Ghibah-Ghibah Yang Di Bolehkan

Nov 25 • Muamalah • 71 Views • No Comments on Ghibah-Ghibah Yang Di Bolehkan

Oleh : Abu Ukkasyah Wahyu Al-Munawy

Pada dasarnya ghibah merupakan dosa besar yang dapat mencelakakan seseorang pada hari kiamat. Ia ibarat racun mematikan, namun rasanya amat lezat, hingga menyandu manusia untuk terus meminumnya.

Akan tetapi, ada beberapa ghibah yang dibolehkan sebagaimana disebutkan oleh para ulama. Dalam hal ini, seseorang yang melakukannya tidak dianggap sedang melakukan dosa. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:

 

Ketahuilah, sesungguhnya ghibah dibolehkan untuk tujuan syar’i yang tidak mampu didapatkan kecuali dengan melakukan ghibah, yang terjadi karena 6 sebab:

 

  1. Merasa terzalimi dan ingin melapor. Olehnya, seorang yang terzalimi boleh melapor pada penguasa atau hakim atau selain mereka yang memiliki kekuasaan serta kemampuan untuk mengadili seseorang yang mendzaliminya.

 

  1. Memohon pertolongan untuk merubah kemungkaran, atau untuk mengembalikan seorang pelaku maksiat ke jalan yang benar.

 

  1. Meminta fatwa kepada seorang alim (ahli fatwa). Dia berkata kepada seorang ahli fatwa, “Ayahku, saudaraku, atau suamiku telah menzalimiku dengan seperti ini” Maka perbuatan seperti ini dibolehkan sesuai hajatnya.

 

  1. Memperingatkan kaum muslimin dari keburukan dan untuk menasehati mereka. Misalnya pada ilmu jarh dalam ilmu hadits, ini boleh bahkan wajib berdasarkan ijma’ (kesepkatan) kaum muslimin. Diantaranya juga adalah pada saat bermusyawarah dalam menghukumi silsilah keluarga seseorang.

 

  1. Menyebut seseorang yang terang-terangan melakukan perbuatan fasik atau bid’ah, seperti seseorang yang secara terang-terangan meminum khamar, mengambil harta manusia dan lainnya, akan tetapi diharamkan menyebut aibnya yang lain, kecuali dibolehkan karena sebab yang lain.

 

  1. Menyebutkan seseorang sebagai bentuk untuk memperkenalkan. Jika seseorang telah masyhur dengan gelar seorang lemah pandangannya, orang yang pincang, orang yang bisu atau buta atau selainnya. Boleh disebutkan sebagai upaya memperkenalkannya pada orang lain sebutan itu. Jika seandainya bisa dikenal tanpa menyebutkan perkara-perkara cacatnya itu, maka hal tersebut lebih utama. [Lihat: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh Riyadh al-Shalihin (Cet. I; Kairo: Dar Ibnu al-Jauzi, 1427 H.), vol. 4, h. 118-119.]

 

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah juga pernah menyebutkan alasan lain yang menjadikannya dibolehkannya melakukan ghiba, beliau berkata:

 

لا غيبة لهم لثلاثة: فاسق مجاهر بالفسق، وإمام جائر، وصاحب بدعة ما لم يدع بدعته

 

“Bukanlah ghibah membicarakan 3 kelompok ini: seorang yang fasik yang terang-terangan dengan kefasikannya, seorang pemimpin yang zhalim, dan seorang ahli bid’ah selama dia tidak meninggalkan bid’ahnya. [Lihat: Hani al-Hajj, Mawa’izh al-Shalihin wa al-Shalihat (t. Cet; Kairo: al-Maktabah al-Taufiqiyah, t.th.), h. 14.]

 

Makassar, 7 Rabi’ al-Awal 1439 H.

Abu Ukkasyah Wahyu Al-Munawy

 

Baca Juga:

Modal Masuk Surga

Mengajarkan Akhlak pada Anak

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »