Dimana Allah?

Dec 31 • Aqidah • 276 Views • No Comments on Dimana Allah?

Akhir-akhir ini banyak diantara kaum muslimin yang mempertanyakan tentang keberadaan Allah, dimana Allah? pertanyaan yang cukup unik, sebab pertanyaan ini mendeskripsikan orang-orang yang bertanya tersebut bagaikan orang-orang yang tidak mengenal Tuhannya, atau mereka menganggap bahwa Tuhannya tidak pernah memberitahukan kepada mereka keberadaan diri-Nya, hingga merasa kebingungan tentang-Nya?

 

Padahal, Allah Azza wajalla sebenarnya sudah memberitahukan keberadaannya kurang lebih sejak 1439 tahun yang lalu melalui Al-Qur’an. Hanya saja, mereka mungkin tidak mau membacanya, atau mendapat syubhat dari orang-orang yang menakwilkan sifat-sifat Allah yang menunjukkan keberadaanNya itu.

Allah Azza wajalla berfirman:

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ يُغۡشِي ٱلَّيۡلَ ٱلنَّهَارَ يَطۡلُبُهُۥ حَثِيثٗا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتِۢ بِأَمۡرِهِۦٓۗ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٥٤

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ´Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. Al-A’raf: 54)

Ayat ini menginformasikan bahwa Allah menunjukkan keberadaan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dia berada diatas langit bersemayam diatas Arsy yang dipikul oleh para Malaikat. Sebagaimana firmanNya:

 

وَٱلۡمَلَكُ عَلَىٰٓ أَرۡجَآئِهَاۚ وَيَحۡمِلُ عَرۡشَ رَبِّكَ فَوۡقَهُمۡ يَوۡمَئِذٖ ثَمَٰنِيَةٞ ١٧

“Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ´Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka”. (QS. Al-Haqqah: 17)

 

Allah berada di atas langit bersemayam diatas Arsy-Nya merupakan keyakinan para salaf al-shalih. Imam Ibnu Katsir rahimahullah ketika beliau mengomentari ayat 54 dalam Surah Al-A’raf diatas dia berkata:

 

قوله تعالى: { ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ } فللناس في هذا المقام مقالات كثيرة جدا، ليس هذا موضع بسطها، وإنما يُسلك في هذا المقام مذهب السلف الصالح: مالك، والأوزاعي، والثوري والليث بن سعد، والشافعي، وأحمد بن حنبل، وإسحاق بن راهويه وغيرهم، من أئمة المسلمين قديما وحديثا، وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولا تعطيل.

 

“Firman Allah Azza wajalla (yang artinya): “Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy”, pada ayat ini terdapat banyak pendapat manusia tentangnya, namun bukan di sini tempat untuk menyebutnya semua itu. Hanya saja, kami berkeyakinan dalam hal ini sebagaimana keyakinan mazhab salaf al-shalih, diantaranya: Imam Malik, al-Auza’i, al-Tsauri, al-Laits bin Sa’ad, al-Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahuyah dan selain mereka dari kalangan imam kaum muslimin, baik yang dahulu hingga sekarang, yaitu memahaminya sebagaimana ayat ini menjelaskannya tanpa mempertanyakan tata caranya, tanpa menyerupakannya dengan makhluk dan tidak pula menyelewengkan maknanya.” (Tafsir Ibnu Katsir: 2/202)

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa Allah tidak bertempat dan tidak berarah, ini merupakan pendapat mazhab Asya’irah yang diikuti oleh beberapa ulama Ahlussunnah. Hanya saja, pendapat ini dinilai keliru oleh para ulama karena menyelisihi mazhab salaf. Sementara mereka semua sepakat, bahwa mazhab Salaf yang merupakan tiga generasi pertama umat ini yang dipuji oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mazhab percontohan untuk umat.

Imam Al-Syaukani rahimahullah berkata: “Yang benar dalam masalah ini adalah keyakinan para salaf Al-Shalih bahwa Allah bersemayam, tanpa perlu dipertanyakan bagaimana cara Allah bersemayam, justru kita harus meyakini bahwa Allah bersemayam sesuai yang pantas untuk diri-Nya sendiri dengan menyucikan diriNya dari hal yang tidak pantas untuk diriNya”. (Tafsir al-Syaukani: 478)

Para ulama ahli atsar mengembalikan sifat-sifat Allah sesuai dengan apa yang Allah kehendaki sendiri, tanpa diserupakan dengan makhluk, tanpa diselewengkan maknanya, tanpa dipermisalkan dan tidak pula ditakwilkan.

Imam Al-Syaukani rahimahullah berkata, “Telah berkata Ummu Salamah pada firman Allah (yang artinya) ‘Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy’, tata caranya tidak diketahui, makna bersemayam bukanlah sesuatu yang dijahili, beriman dengannya adalah kewajiban sedang mengingkarinya adalah kekufuran”. (Tafsir Al-Syaukani: 478)

Imam Al-Safarini Al-Hambali rahimahullah berkata dalam matan akidahnya:

– وكل من أوَّلَ في الصفات  كذاته من غير إثبات ،

– فقد تعدى واستطال واجترى  وخاض في بحر الهلاك وافترى ،

Dan setiap orang yang menakwilkan sifat-sifat

Seperti DzatNya tanpa ada yang dapat mengistbatkannya (dalil)

Sungguh dia telah melampaui batas dan teramat berani

Menenggelamkan diri dalam samudra kebinasaan dan membuat kedustaan. 

(Syarh Aqidah Al-Safariniyah: 8)

 

Jadi, jika ditanyakan dimana Allah? Maka jawabannya adalah Dia bersemayam diatas Arsy di atas langit ketujuh. Dia tidak membutuhkan Arsy itu tapi Arsy itulah yang membutuhkan Allah, sebagaimana makhluk-makhluk yang lain membutuhkan Allah.

Adapun tata cara Allah bersemayam, maka hal-hal seperti itu tidak perlu dipertanyakan dan diperandai-andaikan. Kita mengembalikannya kepada Allah tanpa mempermislkan-Nya dengan sesuatu apapun. Allah tidak perlu dipertanyakan, tapi kitalah yang akan ditanyai nantinya.

 

Wallahu a’lam.

 

13 Rabiul Akhir 1439 H

Abu Ukkasyah Wahyu al-Munaw

>>> Lihat Pula: Beriman Kepada Wujud Allah <<<

 

 

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »