hakikat dunia

Hakikat Dunia dimata Orang Shaleh Terdahulu

Nov 16 • Qalbu • 1082 Views • 1 Comment on Hakikat Dunia dimata Orang Shaleh Terdahulu

Oleh : Ustadz Askaryaman, S.Pd., M.Pd.

(Praktisi Anak dan Remaja)

Dunia ini adalah tempat dimana manusia hidup  untuk menjalani aktivitas sehari-harinya. Kehidupan di dunia ini tidak kekal, melainkan akan berakhir.

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS. 29 : 64)

Sebenarnya dunia tempat kita menetap ini hanyalah kesenangan yang sedikit dan menipu, dibandingkan dengan akhirat yang kekal dan abadi.

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلا مَتَاعٌ

“Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit)” (QS.13 : 26)

Lalu bagaimanakah hakikat dunia ini?  Jabir rhadiallahu anhu meriwayatkan bahwa suatu ketika  Rasulullah melewati sebuah pasar bersama beberapa sahabat. Beliau melihat seekor kambing cacat yang telah menjadi bangkai. Kemudian beliau mengambilnya dan memegang telinganya. Beliau bertanya, “Siapa diantara kalian yang ingin menukar ini dengan satu dirham ?” para sahabat menjawab, “tidak ada seorangpun dari kami yang ingin menukarnya dengan apapun, karena kami tidak dapat mengambil manfaat darinya sama sekali.” Rasul meneruskan, “apakah ada yang ingin memilikinya ?” para sahabat menjawab “Demi Allah, andaikan dia hidup dia pun cacat, apalagi ketika telah menjadibangkai”. Maka Rasulullah bersabda : “Demi Allah, dunia ini dihadapan Allah lebih hina dari pada bangkai ini dihadapan kalian” (HR Muslim dalam az-zuhud XVIII/93)

Jika saja seperti ini hakikat dunia, lantas apakah kita harus menguras  seluruh energi serta waktu yang kita miliki, hanya untuk mengejarnya ?

Rasulullah bersabda : “Bila dibandingkan dengan akhirat, dunia ini hanyalah air yang menempel di jari ketika salah seorang dari kalian mencelupkannya dilaut” (HR. Muslim)

Demikian pula dalam riwayat yang lain dari Sahl bin Sa’d, Rasulullah bersabda :”Seandainya dunia ini senilai sayap seekor nyamuk disisi Allah, pastilah Dia tidak akan memberi minum setetes air duniapun kepada orang kafir”. (HR. At Tirmidzi)

Inilah hakikat dunia yang terkadang melenakan kita dalam beribadah kepada Allah. Ingatlah suatu hari kita akan meninggalkan dunia ini. Tak satupun yang kita bawa sewaktu meninggal kecuali amal-amal saja. Harta yang kita usahakan  akan meninggalkan kita. Anak dan istri serta keluargapun tidak akan menemani kita. yang bermanfaat pada saat itu hanyalah amal ibadah kita.

Seorang mukmin yang beriman kepada hari akhir akan mengedepankan kehidupan akhirat sebagai kehidupan yang kekal abadi. Ketika ia bekerja atau melakukan perbuatan yang bersifat duniawi, maka hendaknya ia menjadikan hal tersebut bernilai ibadah disisi Rabb-Nya. Sehingga iapun menuai ganjaran dari hal tersebut. Adapun orang yang tidak beriman dengan hari pembalasan, ia akan menjadikan segala potensi yang ia miliki dan kuasai untuk menggapai kehidupan dunia semata. Allah menggambarkan sifat akhirat sebagai negeri yang kekal abadi.

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ  ﴿الأعلى:١٧

“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al- A’la: 17)

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُحَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. 102 : 1-2)

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata: “Allah mengabarkan bahwa sesungguhnya bermegah-megahan menyibukkan manusia dan melalaikan dari Allah dan kampung akhirat sampai kematian menjemputnya.“ (‘Uddah ash-Shobirin wa Dzakhiratu asy-Syakirin, hal. 176)

Beliau berkata juga (di kitab yang sama hal. 173): “Kehidupan dunia sebenarnya tidak tercela, sesungguhnya yang menjadikannya tercela adalah perbuatan manusia didalamnya. Dunia itu adalah jembatan menuju surga atau neraka, akan tetapi ketika nafsu syahwat terhadap dunia, keterlenaan dan keterpalingan dari Allah dan negeri akhirat maka dunia menjadi tercela.”

Beberapa contoh zuhudnya para ulama salaf terhadap kehidupan dunia :

Ma’mar telah menceritakan kepada kami, dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya ia berkata :”Umar pernah datang ke syam dan disambut oleh kalangan birokrat pemerintahan dan kaum bangsawan”. Beliau bertanya, “Dimana saudaraku Abu Ubaidah ?”. Mereka menjawab “sekarang ia tengah mendatangi anda”. Lalu datanglah Abu Ubaidah dengan mengendarai onta yang bertali kekang, seraya memberi salam. Kemudian ia berkata kepada orang banyak “silahkan kalian meninggalkan kami dahulu. Lalu Umar pergi bersama Abu Ubaidah menuju rumahnya. Beliau singgah dirumahnya, ternyata beliau hanya melihat pedang, perisai dan hewan tunggangan yang terdapat dalam rumah itu. Umar berkata “kenapa engkau tidak mengusahakan perkakas untuk rumahmu ? Ia menjawab “Wahai Amirul Mukminin, semua inilah yang akan menghantarkan kita menuju liang kubur ?”

Dari Sufyan Ats Tsauri, Dari Abu Qais, dari Hudzail bin Syarahbil, dari Abdullah bin Mas’ud diriwayatkan bahwa ia berkata : “Barang siapa yang menginginkan akhirat, ia akan mengorbankan dunianya, dan barang siapa yang menginginkan dunia, ia mengorbankan dengan akhiratnya. Wahai kaumku, korbankan dunia yang fana untuk akhirat nan abadi”.

Qatadah menceritakan : ketika Abu Abdillah Amir bin Qais, menjelang wafat, beliau menangis. Beliau pun ditanya : “apa yang membuatmu menangis ?”, Belaiu menjawab :”Aku bukan menangis karena takut mati dan cinta dunia. Yang kutangisi adalah kurangnya shaumku disiang hari dan shalatku di malam hari”.

Inilah secuil contoh kisah kehidupan ulama salaf dalam memandang dunia, semoga kita dapat mengambil ibrah dan menjadikannya contoh teladan terbaik.

Semoga Bermanfaat

Baca Juga :

Akhlak Salaf dalam Menjaga Keikhlasan Beramal

Perumpamaan Dunia dengan Air

Related Posts

One Response to Hakikat Dunia dimata Orang Shaleh Terdahulu

  1. […] Nov 16 › Hakikat Dunia dimata Orang Shaleh Terdahulu » […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »