Al-Qur'an pedoman hidup

Apakah Al-Quran Buatan Nabi Muhammad?

Feb 13 • Studi Lintas Agama • 2380 Views • No Comments on Apakah Al-Quran Buatan Nabi Muhammad?

Salah satu pertanyaan yang paling sering dilontarkan oleh umat kristiani dan misionaris mereka adalah bahwa Sesungguhnya Al-Quran itu hanyalah buatan Muhammad karena berbahasa Arab. Apa buktinya jika Al-Quran itu wahyu Allah ?

Berikut penjelasannya. Sesungguhnya AL-QURAN hanya bisa ditulis oleh satu dari tiga sumber kemungkinan :

1. Orang Arab

2. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

3. Allah Subhanahu Wata’ala

Selain sumber-sumber yang disebutkan di atas, Quran tidak mungkin telah ditulis oleh siapapun, karena Al-Quran berbahasa Arab. Sekarang mari kita analisis setiap kemungkinan tersebut untuk membuktikan keotentikan Al-Quran sebagai wahyu Allah.

Masyarakat Arab pada masa Nabi hidup adalah masyarakat yang sangat jahiliyah dan melakukan berbagai kebejatan seperti mabuk, berzinah, saling membunuh dan tidak menghargai wanita. Quran hanya dapat ditulis oleh entitas yang berbahasa Arab. Al-Quran memiliki gaya bahasa yang khas dan unik serta nilai sastra yang tinggi yang sebenarnya juga tidak tunduk sepenuhnya pada kaidah bahasa Arab. Al-Quran bukanlah produk budaya Arab karena ia bukan hasil kesinambungan dari budaya yang ada. Al-Quran justeru membawa budaya baru yang menentang budaya umum masyarakat Arab saat itu.  Beberapa ayat sangat puitis dengan akhiran kata yang sama pada satu surah yang sangat panjang yang demikian itu sulit menemukan seorang sastrawan pada masa tersebut untuk dapat membuatnya. Siapa kira-kira orang Arab yang dengan pengetahuan, gaya bahasa dan cara ekspresinya begitu kuat sehingga mempengaruhi seluruh semenanjung Arab, dunia timur dan barat, bahkan terus mempengaruhi orang di seluruh dunia sampai saat ini dan mengapa jutaan umat Islam di dunia mau menghabiskan waktunya untuk menghafal tulisan tersebut.

Mustahil ada seorang Arab yang mampu menulis berbagai fakta ilmiah yang baru terungkap di zaman ini dengan gaya sastra Arab yang tinggi. Al-Quran memiliki kata-kata yang seimbang dengan jumlah kata yang berlawanan pasti sama. Dengan tebal hampir 500 halaman, siapakah orang Arab yang mampu menulis jumlah tulisan sebanyak itu sekaligus juga mampu menghafalnya pada masa itu?. Pikirkanlah ini.

Al-Quran mengajarkan ajaran yang sangat bertentangan dengan budaya masyarakat Arab ketika itu, seperti melarang perzinahan, membatasi poligami, melarang kesewenang-wenangan, melarang membunuh dan minuman keras yang menjadi minuman favorit masyarakat Arab saat itu. Al-Quran juga memerintahkan hal-hal yang sangat bertentangan dengan budaya dan agama masyarakat Arab yang menyembah banyak dewa dan patung. Al-Quran mengangkat status wanita sementara masyarakat Arab memperlakukan wanita hampir sama dengan binatang. Siapa kira-kira orang Arab yang berani menulis sesuatu yang melawan budaya mereka dimana ia akan mengetahui resiko akan disingkirkan atau terbunuh oleh kaumnya sendiri.

Al-Quran bertentangan dengan sebagian besar kebiasaan sosial  yang sangat memanjakan orang-orang Arab mulai dari perilaku, tata cara penyembahan, hingga hal-hal detail seperti pembagian waris, hukum nikah, tatacara berbicara, pergaulan dan banyak lagi. Selama masa Nabi suci Muhammad, orang-orang Arab akan menikmati semua kebiasaan sosial mereka yang Quran justeru mengutuk dan melarangnya. Bagaimana ada orang Arab kemudian berani menulis sesuatu yang akan menghilangkan seluruh norma-norma dan ideologi masyarakat Arab.

Tidak ada seorangpun yang namanya tertulis di sampul Quran!. Tak seorang pun dalam sejarah dunia pernah mengaku telah menulis Al-Quran. Tidak ada keterangan seperti dalam Bible terdapat tulisan ”Injil Matius” atau ”The Gospel According to Matthew”. Tidak ada Al-Quran Abu Bakar atau Al-Quran Abu Hurairah. Ini adalah satu-satunya buku di dunia tanpa seorang penulis. Tidak seorang pun di dunia ini yang pernah dituduh menulis Al-Quran oleh non-Muslim, kecuali Nabi Muhammad. Dengan demikian tuduhan bahwa Al-Quran ditulis oleh orang Arab terbantahkan.

Sekarang mari kita analisis kemungkinan kedua, apakah Al-Quran ditulis oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seperti tuduhan umat Kristiani.

Hal yang paling logis untuk mengatakan bahwa bukan Nabi yang menulis Al-Quran adalah beliau seorang yang buta huruf. Bagaimana seseorang yang buta huruf mampu menulis ratusan halaman kata-kata yang sangat puitis, intelektual dan kaya inspirasi serta mampu mengguncang seluruh Arabia ketika itu dan seluruh dunia hingga kini.

Sang Nabi tidak memiliki guru yang mengajarkannya menulis. Ia pun tidak memiliki kemampuan manusiawi dan teknologi untuk mampu mengetahui bahwa di lautan ada batas pemisah antara air tawar dan air asin yang tidak saling melampaui (QS.Ar-Rahman:19-20). Ia bukan dokter yang mampu mengetahui bahwa manusia terbentuk dari sel sperma dan berproses dalam rahim (QS.Al-Mu’minun:12-15). Ia bukan ahli geologi yang mengetahui bahwa gunung berfungsi sebagai pasak (QS.An-Naba:7) dan ratusan ayat ilmiah lainnya yang telah terbukti dengan kemajuan perangkat teknologi di masa ini. Semua yang diketahuinya tentu hanya berasal dari sebuah kekuatan yang luar biasa (Allah Subhanahu Wata’ala).

Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak memiliki alasan untuk datang dengan sesuatu seperti Al-Quran yang menyebabkan seluruh masyarakat Arab ketika itu akan menjadi musuhnya karena hal yang disampaikannya menentang kebiasaan dan adat istiadat masyarakat Arab. Mengapa ia melakukan hal seperti itu?, menulis sesuatu yang melabrak semua adat masyarakat dengan ancaman kehilangan harta, keluarga, saudara, teman dan orang-orang tercinta lainnya bahkan nyawanya sendiri.

Al-Quran diturunkan selama 23 tahun. Sebuah waktu yang sangat lama yang tidak mungkin bagi seseorang untuk mempertahankan gaya bahasa yang sama persis ketika berpidato dalam bahasa Arab, seperti yang ditunjukkan dalam Al-Quran. Nama beliau sendiri hanya tertulis lima kali dalam Al-Quran sementara penyebutan nama Nabi Isa (Yesus) mencapai 25 kali. Ini karena Al-Quran adalah pemenuhan nubuatan dari Injil terhadap datangnya nabi akhir zaman yang akan membela Nabi Isa dari fitnah musuh-musuhnya. Mengapa ia tidak memasukkan nama ibunya Aminah atau mungkin istrinya Khadijah atau Aisyah dalam Al-Quran jika memang itu adalah tulisannya. Justeru nama Maryam (Mary) ibu Yesus yang sering disebut dalam Al-Quran dan menjadi nama surah tersendiri yang bahkan hal serupa tidak terdapat dalam AlKitab umat Kristiani. Mengapa sang Nabi justeru mengangkat nama wanita (Mary) yang sebenarnya dapat menjadi ”oposisi” baginya jika ia menolak mempertuhankan anaknya jika memang Yesus itu Tuhan ?.

Mengapa sang Nabi tidak menulis sebuah kata pengantar pada Al-Quran sebagai ungkapan terima kasih kepada sahabat-sahabat beliau yang telah membantu perjuangannya sebagaimana wvkita menulis hal tersebut pada karya ilmiah yang kita buat layaknya sebuah skripsi atau tesis. Bukankah ia dapat saja menulis (jika memang Al-Quran itu tulisannya), ”Saya ucapkan terima kasih kepada para sahabatku Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan yang lainnya yang tidak sempat saya sebut namanya satu persatu. Juga kepada istri-istriku dan anak-anak tercinta yang telah turut membantu perjuangan saya sehingga Al-Quran ini dapat saya selesaikan dengan sempurna dalam waktu sekitar 22 tahun”. Mengapa anda tidak menemukan pernyataan seperti ini dalam Al-Quran?. Mustahil anda menemukannya karena memang Al-Quran bukan buatan sang Nabi. Setiap pencari kebenaran mestilah memikirkan hal ini. “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya, yang diajarkan kepadanya oleh (Malaikat Jibril) yang sangat kuat,…” (QS.An-Najm:3-6).

Dengan demikian dua kemungkinan di atas yakni orang Arab dan Nabi Muhammad telah terbantahkan sebagai penulis Al-Quran. Maka tersisa satu kemungkinan siapa yang menulis Al-Quran yakni Allah Subhanahu Wata’ala.

Dalam pandangan akal manusia yang meyakini adanya Tuhan bahwa Tuhan mesti berkomunikasi dan memberitahu hambanya tentang dirinya agar manusia menyembahNya. Untuk itu Tuhan memerlukan sarana untuk menyampaikan pesanNya kepada manusia dan itulah yang dikenal dengan kitab suci. Logikanya adalah jika sudah ada kitab suci mengapa Tuhan mesti turun lagi ke bumi dalam bentuk manusia apalagi jika “Tuhan” harus menjadi roh dan menyusup masuk ke dalam hamba-hambaNya. Jika demikian seharusnya umat kristiani tidak memerlukan kitab suci. Dr. Philip Ashby dalam “The Conflict of Religion” menyebutkan  “The history of Christianity is a record of constant conflict” (Sejarah kekristenan adalah suatu catatan pertentangan terus-menerus). Selamat berpikir.

Saftani Muhammad Ridwan, MA.

(Ketua Arimatea SulSel dan Anggota Dep.Dakwah Wahdah Islamiyah Pusat)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »