Islam-identitas

Islam Tak Sekedar Identitas

Oct 22 • Aqidah, Tarbiyah • 798 Views • No Comments on Islam Tak Sekedar Identitas

Oleh Ustadz Ir. Muhammad Qasim Saguni, MA.

Dahulu sekitar tahun delapan puluhan, di Indonesia sangat populer istilah “Islam KTP” yaitu orang yang mengaku sebagai seorang muslim. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya bukti secara formal berupa identitas KTP (kartu tanda penduduk). Walaupun realitanya orang tersebut tidak mengerjakan shalat sekalipun. Tidak pula mengerjakan puasa pada bulan ramadhan. Tidak menggunakan hijab jika ia adalah wanita. Dan juga mengabaikan beberapa kewajiban-kewajiban syar’i. Mengabaikan beberapa perkara yang diharamkan oleh syari’at. Ringkasnya Islam KTP adalah mereka yang Islamnya hanya sekedar identitas. Mereka tidak menunjukkan ketaatan pada syariat Islam.

Fenomena “Islam KTP” atau Islam Identitas nampaknya menjadi fenomena yang selalu aktual. Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat menyaksikan fenomena islam KTP. Fenomena tersebut terutama pada  momen pelaksanaan shalat lima waktu. Demikian pula pada hari-hari dibulan ramadhan, begitu banyak kaum Muslimin yang lalai dalam melaksanakan kewajiban. Masih banyak lagi hal yang serupa, terutama dimomen-momen dimana ada tuntutan untuk melaksanakan kewajiban syar’i. Dan juga dalam hal yang membutuhkan pilihan antara meninggalkan dan melakukan suatu perkara.

Bahkan dizaman sekarang ini fenomena tersebut sangat menyedihkan dan memalukan. Misalnya seperti yang terjadi dibulan ramadhan. Jika zaman dulu orang Islam yang tidak berpuasa masih memiliki rasa malu dan bersembunyi ketika makan dan minum disiang hari. Mereka melakukannya dengan bersembunyi dan sulit bagi kita untuk menemukannya. kalaupun kita menemukan mereka di warung, yang kelihatan hanyalah kakinya. Namun sekarang ini budaya itu sudah sangat jauh bergeser. Mereka yang tidak berpuasa(tanpa udzur) sudah sangat mudah kita temukan secara bertebaran. Mereka tidak hanya menampakkan kakinya, tetapi sudah sangat berani dan tidak malu lagi menampakkan mukanya di warung-warung, restoran maupun dirumah makan lainnya.

Makna Islam

Islam sebagai satu-satunya agama yang diakui dan diridhai oleh Allah ‘Azza Wa Jalla, bukan hanya sekedar identitas dan pengakuan belaka. Namun Islam adalah agama yang memadukan antara unsur lahiriyah dan unsur batiniyah. Didalamnya terkandung pengakuan formal seperti syahadatain, keyakinan, dan pengamalan lahiriyah serta pengamalan hati. Ketika seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan melakukan pengakuan bahwa kami sudah beriman, maka turunlah ayat di surat Al-Hujurat (49) ayat 14:

قَالَتِ ٱلۡأَعۡرَابُ ءَامَنَّاۖ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ وَلَٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِي قُلُوبِكُمۡۖ

Artinya: Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ´kami telah tunduk´, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu,…

Ulama tafsir menjelaskan, bahwa keIslaman orang Arab Badui tersebut hanyalah pada tingkat pengakuan/perkataan. Apa yang diucapkannya belum didasari dengan keyakinan. Para Ulama membedakan istilah Iman dan Islam jika keduanya bertemu dalam satu kalimat Seperti ayat di atas. maka Islam bermakna perkataan dan amal-amal lahiriyah . Sedangkan kalimat iman berkaitan dengan amalan hati.

Dengan demikian, ayat tersebut menyebutkan dua unsur keIslaman, yaitu Iqrar (pengakuan) dan I’tiqad (keyakinan).

Sementara itu unsur amaliah dalam Islam disebutkan dalam hadits Jibril. Salah satu kandungannya aalah tentang rukun Islam. Dari lima rukun yang disebutkan dalam rukun Islam itu, hanya satu diantaranya tentang pengakuan dan keyakinan (dua kalimat syahadat), sementara empat diantaranya adalah pengamalan.  yaitu: menegakkan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan ramadhan, mengeluarkan zakat dan menunaikan haji bagi yang memiliki kemampuan dana dan fisik. Ini menunjukkan bahwa pengamalan dalam wujud melaksanakan segala hal yang diperintahkan dan menjauhi segala perkara yang dilarang merupakan unsur yang sangat penting dalam keIslaman.

Para Ulama membuat satu kesimpulan tentang makna Islam, diantaranya disebutkan oleh Syekh At-Tamimi Rahimahullahu Ta’ala dalam Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah,

Islam adalah berserah diri kepada Allah Ta’ala dengan cara mentauhidkan-Nya, tunduk patuh kepada-Nya dengan melaksanakan ketaatan (atas segala perintah dan larangan-Nya), serta membebaskan diri dari perbuatan syirik dan orang-orang yang berbuat syirik.

Dari definisi tersebut, terkandung tiga unsur yang dalam tentang makna Islam. Yaitu meliputi perkataan, keyakinan dan perbuatan. Demikian pula harus ada unsur An-Nafyu (mengingkari sesembahan selain Allah dan mengingkari segala sistem yang bertentangan dengan syari’at-Nya) dan juga unsur Al-Itsbat (menetapkan keesaan Allah dan mengakui kebenaran syariat Nya).

Agar beragama  tak Sekedar Islam Identitas

Sekalipun identitas dalam makna yang luas merupakan bagian yang penting dan tak terpisahkan dari ajaran Islam, namun hakikat keIslaman tidak hanya cukup dengan merasa mulia terhadap identitas Islam. Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu(QS. Al-Baqarah: 208)

Karena itu agar Islam kita tidak hanya sekedar identitas, maka ada tiga metode terbaik (yang harus dilakukan):

  1. Mengkaji Islam

Dengan mengkaji Islam dari sumbernya yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Islam yang sesuai dengan pemahaman orang-orang terbaik dari umat ini (para sahabat, tabi’in dan atbaut taabi’in). Yang diharapkan akan melahirkan pemahaman yang benar dan keyakinan yang kuat terhadap ajaran Islam.

Pemahaman dan keyakinan yang kuat akan ajaran Islam tidak secara otomatis datang begitu saja, namun harus dicari dimajelis-majelis ilmu.

Ingatlah perkataan Imam Bukhari Rahimahullah bahwa berilmu terlebih dahulu sebelum perkataan dan perbuatan.

  1. Mengamalkan Islam

Berislam tidak cukup hanya dengan mengkajinya saja. Islam menuntut kita untuk berkomitmen dan berusaha mengamalkan hal-hal yang telah kita pelajari.  Amal adalah buah nyata dari ilmu, dan ilmu yang benar akan melahirkan buah yang berkualitas yaitu Iman dan amal shalih.

Bukankah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam banyak ayat menjajikan syurga Nya dengan selalu menggandengkan perkataan Iman dan Amal Shalih?

  1. Bergaul dengan Orang-orang Shalih

Salah satu sifat iman adalah bertambah dan berkurang. Keadaan Iman seseorang itu  naik-turun. Iman akan bertambah dengan melakukan amalan ketaatan. Iman akan berkurang dengan dosa dan maksiat. Karena itu, keimanan yang tumbuh dari hasil “mengkaji” ilmu syar’i harus selalu dijaga. Ketahuilah bahwa sebab penyakit dan hama keimanan sangat banyak dan selalu mengintai kelalaian kita.

Salah satu metode yang efektif menjaga keimanan adalah senantiasa bergaul dengan orang-orang yang shalih. Dan senantiasa berhati-hati bergaul dengan mereka yang hanya mementingkan dunianya daripada akhiratnya. Berhati-hatilah bergaul dengan mereka yang berIslam hanya sekedar identitas (islam identitas) belaka.

Wallahu A’la Wa A’lam Bish Shawab.

>> Baca Juga :

Pentingnya tarbiyah

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »