Banyak Amal di Bulan Dzulhijjah

Oct 7 • Ibadah • 1411 Views • No Comments on Banyak Amal di Bulan Dzulhijjah

Dibandingkan dengan usia umat-umat terdahulu, maka umur umat Islam lebih singkat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Umur umatku (pada umumnya) berkisar antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Namun berkat karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, usia umat yang singkat itu digantikan dengan amal-amal shaleh yang berberkah. Seolah-olah yang mengamalkannya dianugerahi usia yang panjang. Di antara contohnya adalah malam Lailatul Qadr, firman Allah ta’ala (artinya), “Malam Lailatul Qadr lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3). Saat ini, kita masih berada pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Ternyata, bulan ini merupakan salah satu waktu yang Allah telah tetapkan sebagai musim untuk beramal shaleh. Apa saja keutamaannya?

1. Allah ta’ala bersumpah dengannya

Demi fajar dan malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr: 1-2). Sebagian besar ahli tafsir menafsirkan bahwa makna malam yang sepuluh adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Dan sumpah Allah ta’ala atas waktu tersebut menunjukkan keagungan dan keutamaannya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4: 535 dan Zaadul Maad 1: 56).

2. Al Ayyâm al ma’lûmât yang Allah ta’ala perintahkan untuk banyak berzikir padanya

 “Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada al ayyam al ma’lumat (hari yang telah ditentukan) atas rezki yang telah Allah berikan kepada mereka berupa bintang ternak.” (QS. Al Hajj: 28).

Mayoritas ulama tafsir, di antaranya Ibnu Abbas dan Ibnu Umar menafsirkan bahwa al Ayyâm al ma’lûmât (hari yang ditentukan) maksudnya adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

3. Hari-hari dunia yang paling utama

 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hari-hari dunia yang paling utama adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah…” (HR. Al Bazzar dan Ibnu Hibban serta dinilai shahih oleh Al Albani).

4. Paling utama untuk beramal shaleh

 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada hari-hari yang di dalamnya amalan paling dicintai oleh Allah kecuali hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah amal-amal shalih pada hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah dari pada jihad fii sabilillah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Ya, kecuali seseorang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak kembali dari jihad tersebut dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari).

Demikian pula sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Tidak ada hari-hari yang lebih agung dan amal shaleh yang lebih dicintai oleh Allah padanya, melebihi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka perbanyaklah pada hari itu tahlil ( لا إله إلا الله ), takbir ( الله

أكبر ), dan tahmid ( الحمد لله ).” (HR. Ahmad)

5. Hari Arafah dan hari raya Kurban

Kedua hari ini adalah hari yang termulia dalam setahun; hari Arafah adalah hari

pengampunan dosa-dosa dan pembebasan dari api neraka. Keutamaan hari raya Qurban disebutkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Hari yang paling afdhal/utama (dalam setahun) adalah hari raya Kurban (10 Dzulhijjah).” (HR. Ibnu Hibban, shahih). Seandainya tidak ada keutamaan hari-hari tersebut kecuali keberadaan hari Arafah dan hari raya Qurban padanya, maka sudah sangat cukup untuk menunjukkan keutamaannya.

6. Berkumpulnya ibadah-ibadah yang inti dan pokok

Al Hafizh Ibnu Hajar—rahimahullah—berkata, “Nampaknya, sebab keistimewaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah karena berkumpul padanya ibadah-ibadah yang pokok yaitu shalat, puasa, sedekah dan haji. Dan hal ini tidak terdapat pada hari-hari yang lain.”

7. Siangnya lebih afdhal dari 10 terakhir Ramadhan

Jika seseorang bertanya, ”Yang manakah yang lebih afdhal, sepuluh terakhir di bulan Ramadhan ataukah sepuluh awal bulan Dzulhijjah?” Imam Ibnul Qayyim—rahimahullah—berkata, “Jika dilihat pada waktu malamnya, maka sepuluh terakhir bulan Ramadhan lebih utama dan jika dilihat waktu siangnya, maka sepuluh awal bulan Dzulhijjah lebih utama.” (Lihat Zaadul Ma’ad 1:57).

Amalan yang Disyariatkan pada Hari-hari Tersebut

1. Melaksanakan ibadah haji dan umrah.

Kedua ibadah inilah yang paling utama dilaksanakan pada hari-hari tersebut, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Umrah yang satu ke

umrah yang lainnya merupakan kaffarat (penghapus dosa-dosa) di antara keduanya. Sedangkan haji mabrur, tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Berpuasa pada hari-hari tersebut atau beberapa hari di antaranya (sesuai kesanggupan) terutama pada hari Arafah (9 Dzulhijjah).

Tidak diragukan lagi bahwa ibadah puasa merupakan salah satu amalan yang paling afdhal dan salah satu amalan yang dilebihkan oleh Allah ta’ala dari amalan-amalan shaleh lainnya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka (karena puasanya) sejauh 70 tahun perjalanan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Khusus tentang puasa Arafah, diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Berpusa di hari Arafah (9 Dzulhijjah) menghapuskan dosa tahun lalu dan dosa tahun yang akan datang.”

3. Memperbanyak takbir dan dzikir pada hari-hari tersebut

“…Supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan..” (QS. Al Hajj: 28). Ibnu Umar dan Abu Hurairah  ketika menuju pasar pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah bertakbir, maka orang-orang pun ikut berakbir sebagaimana takbir mereka berdua.” (R. Bukhari).

Ishaq bin Rahawaih—rahimahullah—meriwayatkan dari para ahli fiqh dari kalangan tabi‟in bahwa mereka—

rahimahumullah—mengucapkan pada hari-hari tersebut,

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ

أَكْبَرُ وَِللهِ الْحَمِدُ

Disunnahkan mengangkat suara saat bertakbir, baik ketika di pasar, rumah, jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya. Allah ta’ala berfirman (artinya), “Dan hendaklah kalian mengagungkan Allah (dengan bertakbir kepada-Nya) atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 185). Namun perlu diperhatikan bahwa sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bertakbir adalah dilakukan secara sendiri, tidak secara berjamaah yaitu berkumpul lalu bertakbir secara serempak. Karenanya, hal tersebut tidak pernah dikerjakan oleh para ulama salaf.

4. Memperbanyak amalan-amalan shaleh berupa ibadah-ibadah sunnah seperti shalat, membaca al Qur‟an, amar ma‟ruf nahi munkar dan yang semacamnya.

Karena amalan tersebut akan dilipatgandakan pahalanya jika dilakukan pada hari-hari tersebut, hingga ibadah yang kecil pun jika dilakukan pada hari-hari tersebut akan lebih utama dan lebih dicintai oleh Allah ta’ala dari pada ibadah yang besar yang dilakukan pada waktu yang lain.

5. Disyariatkan pada hari-hari tersebut bertakbir di setiap waktu, siang maupun malam, terutama ketika selesai shalat berjamaah di masjid Takbir ini dimulai sejak Shubuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji, sedangkan bagi jamaah haji maka dimulai sejak Zhuhur hari penyembelihan (10 Dzulhijjah). Adapun akhir dari waktu bertakbir adalah pada hari terakhir dari hari-hari Tasyrik (13 Dzulhijjah).

6. Menyembelih hewan kurban (udhhiyah) bagi yang mampu pada hari raya Qurban (10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyrik (11-13 Dzulhijjah). Hal ini merupakan sunnah Nabi Ibrahim  ketika Allah ta’ala mengganti anak beliau dengan seekor sembelihan yang besar. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan dua domba jantan yang keduanya berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk, beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri sambil membaca basmalah dan bertakbir.

7. Melaksanakan shalat „Ied berjama‟ah sekaligus mendengarkan khutbah dan mengambil manfaat darinya, yaitu sebagai hari kesyukuran dan untuk mengamalkan kebaikan serta menjauhi segala bentuk kemaksiatan.

8. Taubat nashuhah

Menyambut musim-musim amal ini, sejatinya seorang muslim memperbanyak istighfar dan taubat. Bukankah seseorang itu diharamkan dari memperoleh kebaikan dunia dan akhirat karena dosa-dosanya? Allah ta’ala berfirman, artinya, “Dan musibah apa saja yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy-Syura: 30).

Sebagaimana racun yang menggerogoti tubuh sehingga harus dikeluarkan dari badan, maka demikian halnya dengan dosa. Dosa berdampak buruk terhadap hati. Sebuah maksiat yang dibiarkan, akan mengundang kedatangan maksiat-maksiat berikutnya, hingga akan sulit bagi pelakunya untuk meninggalkannya.

Maka marilah kita bersegera meninggalkan dosa dan maksiat dengan taubat nasuhah. Lewati hari-hari mulia ini dengan menjauhkan diri dari maksiat dan dosa. Perbanyak istighfar. Basahi lisan-lisan kita dengan zikir kepada Allah , karena tak seorang pun tahu kapan maut akan menjemputnya dan membawanya pergi meninggalkan dunia ini. Wallahu A’lam…

stibamks.net/rumahtarbiyah.com

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »