Bersikap Ta’awun Dalam Dakwah

Feb 17 • Muamalah • 347 Views • No Comments on Bersikap Ta’awun Dalam Dakwah

Bersyukurlah jika hari ini kita sudah tidak lagi ragu, atau dihantui oleh bayangan “organisasi itu bid’ah” (ada yang mengatakan : Organisasi itu bid’ah karena menyebabkan hizbiyah  seharusnya kalau alasan seperti, itu bukan hanya organisasi yang bid’ah karena menyebabkan hizbiyah. Wah, seharusnya kalau alasannya seperti itu, bukan hanya organisasi yang (dapat menyebabkan) bid’ah. Majelis ta’lim pun kalau menyebabkan murid- murid Anda memandang hanya anda yang seorang yang benar, maka Majelis ta’lim itu sudah menjelma menjadi sebuah hizbiyah baru, bagaimana..?)

 

Hari ini adalah Saatnya untuk beramal dan bekerja untuk agama Allah, dalam sebuah kesatupaduan kekuatan dan potensi, keberaturan langkah dan gerak, keefektifan rencana dan program, dan kejelasan visi dan misi. Jika kekuatan yang bathil dapat meraih kesuksesan dengan mengefektifkan dan mengoptimalkan organisasi mereka, apakah ahlussunnah justru harus bergerak amburadul dan tidak terorganisir supaya bisa sukses? Jika “organisasi dakwah” yang efektif dan optimal itu bid’ah, maka apakah itu berarti “tidak berorganisasi” atau “organisasi yang tidak efektif dan optimal” itu yang sesuai sunnah?

 

Padahal tidak demikian adanya. Ini adalah sebuah sunnatullah. Ketentuan Allah yang bersifat kauniyah, bahkan Syar’iyyah. Bahwa siapapun yang dapat menyusun rencana dengan baik, lalu mengatur pelaksanaan rencana itu secara optimal, menentukan tujuan dan cita-citanya, kemudian bekerja keras untuk itu, maka ia akan meraihnya. Sekali lagi, karena sunnatullah keberhasilan memang seperti itu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah menukil dan mengatakan: “Allah akan menegakkan sebuah negeri yang adil meskipun ia kafir, dan meruntuhkan sebuah negeri yang adil meskipun ia muslim”

Jadi persoalannya adalah bahwa setiap keberhasilan itu harus melewati sunah-sunah Allah, yang telah ditetapkan oleh Nya.  Dan mengikuti manhaj salaf itu bukan sekedar mematuhi sunnatullah yang bersifat syar’i (baca : nash Al-Quran dan As-Sunnah),  namun juga sunnatullah yang bersifat kauniyah.

 

Dalam AL-Quran sudah demikian jelas:

 

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

 

Wa ta’awanu ‘alal al-birri wa al-taqwa

 Artinya:  “Dan tolong menolonglah kalian atas kebaikan dan ketakwaan”

 

[Baca Pula : Salafy Haraki, Salahkah? ]

Kebaikan dan ketakwaan apa yang dapat menyamai dakwah, yang dalam ayat lain disebut sebagai ahsanu al-qaul ? tapi pertanyaan pentingnya adalah : Bagaimana wujud ta’awun yang disebutkan dalam ayat tersebut? Sudah pasti Allah menghendaki sebuah bentuk ta’awun yang optimal dan maksimal. Jika demikian, tidak cukup sekedar membuat kesepakatan dengan sebuah masjid untuk mengisi pengajian atau khutbah Ju’mat. Tidak cukup (hanya) mengumpulkan sekian ribu orang dalam sebuah pengajian. Lalu bagaimana mewujudkan ta’awun yang optimal ? pikirkanlah sendiri.

 

Yang pasti, kaum Zionis Yahudi perlahan-lahan mencapai kesuksesannya dengan sebuah tata organisasi yang sangat rapi. Kalau Anda pernah membaca kajian-kajian tentang Knight Templar atau Kesatria biara. anda insya Allah akan geleng-geleng kepala dibuatnya. Ini adalah sebuah organisasi rahasia Zionis yang berhasil menyusup ke berbagai lapisan dunia, termasuk ke organisasi gereja dan beberapa negara besar. Beberapa peran besar dunia; dari Perang Salib hingga perang dunia ke-2; diduga merupakan hasil konspirasi mereka.

 

Yang pasti pula, gerakan-gerakan Kristianisasi mencapai keberhasilan cukup signifikan di berbagai negara muslim, juga dengan tata organisasi yang kuat dan rapi.

 

Kaum syiah rafidhah di Indonesia (tentu juga di seluruh dunia) perlahan-lahan mulai mulai meraih legitimasi, juga karena mereka menata gerakannya sedemikian rupa.

 

Lalu bagaimana dengan Ahlussunnah? Bagaimana dengan para pengusung manhaj salaf yang lebih dikenal dengan salafiyyun? Insya Allah, anda sudah cukup fasih menjelaskannya. Yah, Mengapa kita begitu sulit berta’awun untuk menyemaikan dakwah al-haq di bumi Indonesia ini? Mengapa semakin berilmu kita, semakin besar pula perpecahan diantara sesama Ahlussunnah? atau jangan-jangan kita telah menjelma menjadi Ahlul al Ahwa’?

 

[lihat Majalah Al Bashirah, edisi 03 tahun II 1428 H, Hal: 18-20; Oleh Ustadz DR. Muhammad Ihsan Zainuddin, M.Si ]

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »