mencari rezki

Berusahalah

Dec 5 • Ibadah • 682 Views • No Comments on Berusahalah

Ni’mat adalah segala sesuatu yang diberikan oleh Allah kepada manusia, baik yang nampak maupun yang tidak nampak, termasuk rezeki. Rezeki adalah segala sesuatu yg dipakai untuk memelihara kehidupan (yg diberikan oleh Allah); baik berupa makanan (sehari-hari), nafkah, pendapatan (uang dan sebagainya untuk memelihara kehidupan). Setiap orang memiliki keuntungan masing- masing, selama  nyawanya (umur) belum berakhir,  maka selama itu pula Allah menjamin rezekinya.

Bukan hanya manusia, tetapi seluruh makhluk melata yang diciptakan Allah, juga dijamin rezekinya. Perhatikanlah burung yang tidak mempunyai sawah dan lumbung padi, namun ia keluar dipagi hari dan pulang dengan tembolok yang besar. Cecak binatang merayap, tetapi ia memiliki rezeki berupa hewan yang terbang. Laba-laba hanya mampu membuat sarang sebagai perangkap rezekinya, walau tak mampu terbang, kebanyakan makanannya adalah hewan yang terbang. Semuanya mencari rezki sesuai kemampuannya. Begitulah ke Maha besaran Allah yang memberikan rezeki kepada segenap makhluknya.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata”(QS. Hud : 6).

Apatah lagi manusia yang memiliki begitu banyak potensi dan kemampuan, maka lapangan rezekinya demikian besar. Meski demikian, jatah rezki itu tidak serta-serta mendatangi makhluk tersebut tanpa ada upaya untuk meraihnya. Maka berupaya untuk mendapatkan jatah penghidupannya menjadi suatu keniscayaan. Perlu ada upaya dan sebab meraih bagian itu. Jika ingin mendapatkan ikan, perlu menebar jala atau memasang kail.

Dalam Islam, kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari sejumlah ibadah yang dipersembahkan kepada Allah. Seberapa hitam tanda dikeningnya karena lama dan seringnya bersujud. Dan seberapa lama ia berdiam di pojok masjid dengan tasbih yang dimainkan oleh jemarinya dan mulut yang tak henti-henti menggumamkan kalimat-kalimat pujian kepada Sang Pencipta. Seseorang berupaya mendapatkan jatah rezki itu termasuk perbuatan mulia. Semakin berat seseorang berupaya, semakin mulia dia dan semakin disukai Allah. Yang paling penting dalam hal ini adalah proses mendapatkannya. Sebaliknya, bermalas-malasan dalam mengotimalkan potensi demi mendapatkan karunia Allah tersebut adalah perbuatan hina dan tidak disukai Allah.

Keutamaan Orang Yang Berusaha

Berusaha untuk mencari rezki yang halal adalah kemuliaan. Berusaha adalah langkah pertama yang harus dijadikan pijakan seorang muslim dalam meraih sejuta impian dan harapan, tanpa unsur “usaha” jangan berharap orang akan bisa mewujudkan keinginannnya. Rasulullah Shalallallhu alaihi wa sallam sebagai suri teladan telah memberi contoh konkrit dalam hal ini, yaitu dengan terjun berbisnis sebagai upaya memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Qs. ar Ra’d : 11)

Artinya, Allah shubhana wa ta’ala tidak akan merubah keadaan kita selama kita tidak berusaha merubah sebab-sebab kemunduran. Kalaupun terjadi “kesuksesan” tanpa dilalui dengan proses usaha, maka hal itu termasuk dalam katagori anugerah khusus dari Allah, bagaimanapun jika Allah Shubhana wa ta’ala berkehendak maka tidak ada sesuatu pun yang bisa menghalangi.

Al-Qur’an dan hadits Nabi banyak menyampaikan anjuran bahkan pujian bagi orang yang berusaha mendapatkan rezki.

Allah berfirman : “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Al-Jum’ah: 10).

 Jika seseorang dapat menghidupi dirinya sendiri dan tanpa menggantungkannya kepada orang lain. Apatah lagi melalui usahanya banyak orang bergantung kepadanya. sabda Rasulullah Shalallhu alaihi wa sallam

عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ الْمِقْدَامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

Khalid bin Ma’dan meriwayatkan dari Miqdam ra. dan dari Rasulullah Shalallhu alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Tidak ada seorang yang memakan makanan yang lebih baik daripada seseorang yang makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan nabi Dawud as. makan dari hasil kerja tangannya.” (HR Imam Al-Bukhari).

“Sekiranya salah seorang di antara kalian mengambil talinya lalu berangkat (perawi: saya kira beliau mengatakan) ke gunung kemudian mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya dan memakan (dari hasilnya) serta menyedekahkannya, itu lebih baik daripada ia meminta-minta orang.” (Bukhari).

Namun, peran manusia dalam masalah rezki hanya sebatas berusaha dan mengoptimalkan potensi yang Allah berikan kepadanya. Menggerakkan semua kemampaun dan menjadikan pengalaman sebagai bekal untuk menghadai liku-liku di dunia usahanya. Menyusun strategi yang baik dan menutupi berbagai kekurangan yang mungkin menjadi kendala. Juga mengevaluasi kinerja yang mungkin menjadi penyebab kegagalan.

Hasil dari usahanya tidak dapat dipastikan dengan kalkulasi manusiawinya. Itu merupakan hak prerogatif Allah yang memberikan jatah kepada masing-masing hamba. Dan selalu ada hikmah dibalik setiap kuantitas jatah itu. Hal ini sangat terkait dengan kedudukan harta benda sebagai ujian. Diberikan dan ditahannya harta kepada seseorang pasti demi kebaikan hamba tersebut. Barangkali seseorang, karena ketidak-tauhannya, mengira bahwa dirinya layak mendapatkan jatah lebih dari orang lain. Namun Allah yang lebih tahu tentang hamba-Nya lebih tahu pula seberapa banyak jatah yang dibutuhkan masing-masing hamba. Mencari rezki yang halal itsulah yang terbaik.

Baca Juga >>

Investasi Masa Depan

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »