silturrahmi

Bahaya Memutus Silaturrahim

Feb 6 • Muamalah • 557 Views • No Comments on Bahaya Memutus Silaturrahim

Oleh : Ir. Muh. Qasim Saguni, MA.

(Dosen STIBA Makassar)

 ikhwan fiddin khafizakumullah

Ada suatu fenomena yang kita sering kita jumpai ditengah-tengah kita. Diantaranya seorang anak yang tidak mengenal pamannya. Seorang anak yang tidak mengenal sepupunya. Bahkan,  ada seorang anak yang memutuskan hubungan silaturahim dengan orang tuanya. Baik itu dalam bentuk tidak pernah mengunjungi, tidak pernah menziarahi, tidak pernah memberikan berita dan berkomunikasi. Lebih parah sampai ada anak yang memusuhi orangtuanya. Ini adalah satu fenomena  yang tidak baru bagi ditengah kita.

Apalagi di era modern, era globalisasi, dimana setiap kita disibukkan dengan urusan-urusan dunia. Fenomena yang seperti ini, adalah satu fenomena yang tidak terpuji dalam ajaran Islam. Inilah yang disebut dengan fenomena orang-orang yang memutuskan hubungan silaturahim.

Salah satu diantara akhlak yang sangat penting didalam agama Islam ini adalah silaturahim. Bahkan beberapa ulama dalam menyusun kitab-kitab terutama di bab-bab tentang akhlak atau etika, selalu saja ada pasal dan bab tentang silaturahim. Menunjukkan begitu pentingnya kita menyambung hubungan silaturahim. Bahkan hal ini menjadi budaya di Negeri Indonesia ini, begitupun di Asia Tenggara pada umumnya.

Idul Fitri itu adalah hari silaturahim. Adanya yang disebut arus mudik, hampir setengah dari penduduk kota di Indonesia ini kembali ke kampungnya. Hal itu  dalam rangka menyambung hubungan silaturahim dengan orang tua dan kerabat-kerabat mereka.

 Makna Silaturrahmi

 Sesungguhnya makna silaturahim itu terbagi dua.

Pertama

Yaitu makna yang umum:  setiap orang memiliki hubungan keagamaan, aqidah yang sama dengan kita, aqidah Islam. Maka inilah silaturahim dalam makna umum,

Sebagimana dalam ayat disebutkan

Artinya:

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٌ۬ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡ‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ

Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara (Q.S. al-Hujurat:10)

Jadi setiap kita memiliki hubungan silaturahim, tetapi itu adalah hubungan silaturahim dalam makna umum.

Kedua

Sedangkan hubungan silaturahim dalam makna khusus, kata para Ulama (Karabatun wa nasab) Yaitu Hubungan kekerabatan. Hubungan yan terjalin karena adanya keterkaitan nasab, dari ibu, bapak, terus ke atas nenek dan kakek kita. Ada nenek dan kakek dari jalur ibu, ada nenek dan kakek dari jalur bapak. semua yang mempunyai hubungan-hubungan nasab, pertalian-pertalian nasab, apalagi mereka memiliki hak waris, yang haram dinikahi atau mahram. Itulah sesungguhnya hubungan silaturahim dalam makna khusus.

Lalu ayat-ayat yang berbicara tentang silaturahim ditujukan kepada orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan dan nasab. Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam Al-Qur’an banyak memberikan ancaman kepada orang-orang yang tidak menyambung hubungan silaturahim, kekerabatan dan hubungan nasab.

 

وَمَا يُضِلُّ بِهِۦۤ إِلَّا ٱلۡفَـٰسِقِينَ

Artinya: “Dan tidak ada orang yang disesatkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kecuali orang-orang fasik(Q.S. al-Baqarah:26)

Memutuskan Silaturrahim Adalah Ciri Orang Fasik

Pada lanjutan surah Al-Baqarah diatas (ayat 27) Allah mengurai tentang tanda-tanda orang yang fasik.

وَٱلَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهۡدَ ٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ مِيثَـٰقِهِ

Artinya: “Yaitu Orang-orang yang merusak perjanjian dengan Allah Subhanahu wata’ala setelah perjanjian itu diteguhkan(Q.S.Ar-Ra’du:25).

Sebelum kita lahir,telah ada perjanjian kita dengan Allah Subhanahu wata’ala, ketika ditanya di dalam rahim  

Apakah Allah benar-benar adalah Rabbmu (Tuhanmu)?”.

Kita semua pernah bersaksi pernah membuat perjanjian di alam rahim ibu kita. Mengakatakan (Bala syahidna) Betul, kami telah bersaksi”.

Kemudian kita lahir lagi ke dunia ini, dan membuat perjanjian dengan Allah Subhanahu wata’ala, dua kalimat syahadat. Apa artinya ikrar dua kalimat syahadat itu? Perjanjian untuk menyembah Allah saja, perjanjian untuk mempertuhankan Allah saja. Dan  tidak mempertuhankan, tidak menyembah kepada siapapun selain  Allah. Dan perjanjian dengan Allah subhanahu wata’ala untuk menjadikan Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai teladan di dalam kehidupan kita.

Yang Kedua,( ciri orang fasik yang kedua adalah orang-orang yang memutuskan sesuatu yang Allah perintahkan agar ia sambung. Itulah  hubungan kekerabatan, nasab dan hubungan sesama muslim, Kemudian mereka membuat kerusakan dimuka bumi ini, baik itu kerusakan fisik, maupun kerusakan moral. Inilah  tanggung jawab pemimpin, mulai dari keluarga, RT,  RW, kelurahan, kecamatan, sampai  ketingkat tertinggi Negara. Mereka inilah yang bertanggungjawab menjaga kemaslahatan ummat manusia.

Jika yang terjadi dan menyebar adalah kerusakan, fisik, pembunuhan terjadi dimana-mana, moral dirusak. Mereka inilah bertanggung jawab termasuk kita Jama’ah sekalian sebagai pimpinan keluarga.

Salah satu diantara ciri lain orang fasik adalah , orang-orang yang memutuskan sesuatu yang mestinya disambung. Sesuatu yang Allah Subhanahu wata’ala perintahkan untuk disambung.

Lalu bagaimana silaturahim dalam makna hubungan kekerabatan atau nasab? Setiap anak yang lahir  kemuka bumi ini, secara langsung mempunyai hubungan, ikatan, baik dari jalur ibu.  Ikatannya bisa dalam bentuk dia sebagai cucu, adik, anak, kemanakan atau sepupu. Ia lansung mempunyai hubungan, semua yang mempunyai hubungan kekerabatan.

 Inilah orang yang dimaksud di dalam ayat ini, orang yang ketika lahir secara langsung mempunyai hubungan lalu kemudian dia putuskan.

Kata kunci: memutuskan hubungan silaturahim, memutuskan hubungan silaturahim

Baca Juga >>

Keimanan Adalah Benteng

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »