menepati janji

Bukan Sembarang Janji

Nov 19 • Muamalah • 1100 Views • No Comments on Bukan Sembarang Janji

Oleh: Ustadz Askaryaman, S.Pd., M.Pd

(Praktisi Anak dan Remaja)

Islam merupakan agama yang mulia dan mengajarkan kemuliaan kepada pemeluknya. Islam mengajarkan kepada kita sifat-sfat yang baik seperti amanah, kesetiaan, ketulusan, menjaga kepercayaan, kejujuran. Dan sebaliknya sangat membenci sifat khianat, sumpah palsu, termasuk kemunafikan. Dalam salah satu riwayat disebutkan :

“Tanda-tanda orang munafik  itu ada 3, apabila berkata ia dusta, apabila berjanji ia ingkar dan jika dipercaya ia khianat”. (HR. Muslim)

Orang munafik mendapatkan siksa yang teramat keras diakhirat nanti disebabkan karena perbuatannya. Diantara ayat yang menyebutkan tentang bahayanya sifat munafik :

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا ﴿١٣٨

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,” (QS. 4:138)

  إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنٰفِقِينَ  وَالْكٰفِرِينَ فِى جَهَنَّمَ  جَمِيعًا  ﴿النساء:١٤۰﴾

“Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam,” (QS. 4:140)

إِنَّ  الْمُنٰفِقِينَ فِى الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن  تَجِدَ  لَهُمْ  نَصِيرًا  ﴿النساء:١٤٥

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS. 4 : 145)

Inilah akhir dan kesudahan orang-orang munafik itu. Dan salah satu diantara tanda-tanda orang munafik itu adalah apabila ia berjanji ia ingkar. Janji adalah ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat (seperti hendak memberi, menolong, berkunjung dll) atau persetujuan antara dua pihak (masing-masing menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu). Biasanya janji ini ada dalam bentuk lisan dan tulisan. Perjanjian dalam bentuk tulisan ikatannya sangat kuat dan apabila terdapat cedera janji maka kedua belah pihak bisa memperkarakan kepengadilan. Adapun janji dalam bentuk lisan atau ucapan, disini dibutuhkan integritas untuk mampu memenuhinya, sebab tidak ada ikatan. Walau tanpa ikatan, terkadang janji yang dalam bentuk ucapan, ikatan dan konsekwensinya sangat kuat, sebab apabila tidak dipenuhi maka orang yang berjanji bisa kehilangan kepercayaan.

Begitu dahsyatnya yang janji ini (dan jangan sampai dianggap remeh) dan apabila janji ini diingkari maka bukan hanya si penjanji akan hilang kepercayaan, tetapi reputasinya akan rusak, dan juga orang terlanjur kecewa  tidak akan percaya dan bisa berujung kepengadilan. Celakanya ingkar janji juga termasuk tanda kemunafikan sehingga berkonsekwensi sampai keakhirat. Maka jangan sembarangan berjanji dan bukan sembarang memeberi janji, sebab semua berdampak buruk jika tidak ditunaikan.

Seorang Muslim senantiasa berjanji kepada Allah minimal 17 kali sehari semalam. Karena dalam shalat kita membaca

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿الفاتحة:٥

 artinya “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” (QS. 1 : 5)

Hal tersebut dipertegas lagi di doa iftitah kita (ketika sholat) yaitu “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyakuserahkan kepadamu ya Allah”. Inilah janji yang senantiasa kita ucapkan. Apabila janji ini ditepati,  Maka implimentasinya kita akan dijauhkan dari kesyirikan dan akan menimbulkan keikhlasan dalam beramal.

Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam mendidik anak. Jangan sampai kita sebagai orang tua suka berjanji kepada anak namun tidak ditepati. Karena konsekwensinya sangat berat untuk psikologi anak. Abu Dawud dan Baihaqi meriwayatkan dari Abdillah bin Amr rhadiallahu ‘anhu, ia berkata “pada suatu hari ibuku memanggilku dan berkata kemarilah karena saya ingin memberikan sesuatu, hal itu didengar Rasulullah kemudian beliau berkata, “kalau engkau tidak memberikan sesuatu kepadanya maka engkau akan dicatat sebagai orang yang berdusta”. Misalnya orang tua menjanjikan sepeda kepada anaknya apabila ranking 1 disekolah, maka ia harus menepati janji nya. Atau seorang guru berjanji untuk memeriksa PR anak didiknya(bila telah dikerjakan) maka hal tersebut harus dipenuhi.  Sebab apabila tidak dilaksanakan, namanya ingkar janji dan akan menimbulkan dampak buruk bagi anak.  Sebab guru atau orang tua akan kehilangan kepercayaan. Sehingga jika ia berjanji lagi, maka jangan heran kalau anak sudah tidak mau lagi melaksanakan apa yang diperintahkan, walaupun dengan iming-iming hadiah. Karena diawal tidak menepati janji .

Begitu pula dalam hubungan antar suami-istri. Ikatan janji yang sangat kuat adalah dengan akad nikah. Akad atau ikatan lahir bathin antara seorang laki-laki dengan wanita yang menjamin halalnya pergaulan sebagai suami istri. Dan sahnya hidup berumah tangga disamping melampiaskan seluruh rasa cinta. Inilah ikatan yang suci itu, janji setia kepada Allah dalam bentuk akad yang menjamin kehalalan berhubungan. Adapun janji diluar itu tidak  halal bahkan dusta belaka. Cara melampiaskan cinta yang sah hanya lewat jalur pernikahan. Adapun yang melakukannya diluar pernikahan maka itulah  perzinahan  dan termasuk perkara dosa besar. Walaupun pada saat melakukan itu dilakukan suka sama suka, atau dengan janji untuk mau bertanggung jawab. Maka semua itu hanya dusta dan gombal belaka. Begitu banyak wanita hanya menggigit jarinya akan janji yang diingkari dari pria tak bermoral, setelah ia menghisap madu, maka dibiarkan sang bunga layu, kemudian ia mencari mangsa yang lain. Maka berhati-hatilah akan janji palsu tersebut, karena ini bukan janji biasa. Oleh karenanya, jangan mudah untuk ditipu, jangan mudah untuk dibohongi. Apabila ada seorang laki-laki menyatakan rasa cintanya dan ingin bertanggung jawab akan ucapan tersebut. Wahai para wanita sampaikanlah bahwa “buktikan rasa cintamu itu dengan datang kerumah melamarku dan menikahiku sebagai bukti akan janji itu, aku bukan untuk dipacari atau dijadikan alat permainan belaka”

Semoga Allah memberikan kekutan kepada kita untuk senantiasa merealisasikan janji yang telah terucap, dan dijauhkan kita dari sifat kemunafikan terhadap janji. Sebab konsekwensinya sangat besar, baik didunia maupun diakhirat.

وَيُعَذِّبَ الْمُنٰفِقِينَ وَالْمُنٰفِقٰتِ  وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكٰتِ  الظَّآنِّينَ  بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ  ۚ  عَلَيْهِمْ  دَآئِرَةُ  السَّوْءِ    ۖ   وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ  وَلَعَنَهُمْ  وَأَعَدَّ  لَهُمْ  جَهَنَّمَ    ۖ    وَسَآءَتْ   مَصِيرًا   ﴿الفتح:٦

“Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahanam. Dan (neraka Jahanam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.” (QS. 48 : 6)

Mudah-mudahan kita menjadi orang yang menepati janji dalam kehidupan ini.

Semoga Bermanfaat

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »