islam politik

Islam dan Politik (Pelajaran dari Surah AR-Rum)

Aug 11 • Muamalah • 106 Views • No Comments on Islam dan Politik (Pelajaran dari Surah AR-Rum)

Oleh: Ustad Muh. Zaitun Rasmin, Lc., MA.

[ketua umum wahdah islamiyah]

(ditranskip dari khutbah Jum’at by editor)

Dalam surah Ar-Rum ayat 1-3 Allah Shubhana wa ta’ala menyebutkan tentang peristiwa peperangan antara Romawi dan Persia. Secara umum bangsa Romawi saat itu memeluk agama Nasrani dan meyakini adanya kitab serta kenabian. Sedangkan Bangsa Persia memiliki keyakinan paganisme mereka menyembah api dan menjadikannya sebagai sesembahan. Dalam perang tersebut bangsa persia mengalahkan Romawi dan mencaplok sebagian wilayah Romawi.

Dalam peristiwa tersebut, kaum muysrikin Quraisy mendukung Bangsa Persia karena mereka memiliki kedekatan kayakinan, yaitu paganisme dimana kaum Quraisy menyembah patung sama dengan bangsa Persia yang menyembah api. Sedangkan kaum Mulsimin mempunyai beberapa kesamaan keyakinan dengan bangsa Romawi yaitu meyakini kitab dan kenabian, sehingga kaum Muslimin mendukung Bangsa Romawi. (Artikel terkait: Islam Dan realitas Sosial)

Lalu pelajaran apa yang bisa kita petik dari peristiwa tersebut? Bukankah keyakinan Romawi dan Persia sama-sama kafir? Apa lagi kaum Muslimin tak ada hubungan khusus dengan bangsa Romawi.

Ketahuilah bahwa pelajaran dari kisah tersebut adalah perlunya kita memiliki kepedulian terhadap apa yang terjadi disekeliling kita.

Alangkah baiknya jika manhaj (cara) ini diterapkan pada saat sekarang ini. Katakanlah dalam konteks perpolitikan di Negeri kita. Sebenarnya masalah politik juga merupakan bagian dari ajaran Islam. Sebagai implementasi dari ayat 1-3 Surah Ar-Rum, kita dianjurkan untuk mempunyai kepedulian dengan apa yang terjadi disekeliling kita.  Sehingga tak ada lagi orang islam yang berkata “mengapa ustad berbicara maslah politik, adapun yang terjadi di Negeri ini tidak usahlah dibicarakan” .

Harusnya tak ada lagi pernyataan demikian, Karena perpolitikan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sebagai muslim.  Dalam Al Quran sendiri turun ayat dalam surah Ar Rum, yang menceritakan apa yang terjadi disekeliling kaum muslimin saat itu. Jika kita melihat perpolitikan pada hari ini, mungkin banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Misalnya saja  tentang partai politik. Diluar sana ada partai islam, dimana kita mengharapkan mereka untuk dapat memberikan nuansa islami dan contoh yang baik tentang bagaimana islam dalam berpolitik. Namun sayangnya kadang hati kita menjadi gregetan sehingga harus mengelus dada atas kekeliruan yang mereka lakukan, kekurangan mereka, atau ketidak pedulian sebagian dari mereka  pada hal-hal tertentu dalam syariat Islam. Tapi harus kita ingat bahwa bagaimanapun juga mereka adalah partai politik Islam yang lebih baik daripada partai politik sekuler atau partai politik kafir.  Sehingga tak ada alasan bagi kita untuk bergembira jika mereka kalah. Apa lagi sampai mengeluarkan kata-kata seperti “ sayakan sudah bilang, siapa suruh mengikuti ini dan itu” .

Hingga apabila terjadi pertarungan antara partai Islam dan partai sakuler, maka sikap kita adalah wala’(menunjukkan loyalitas ) pada mereka, paling tidak kita menunjukkan solidaritas dan juga memanjatkan do’a. Manhaj Al Qur’an mengajarkan untuk tidak  menyamakan orang-orang yang beriman dengan orang-orang sekuler, sebagaimana kita tidak boleh menyamakan antara nasrani dan musyrikun.

Hal yang terpenting disini adalah  bagaimana seseorang tetap menjaga manhaj Al Qur’an dan sekaligus menjaga Attajarrud Lillah (semata-mata karna Allah), mencintai karna Allah dan membenci karana Allah. Walau terkadang partai politik bisa  menjadi  hambatan kita didalam berdakwah. Karena itu kita harus berbesar jiwa dan tetap memberikan dukungan kepada mereka, apa lagi  ketika mereka berhadapan dengan kaum sekuler atau atau orang-orang yang memusuhi Islam.

Pelajaran lain dalam ayat-ayat diawal Surah Ar-Rum : bahwa kemenangan dan kekalahan tidak bisa terlepas dari kekuasaan dan iradha Allah. Sebab dalam ayat itu ditegaskan Walillahil Amru Mingqablu Wa Mimba’du “Urusan itu semuanya ditangan Allah sebelumnya dan sesudahnya” Yanshuru Manyasyaa “Dan Allah akan menolong siapa yang dikehendakinya”

Kaum Muslimin yang berbahagia, saat ini kita tidak terlibat lansung dalam masalah politik kekuasaan. Bukan berarti kita berkecil hati atau pesimis, apalagi putus asa. Karena Suatu saat kekuasaan bisa saja berada ditangan orang-orang beriman, dan dengan sendirinya kekuasaan tersebut akan menjadi sebab datangya kejayaan Islam dan kaum muslimin. Ya, kita tidak boleh pesimis, mengapa? karena urusan kekuasaan ini ada ditangan Allah shubhana Wa’ta ‘Ala dan akan mengikuti suatu peroses sunnatullah yang telah ditetapkan oleh Allah Shubhana ‘wa ta’ala. Siapa yang telah memenuhi syarat untuk berkuasa, mereka akan mendapatkan kekuasaan. Dan sebaliknya, siapa yang tidak memenuhi syarat, maka tidak akan mendapatkan kekuasaan itu. Tetapi semua ada ditangan Allah. Allah lah yang mengatur semuanya, dalam surah Ali Imran ayat 26 lebih jelas disebutkan:

“Wahai Tuhan yang mempunyai Kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Ali Imraan [3]: 26)

Ayat diatas berbicara tentang kekuasaan secara menyeluruh, entah kekuasaan itu berada ditangan kaum muslimin ataupun ditangan kaum kuffar. Ataukah ketika kemenangan itu berada ditangan kaum muslimin ataupun  dikalangan kuffar. Ketahuilah bahwa peralihan kekuasaan bisa saja berubah. Bagi orang-orang yang memiliki semangat perjuangan, kesadaran perjuangan, dan cita-cita akan kemenangan Islam, perlu  berkomitmen dengan syariat Islam bagimanapun sulitnya. Karena suatu saat (Insya Allah) kemenangan itu akan datang, saat kemenangan  telah diraih mereka harusnya tidak merubah komitmen terhadap syariat, seperti mendahulukan fikiran dan nafsu  semata-mata karena ingin mendapatkan kekuasaan dengan cara yang cepat.Ketahuilah kekuasaan itu ada ditangan Allah. Firman-Nya

Watilkal Ayyamu Nudawiluha Bainannaas

Artinya: “Dan demikianlah hari hari kami pergilirkan diantara manusia”

suatu saat orang beriman akan menang dan berkuasa, disaat yang lain bisa saja orang orang kafir menang dan berkuasa dan disana terdapat sunnatullah. Sunnatullah bagi mereka yang  mendapatkan kekuasaan dan mereka yang telah kehilangan kekuasaan perlu untuk  dipelajari. sehingga kita mendapatkan sebab dari jalan yang terbaik untuk sampai kepada kekuasaan yang diridhai oleh Allah shubhana wa ta’ala. Hal yang patut untuk diperhatikan adalah menghindari hal-hal yang bisa menjadikan kekuasaan tersebut  hilang dari tangan orang-orang beriman, dan jatuh ditangan orang-orang yang merusak.

Baca Juga: Arti Penting kemenangan Romawi

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »