kerusakan moral

Bencana Sosial Akibat Menuhankan Materi

Mar 16 • Ibadah, Muamalah, Tarbiyah • 224 Views • No Comments on Bencana Sosial Akibat Menuhankan Materi

Manusia adalah khalifah(pemimpin) di Bumi ini, baik dan buruknya kehidupan di bumi itu ditentukan oleh manusia. Zaman telah berganti kerusakan  terjadi dimana-mana, bukan hanya bencana alam tapi juga moral.

Allah shubhana wata’ala Berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya : “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Ar-Rûm [30]:41)

 

kerusakan di darat dan di lautan adalah akibat dari apa yang telah  dilakukan Manusia. Mudah-mudahan mereka mau kembali setelah melihat tanda-tanda kerusakan tersebut. Tanda-tanda kerusakan yang kita lihat ditengah masyarakat kita saat ini, adalah sesuatu yang sangat nyata dan tidak bisa kita tutupi.

Setiap saat kita mendengar bencana dan musibah, yang berkaitan dengan alam semesta. Tapi, bencana yang tak kalah lebih besar adalah bencana kehidupan sosial yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari seperti  ketidakamanan, ketidakamanahan, ketidakjujuran, dan berbagai macam ketimpangan dan kepincangan dalam kehidupan sosial.

Timbangan kebaikan seakan-akan sudah tidak lagi diperhitungkan oleh umat manusia/ masyarakat saat ini. Hal yang sifatnya sebagai kebaikan, justru dipandang oleh mayoritas orang sebagai hal yang tidak baik. contohnya tindakan korupsi, walaupun banyak dikecam dan ditolak oleh masyarakat, tetapi hampir setiap saat kita juga mendengar kasus tersebut diberitakan, bahkan para penegak hukum sekalipun juga ikut terlibat.

Ini adalah ketimpangan, ini adalah kepincangan dalam kehidupan sosial, yang dampak dan akibatnya adalah kembali kepada kita semua. Masyarakat saat ini mengeluh, dengan berbagai macam persoalan dan problem, lapangan pekerjaan yang tidak tersedia, sehingga mengakibatkan begitu banyak orang-orang pencari kerja, menjadi pengangguran dan tingginya tingkat pengangguran tentu akan mengakibatkan dan berimbas langsung juga kepada tingginya tingkat kriminalitas. Tidak sedikit orang yang menjadi penjahat, atau menjadi pekerja dari perbuatan-perbuatan yang tidak terhormat, hanya karena tuntutan ekonomi dalam kehidupan mereka.

[Baca Juga : Al-Qur’an Memperbaiki Moral Masyarakat]

Mereka ingin bekerja, tetapi mereka tidak mendapatkan lapangan pekerjaan, minimal menurut pengakuan mereka sendiri. Demikian juga dengan hal-hal lain, tingginya tingkat harga dari barang-barang yang dibutuhkan oleh masyarakat. Jika ini diakumulasi maka akan membuat diri sendiri menjadi gelisah, menjadi resah melihat keadaan apa yang kita rasakan saat ini.

Dahulu Rasulullah merasakan keadaan sosial seperti itu, masyarakat merasakan keresahan, merasakan kegundahan, merasakan kegelisahan, dan beliau melihat kenyataan sosial yang ada ditengah masyarakatnya. Perbuatan perzinahan, penindasan, perbuatan riba dimana-mana. Lebih dari itu, perbuatan kesyirikan adalah yang utama, orang tidak lagi menghargai dan menghormati serta mengagungkan Allah subhanahu wata’ala. Justru mereka menjadikan selain Allah sebagai sembahan, mereka menyembah berhala, berhala itu adalah hasil produksi tangan mereka sendiri, mereka yang memahat batu ataupun kayu menjadi patung setelah itu mereka pun  menyembah nya.

Sebelumnya mereka sematkan dalam diri berhala patung-patung mereka itu sifat-sifat Ketuhanan. Namun,  di zaman sekarang ini tak sedikit orang yang berbuat demikian, orang-orang menuhankan harta benda, menuhankan pekerjaan, bahkan menuhankan profesi yang ia geluti. Rasulullahi shallallahu’alahi wasallam didalam hadits mengatakan,

Celaka, merugilah kata Nabi orang yang menjadi budak harta, orang yang menjadi budak-budak uang dinar uang emas, orang yang menjadi budak uang perak, orang yang menjadi budak dari kain yang mereka perjual-belikan di pasar”

Kata Nabi, sungguh kecelakaan dan celakalah atasnya. Mengapa? Karena Orang yang berbuat demikian telah menuhankan harta bendanya. Ketika bahagia dan sedihnya diukur dari harta bendanya, jika hartanya bertambah maka ia gembira, jika hartanya berkurang maka ia sangat sedih. Mungkin secara prinsip hal seperti itu normal, tetapi jika ia berlebih-lebihan maka jadilah ia sebagai budak dari harta benda itu.

Harta itulah yang mengatur kehidupannya, dia bangun dan tidur adalah karena perintah dari harta bendanya. Ia tersenyum dan menangis adalah karena tuntutan dari harta bendanya. Ia pergi dan tinggal adalah karena keinginan dari harta bendanya.

Dan demikianlah dalam kehidupan sehari-harinya, akibatnya kehidupannya menjadi timpang, kehidupannya menjadi pincang, segala ukurannya atau segala sesuatu bagi dia diukur dari harta benda (materi). Orang yang berbuat kebajikan karena ingin mendapatkan harta benda, dan seperti itulah ciri dari masyarakat yang menuhankan berbagai bentuk macam materi dan harta benda.

[transkip khutbah jum’at by Red. Rumah tarbiyah]

[Baca Juga : Akibat Menyalahi Petunjuk]

 

(kat. kunci : harta dalam islamharta dalam islamharta dalam islam)

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »