Delapan Simpul

Dec 23 • Ibadah • 1045 Views • No Comments on Delapan Simpul

Penulis: Muh.Scilta Riska

“Wahai muridku, 30 tahun telah kau bersamaiku. Apa gerangan faidah petikmu?” sebut al-Hatim al-Asmy.

“Saya hanya belajar darimu delapan hal saja” jelas Syaqiq al-Balkhi.

Subahanallah! Sekiranya anda punya murid sudah bertahun-tahun berguru, apa tidak kecewa jika sederetan angka delapan saja simpulnya. Namun simaklah, bagaimana murid ini mengambil faedah dari gurunya.

“Ketika aku melihat manusia. Setiap mereka memiliki suatu yang dicintai. Namun demikian tatkala masuk liang lahat, bersama itu pula ia ditinggalkan. Maka aku berusaha mencintai amalanku kelak dialah bersamaiku di alam kubur sana” lanjutnya memulai pembicaraan.

Sahabat yang mendambakan cinta sejati, cintailah sekedarnya jika tepaksa membenci sekedarnya pula. Kamu bebas mencintai siapa saja sesukamu. Tapi ingat, pertemuan adalah pertanda perpisahan. Keluarga, handai tolan dan apapun yang selalu kau banggakan akan meninggalkanmu. Semua yang mengantarmu sampai ke kuburan akan kembali kecuali satu, amalmu. Tiada kecintaan melebihi kesetiaan amal menemanimu hingga kelak.

“Saya mengamati firman Allah, ‘Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,’ (QS. An-Naziat: 40). Maka aku berusaha sungguh-sungguh menahan diri dari hawa nafsu agar  tetap dalam ketaatan kepada Allah” lanjutnya.

Kesetiaanmu pada hawa nafsu akan mengurangi kenikmatan ibadah pada Rabbmu. Memperturuti syahwat, mementingkan dunia daripada akhirat. Beragama sesuka hawa nafsu, mengambil sebagian dan meninggalkan lainnya.

“Tidaklah manusia menyimpan, menjaga dan memelihara sesuatu kecuali mempunyai arti, nilai berharga bagi dirinya. Setelah memperhatikan firmanNya, ‘Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.’ (QS. An-Nahl: 96). Setiap kali ada sesuatu yang berharga bagi seseorang akan dijaganya. Maka acapkali sesuatu yang berharga dititipkan padaku, hanya kugunakan di jalan Allah, sehingga ia akan tetap bersamaiku di sisi-Nya” penuhnya harap.

Harta milikmu sesungguhnya adalah yang kamu tabung di jalan Allah. Yang kita simpan hanya akan dibelanjakan pakaian, makanan dan minuman selebihnya jadi sisa kenangan.

“Dimana perabot rumahmu?” tanya sahabat lain.

“Saya telah mengirimkan semuanya ke akhirat” ungkap Abu Darda.

Jika kita yakin dan percaya akan, “Setiap yang kamu infakkan akan diganti, bahkan berkali lipat.” Apa yang Allah hendak ganti, jika kita tak pernah menyedekahkan milikmu?

“Setiap orang menginginkan harta, kedudukan dan kemuliaan. Padahal itu nisbi. Karena kemuliaan, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13).

“Mustahil kamu membangun kepribadian serupa Malaikat. Kita hendak membesarkan peradaban dimana taqwa kemuliaannya.”@MuhammadScilta.

“Aku memperhatikan manusia saling hasad. Padahal, “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia,” (QS. Az-Zukhruf: 32). Akupun meninggalkan hasad.”

Tidak akan mungkin ada manusia yang sama bagiannya. Apakah kita akan memaksakan takdir untuk selalu sama pada hal berbeda?

Tidak hanya hasad, hatta manusia bermusuhan. Kuingat, “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6).

Semua tahu syetan itu musuh, nyatanya ia memintal tali persahabatan memusuhi temannya sendiri. Maka jadikanlah syetan musuhmu. Sekalipun banyak rayuannya jangan pernah berkoalisi dengan syetan.

“Saya menyaksikan manusia menghinakan dirinya hanya untuk menuntut rizki. “Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”(QS. Hud: 6). Aku hanya menyibukkan apa yang ada pada diriku dan tidak pusing dengan milik manusia.”

Setiap rezkimu tidak akan mungkin tertukar pada orang lain. Malah ia tidak akan lenyap kecuali telah bertemu tuannya. Sekiranya kamu tidak mengetahui dimana, bagaimana rezkimu, sungguh rezkimu lebih mengetahui dimana alamatmu.

“Bahkan aku melihat mereka mengandalkan tawakkal pada perdagangan, usaha dan bugarnya badan, akupun bertawakkal pada Allah semata.”

Apapun rencanamu Allah-lah penentunya. Jangan lupa selipkan do’a disetiap munajat harapmu. Hanya pada Allah-lah kita berserah diri!

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »