Apakah Ajaran Islam Merendahkan Kaum Wanita ?

Jun 21 • Studi Lintas Agama • 1978 Views • No Comments on Apakah Ajaran Islam Merendahkan Kaum Wanita ?

Oleh: Saftani Muhammad Ridwan, MA.

(Ketua Forum ARIMATEA Sulawesi Selatan)

 UMAT kristiani sering mempertanyakan hal ini untuk memberi kesan bahwa ajaran Islam mengekang kaum wanita. Pertanyaan ini perlu diperjelas, apa ukuran umat kristiani mengatakan bahwa Islam merendahkan kaum wanita?. Apakah dengan melihat bahwa banyak wanita Islam di Timur tengah yang hanya tinggal di rumah, atau melihat banyak wanita dalam Islam yang mengenakan busana yang menutup semua tubuhnya.Maraknya kasus pelecehan akibat kaum wanita tidak menjaga dirinya sendiri baik dengan busananya atau perilakunya menjadi alasan mengapa ajaran Islam sangat menjaga kaum wanita. Lebih 65% umat kristiani yang memeluk agama Islam di Eropa dan Amerika adalah dari kaum wanita sebagaimana dilaporkan oleh National French Channel. Siapa sesungguhnya yang merendahkan kaum wanita dan mengapa mereka memilih Islam?.

Isu kesetaraan gender yang digaungkan oleh masyarakat Barat sebenarnya hanya cara mereka untuk merusak dan menikmati wanita yang tidak disadari oleh kebanyakan kaum wanita. Perlu dipahami bahwa filosofi Islam berkenaan dengan pria dan wanita didasarkan pada pertimbangan berikut :

  1. Prinsip kemanusiaan
  2. Prinsip jenis kelamin

Pada poin pertama laki-laki dan perempuan sederajat dan oleh sebab itu mereka memikul tanggungjawab setara dan juga menerima hak yang setara dalam semua aspek yang relevan misalnya ibadah, keimanan, akhlaq, kepemilikan, pendidikan, kebutuhan fisik dan sejenisnya. Setidaknya ini tercermin dalam beberapa ayat Al-Quran misalnya QS.9:71, QS.4:7, QS:4:2-4 dan masih banyak lagi.

Adapun pada poin kedua, kita mesti memahami bahwa tidak adil kita memperlakukan perempuan sama dengan laki-laki karena mereka memang diciptakan berbeda secara fisik dan psikologis. Karena itu Islam mempertimbangkan perbedaan tersebut dan memberi kepada kedua jenis kelamin tersebut apa yang sesuai dengan sifat mereka. Seluruh kedudukan wanita ditunjukkan dengan jelas dalam ayat “…dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan dari pada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.Al-Baqarah:228)

Derajat ini bukan merupakan pengakuan keunggulan atau pengesahan dominasi laki-laki atas perempuan. Derajat ini terkait tanggung jawab laki-laki dan memberinya semacam kompensasi bagi bebannya yang berat itu. Ini adalah pembagian kelimpahan anugrah Allah menurut kebutuhan alam yang Allah ciptakan sendiri. Hal serupa sesungguhnya terdapat dalam ajaran kekristenan. Dalam 2 Korintus 11:3 disebutkan “tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu kepala dari tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari tiap perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.”. Inimembuktikan bahwa sesungguhnya fitrah penciptaan laki-laki dan perempuan di muka bumi oleh Allah memang demikian adanya, dimana pria memiliki kelebihan khusus dari kaum wanita dalam hal tertentu.

Dalam surat Paulus yang terdapat di Perjanjian Baru 1Timotius justeru terlihat lebih menekan kaum wanita. “Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri.” (1 Timotius 2:11-12). Dalam Islam, justeru menjadi tugas mulia jika seorang wanita menjadi guru atau pendidik dan mengajarkan ilmunya. Tidak ada ajaran Islam yang melarang wanita mengajarkan ilmunya. Bahkan wanita disarankan mengamalkan ilmunya dan bekerja dalam bidang-bidang kecakapannya dalam batas-batas yang tidak merusak citra kewanitaannya serta tidak menimbulkan fitnah bagi diri dan masyarakat. Karena kebutuhan akan wanita dalam bidang pekerjaan tertentu justeru dapat menjadi wajib, misalnya menjadi guru atau tenaga medis atau dokter. Jika anda seorang suami, apakah anda lebih senang membawa istri anda yang sedang hamil kepada dokter ahli kandungan pria?, bagaimana jika istri atau putri anda terkena penyakit kelamin, apakah anda membawanya ke dokter ahli kelamin pria. Dalam kondisi seperti ini seharusnya kaum wanita didorong untuk menjadi dokter ahli kandungan atau ahli penyakit kelamin. Pikirkanlah ini.

Wanita sejak zaman dahulu justeru telah memperoleh perlakuan yang tidak setara dengan pria bahkan dijadikan warga kelas dua. Sampai abad ke-17 wanita masih dianggap sebagai jelmaan setan atau alat setan untuk menggoda manusia. Pandangan ini terpengaruh oleh konsep Kristen tentang Eva (Hawa) yang digoda oleh setan sehingga menjerumuskan Nabi Adam (Baca kisahnya dalam Kitab Kejadian:3). Kata female (wanita) berasal dari bahasa Latinfemina.Fe atau Fides atau Faith bermakna iman. Mina bermakna minus (kurang). Jadi femina bermakna seseorang yang imannya kurang. Konsekwensi dari pandangan ini menyebabkan kaum wanita di Eropa sebelum Islam lahir menerima perlakuan yang rendah termasuk menjadi budak seks hingga pembantaian seperti yang dilakukan lembaga inquisisi. Bahkan sampai saat ini wanita dalam masyarakat Eropa dan Amerika umumnya hanya menjadi pemuas nafsu kaum pria. Karena wanita sering dianggap sebagai warga kelas dua maka lahirlah gerakan pembebasan wanita. Berhubung Gereja tidak memiliki formulasi mengenai tatacara mempergauli wanita maka gerakan ini kebablasan yang akhirnya merusak kaum pria juga.

Setelah Islam lahir berkembang opini dari Barat bahwa wanita dalam Islam terkekang oleh busananya yang harus mengenakan hijab atau jilbab. Padahal Islam datang justeru melindungi kaum wanita yang dalam masyarakat Arab jahiliyah sendiri tidak memiliki arti apa-apa. Bagaimana menjelaskan ini. Pertama: apakah memang perintah berjilbab atau berkerudung secara pantas bagi wanita hanya merupakan ajaran Islam?. Silakan lihat Perjanjian Baru 2 Korintus 11:5-6, Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, berarti menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya.” Seharusnya kaum wanita kristiani mengenakan busana seperti busana para suster biara. Kedua: Jika anda ingin membeli kue di sebuah toko makanan, kue mana yang anda pilih, apakah kue yang terbungkus rapih dan bersih atau kue yang tidak terbungkus dan sudah sering dipegang oleh pelanggan lain yang mungkin tidak jadi membelinya?, sangat logis bukan, maka pikirkanlah ini.

 (lihat Gambar di depan: Sebuah ilustrasi dalam menjawab tuduhan bahwa Islam adalah agama yang merendahkan kaum wanita dengan memaksakan penggunaan jilbab dan hijab bagi kaum wanita. Manakah yang anda pilih, kue yang terbungkus atau kue yang terbuka yang mungkin telah sering dipegang oleh orang yang barangkali tidak jadi membelinya ?…)

Seorang mahasiswi non muslim dari Sacramento Amerika yang mencoba mengenakan jilbab mengatakan bahwa banyak hal yang saya suka dari jilbab. Saya menyukai kenyataan bahwa saya bisa menguasai tubuh saya sendiri dari apa yang bisa dilihat oleh orang lain. Berhijab juga cocok dengan keyakinan feminis saya, saya yakin bahwa wanita dan pria berdiri setara di tengah masyarakat, dan nilai-nilai yang memperlakukan wanita sebagai objek seks adalah bentuk ketidaksetaraan yang selama ini berkembang dalam masyarakat barat.

Sebuah hasil survey Badan Uni Eropa untuk hak fundamental yang dirilis Koran Kompas 6 Maret 2014 mengungkapkan bahwa satu dari tiga wanita di Eropa mengalami kekerasan fisik dan seksual sejak usia 15 tahun. Laporan tersebut menunjukkan bahwa kekerasan fisik, seksual dan tekanan psikologis terhadap kaum wanita adalah pelanggaran HAM yang meluas di semua negara anggota Uni Eropa. Laporan ini juga menemukan hubungan antara kebiasaan meminum alkohol yang berpengatruh terhadap kekerasan terhadap perempuan. Hal ini semakin mengindikasikan bahwa negara-negara penganut kristiani tidak memiliki solusi terhadap persoalan pelecehan terhadap kaum wanita.

Dilain pihak celaan sekelompok umat kristiani yang senantiasa mengidentikkan wanita muslimah yang bercadar sebagai wanita yang tidak merdeka dan tertindas atau apapun namanya yang berkenaan dengan kerendahan wanita. Penulis perlu memberi penjelasan bahwa ajaran Islam bersifat mencegah kemungkaran dan mengutamakan kemaslahatan bersama serta mencegah terjadinya fitnah. Sekalipun permasalahan wajibnya mengenakan cadar masih diperselisihkan oleh para ulama Islam, namun kita harus menghormati wanita yang mengenakannya untuk tujuan menjaga dirinya. Mungkin banyak orang yang merasa khususnya umat kristiani bahwa busana seperti itu terlalu mengekang atau menyusahkan penggunanya. Sebuah jawaban sederhana dapat kita kemukakan betapa wanita yang melakukan hal tersebut sangat menginginkan kemaslahatan bahkan bagi umat kristiani sendiri.

Mari kita perhatikan sebuah ayat dalam Injil Matius 5:27-30 :“Kamu telah mendengar firman: Janganlah berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta mengiginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka”.

Sulit menafsirkan ayat di atas, dan lebih sulit lagi jika ayat tersebut coba diterapkan dalam kondisi seperti sekarang ini. Sepertinya tidak akan ada umat kristiani yang mau mencungkil matanya jika melihat dosa, sementara kenyataan yang tidak dapat dipungkiri hampir setiap saat mata kita melihat dosa terutama bagi kaum pria yang memandang wanita. Jika wanita tersebut memiliki paras yang lumayan pasti tidak dapat dipungkiri sang lelaki yang memandang kemungkinan akan menginginkannya, jika tidak mengganggunya mungkin akan mengangan-angankannya. Berdasarkan ayat di atas dengan melihat wajah wanita saja kondisi tersebut sudah dapat dikategorikan berzinah, maka muslimah yang mengenakan cadar dan menutup seluruh tubuhnya serta menjaga perilakunya sesungguhnya telah menjaga dirinya dan orang lain dari segala kemungkinan fitnah terutama bagi lelaki yang zaman sekarang semakin sulit untuk menjaga matanya dari pandangan dosa, renungkanlah ini. Sesungguhnya jika kita konsisten dengan ajaran kita masing-masing tanpa melakukan perubahan pada kitab suci maka kondisi masyarakat akan lebih terjaga dari segala kemungkinan perbuatan dosa. Namun sayangnya sebagian umat Islam dan seluruh umat kristiani tidak menyadari hal ini.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »