal mati suaminya dan menggendong anaknya yang masih kecil.

Janda itupun berkata “Pak, mohon bantuan anda, berilah sedikit rezky yang Allah berikan padamu kepada kami yang membutuhkan ini

Singkat cerita, ia pun menarik kantongnya mengeluarkan uang tadi. Dalam benaknya hanya memberikan 100 real, sisanya disimpan. Setiba di kantor pelayanan listrik, ia-pu nhendak membayar setengah biaya saja. Nanti sisanya dibayar belakangan.

Namun alangkah kagetnya, tidak ada sama sekali lagi uang di kantongnya. Ia tidak sadar tadi dua lembar ditarik dua-duanya dan diberikan pada janda tadi.

Ia-pun kembali kerumah dengan persaan sedih, gundah, galau. Namun apa kata istri yang sholehah setelah mendengar jeritan suaminya?

Allahu Akbar, Allahu Laa yatrukunaa, Sungguh Allah Maha Besar dan tidak akan menyia-nyiakan kita

Setelah berselang beberapa hari, ada seorang tamu datang ke rumahnya. Setelah mmepersilakan masuk ia berkata, “Maaf, 20 tahun silam saya pernah bekerja dengan Bapakmu dan meminjam padanya 2000 real. Hari ini baru saya sempat membayar utangku itu. Karena itu terimahlah segera karena buru-buru saya akan pergi ke luar kota”.

Masya Allah!

Kisah kedua seorang tahanan, daru Ahlusnnah yang ditahan dipenjara Syiah di Irak. Suatu hari tentara  agama syiah itu hendak memukulnya dan membuka pakaiannya. “Jika kamu melakukan hal itu, maka sungguh Allah akan melumpuhkan tanganmu”.

Tentara tadi tidak menghiraukan, dan segera membuka auratnya. Maka pria Ahlusunnah (Sunni) ini hanya bisa berucap, “Allahu Akbar”. Singkatnya, beberapa hari kemuadian tentara syiah tadi datang dan tangannnya sudah dalam keadaan lumpuh, tidak bisa bergerak.

 Bahwasanya kalimat singkat bermakna ini begitu dalam. Tinggal apakah kita sekedar mengucapkan, mengulang-ulangi belaka atau sudah memahami betul makna terkandung di dalamnya?

 

writer: M.Scilta Riska

 

Related Posts

2 Responses to Allah Maha Segala-galanya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »