kelompok islam

Bolehnya Memberikan Nama Pada Kelompok Pengajian

Sep 25 • Muamalah, Tarbiyah • 100 Views • No Comments on Bolehnya Memberikan Nama Pada Kelompok Pengajian

Oleh: Abu Ukkasyah Muhammad Ode Wahyu al-Munawy

Hizbiyah, inilah salah satu kata yang sering diperbincangkan oleh para penuntut ilmu zaman ini. Nampaknya ia adalah kata yang cukup ‘panas’, hingga banyak yang berselisih  saat membicarakannya.  Sayangnya, kebanyakan dari merekapun tidak memahami arti hizbiyah itu sendiri, atau mungkin memahaminya dengan pemahaman yang salah. Oleh karena kesalahan pemahaman itu, semua nama kelompok Islam dianggap hizbiyyah oleh mereka.

Adalah Muhajirn dan Anshar, adalah dua nama kelompok Islam pertama yang ada dalam tubuh kaum Muslimin. Yang memberi nama ini juga adalah Allah Azza wajalla. Mereka adalah dua kelompok mulia ahlussunnah wal jama’ah tanpa ada yang menyelsihi kesunnahan mereka.

Beranjak dari dua nama kelompok ini, Syaikh Shalih bin Abdil Aziz bin Muhammad Alu Syaikh hafizahullah berkata:

فهذا يدل على أن الأسماء التي في التعريف يجوز شرط ألا يتعصب لها من دون اسم الإسلام والإيمان فإحداث الأسماء في الإسلام غير اسم المسلم والمؤمن جائز بشرط ألا يتعصب له لأن التعصب للأسماء من الجاهلية

“Hal ini menunjukkan bahwa nama-nama kelompok sebagai bentuk pengenalan hukumnya boleh, dengan syarat tidak fanatik padanya selain pada nama islam dan iman. Olehnya, membuat nama-nama baru (pada kelompok-pent) di dalam Islam selain nama Muslim dan Mukmin, adalah sesuatu yang dibolehkan dengan syarat tidak fanatik padanya. Sebab perbuatan fanatik pada nama-nama itu merupakan perbuatan jahiliyah”. (Lihat: Al-Laaliu al-Bahiyah Syarh Akidah al-Wasithiyah: 2/430)

Demikianlah yaang terjadi pada kelompok Muhajirin dan Anshar. Saat kefanatikan tidak tumbuh dalam diri mereka, maka kemulian adalah milik mereka. Namun, ketika kefanatikan telah merasuki dada-dada mereka, mereka bertengkar dan masing-masing membanggakan dan mengunggulkan nama kelompoknya, Nabi yang mulia pun bersabda:

مَا بَالُ دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ

“Perkara apakah yang menjadikan panggilan orang-orang Jahiliah ini?”. (HR. Bukhari)

Syaikh Shalih bin Abdil Aziz bin Muhammad Alu Syaikh hafizahullah berkata: “Jika dua nama syar’i ini –Muhajirin dan Anshar- berubah menjadi  satu jenis kejahiliyaan ketika kedua kelompok ini fanatik padanya, sementara Allah yang memberi nama itu, maka memberi nama dengan nama selain nama ini jika ada kefanatikan terhadapnya maka lebih utama lagi untuk dikatakan sebagai perkara jahiliyah. Jadi, jelaslah perkara ini. Oleh karenanya kami katakan, sesungguhnya penamaan-penamaan baru yang amat banyak jenisnya pada umat ini, baik itu berdasarkan nasab, kabilah, negri, jenis, mazhab dan thariqah, maka hukumnya dapat dikelompokkan berdasarkan 3 keadaan. Ada yang terpuji, tercela dan mubah”. (Lihat: Al-Laaliu al-Bahiyah Syarh Akidah al-Wasithiyah: 2/432-433)

Intinya, jika nama- nama kelompok Islam itu hanyalah suatu nama biasa, sebagai bentuk pengenalan terhadap suatu lembaga yang bersifat pengaturan amalan atau kerja tanpa membangun suka dan benci (al-Walaa wal-Bara) karenanya , maka hal itu diperbolehkan. Syaikh Shalih bin Abdil Aziz bin Muhammad Alu Syaikh hafizahullah ketika menyifati organisasi/lembaga yang mubah, beliau berkata:

جماعات تحفيظ القرآن الكريم في هذه البلاد المباركة موجودة باسم الجماعة ولا تشتمل على موالاة لمن فيها ومعادة على من ليس فيها وذلك أن الأسم للتعريف ليس إلا ولتنظيم العمل وهذا أمر سائغ لأن الله أذن بالأسماء خلاف اسم المسلمين والمؤمنين

“Organisasi-organisasi pengahafal al-Qur’an di negri yang berberkah ini berbentuk jama’ah (kelompok). Namun tidak menjadi standar cinta untuk orang-orang yang berada di dalamnya dan tidak pula menjadi standar musuh terhadap orang-orang yang tidak berada di dalamnya. Sebab penamaan ini hanyalah untuk pengenalan dan sebagai pengaturan amal/kerja. Perkara seperti ini dibolehkan, sebab Allah membolehkan nama-nama lain selain nama islam dan mukmin” (Lihat: Al-Laaliu al-Bahiyah Syarh Akidah al-Wasithiyah: 2/432-433)

Syaikh Ibnu Baz rahimhuallah berkata: “Intinya, yang menjadi dhabith (prinsip dasar) adalah selama mereka (kelompok-kelompok islam) berada di atas kebenaran. Maka apabila seorang muslim atau jama’ah mengajak pada kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengajak pada tauhidullah, serta mengikuti syariatnya maka mereka adalah al-Firqatu an-Najiyah”. (Lihat: Majalah al-Ishlah, Adad :241)

[Lihat Pula: Salafi Haraki bolehkah??]

Namun, jika nama suatu kelompok atau komunitas dijadikan sebagai standar untuk memusuhi orang lain, kelompok lain, menyerang mereka, mencela mereka, sementara mereka semua mengagungkan al-Qur’an dan as-Sunnah, mengagungkan para salaf, mengagungkan para pengusung dakwah ahlussunnah, dan mereka hanya berbeda dalam masalah kontemporer yang tidak ada dalil padanya, baik dari al-Qur’an dan Sunnah ataupun Ijma’ ulama terhadapnya, maka ini adalah unsur kejahiliyahan yang tercela. Apapun nama kelompok dan komunitasnya, baik itu salafy, tabligihi atau lainnya.

Oleh karena itu, hendaklah kaum Muslimin “tidak tertipu” oleh sebuah klaim nama. Sebab apapun namanya jika hanya dijadikan sebagai bentuk untuk menyerang saudaranya maka dia adalah sesuatu yang terlarang.

Syaikh Muhammad Bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Adapun kelakuan orang-orang jahil yang mendatangi seorang ulama karena menganggap pendapatnya menyelisihi apa yang mereka katakan, mereka mendatanginya dengan sangat kasar bahkan mungkin menunjuk wajah ulama itu dan berkata padanya, “Pendapat macam apa pendapat bid’ah yang engkau buat ini, duhai ini adalah perkataan mungkar, apakah engkau tidak takut kepada Allah?”. Namun setelah direnungi, ternyata ulama itu sesuai dengan hadits dan merekalah yang menyelisihinya, kebanyakan yang terjadi pada mereka, karena ketakjuban diri mereka pada diri mereka sendiri. Mereka mengira diri mereka sebagai ahlussunnah dan berada di atas manhaj salaf, padahal merekalah yang paling jauh dari mahaj salaf itu”. (Syarh Arbain An-Nawawi: 147-148)

Benarlah apa yang dikatakan oleh syaikh al-Utsaimin rahimahullah. Hari ini banyak orang yang tertipu oleh diri mereka sendiri karena ketakjuban yang tersembunyi pada diri mereka. Ketika mereka mulai pandai membuka kitab-kitab ulama dan mulai mampu menguatkan suatu pendapat yang tidak ada dalil sharih atupun ijma’ ulama terhadapnya, maka mereka akan menyesatkan orang lain pada perkara itu. Jadilah kaum muslimin saling bertengkar atas nama komunitas masing-masing dan karena mempertahakan guru masing-masing. Mereka menganggap bahwa perkataan mereka atau perkataan guru mereka merupakan hukum islam yang tidak boleh diselisihi. Padahal ini adalah sesuatu yang salah.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata: “Maka perhatikanlah bagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membedakan antara hukum Allah dan hukum seorang mujtahid. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang penyebutan pendapat ulama/mujtahid sebagai hukum Allah”. (Lihat: I’lam Muwaqqi’in: 40)

Jika diperhatikan menurut pendapat syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, maka kelakuan orang-orang yang ingin agar manusia mengikuti komunitas mereka 100% justru itulah hizbiyah yang sebenarnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Jika ada seseorang yang berkata, apa makna hizbiyah, apakah organisasi-organisasi amal kebaikan juga merupakan bagian dari hizbiyah?. Jawabannya, hizbiyah itu adalah sesuatu yang jelas. Engkau mendapati orang-orang berhizbiyah itu tidak akan menerima kecuali mengkuti mereka 100%. Jika ada orang-orang yang mengikuti mereka, mereka akan beramal bersama mereka. Adapun orgnaisasi-orgnisasi amal kebaikan, maka itu tidak mengapa dan tidak masuk dalam pembahasan ini” (Lihat Hilyatu Thalibil Ilm: 331)

Semoga Allah menjauhkan kita semua dari sifat jahiliyah. Aamiin.

[dikutip dari Ustad Muh. Ode Wahyu , Judul Asli: Ketika Sebutan Muhajirin Dan Ansharpun Menjadi Terlarang]

 Baca Juga : Siapakah Salafy??

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »