Jangan Cela Saudara Kita Dengan Masa Lalunya

Jan 18 • Muamalah • 222 Views • No Comments on Jangan Cela Saudara Kita Dengan Masa Lalunya

Kita semua punya masa lalu yang buruk. Saya, kamu dan kita semua. Alhamdulillah, jika hari ini kita telah menyadari kalau masa lalu itu adalah perbuatan buruk, lalu kitapun bertaubat dan berbenah diri.

 

Oleh karenanya tidak layak bagi kita untuk saling mewanti-wanti, dengan mengungkit masa lalu saudara kita itu dengan tujuan memperingatkan manusia akan buruknya dirinya di masa lalu, sedang ia telah berubah.

 

Saya teringat kisah perdebatan Adam dan Musa, yang dimenangkan oleh Adam. Musa berkata, “Wahai Adam, engkau adalah bapak kami, engkau telah merugikan kami, engkau membuat kami keluar dari surga”. Adampun menimpalinya, ia berhujjah, “Wahai Musa, engkau adalah seorang yang dipilih oleh Allah, Allah menciptakanmu dengan tangan Nya, lalu mengapa engkau mencelaku pada perkara yang telah Allah takdirkan untukku?”

 

Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda, “Adampun mengalahkan Musa“. (HR. Muslim)

 

Ini bukanlah hujjah dengan takdir atas dosa, bukan. Akan tetapi ia berhujjah atas musibah yang menimpa dirinya. Sebab berhujjah dengan takdir akan musibah yang menimpa kita dibolehkan. Adapun berhujjah dengan takdir atas dosa, ini tidak dibolehkan. Demikian kata Ibnu Abi Al-Izz rahimahullah. (Syarh Aqidah al-Thahawiyah: 1/222)

 

Oleh karenanya, jika kita mencela saudara kita yang telah bertaubat dari dosa masa lalunya yang menyebabkan dirinya hina, maka kita sama dengan kesalahan Musa. Sebab tentu saja, kehinaan dirinya saat itu merupakan takdir baginya akibat dosa yang dia lakukan. Akan tetapi, dengan taubatnya, Allah kemudian menggantikan kehinaan menjadi kemuliaan untuknya.

 

Dari sini hendaklah kita berhati-hati, utamanya membicarakan kehormatan seseorang. Sebab kadang kita mengira sedang melakukan kebaikan, namun ternyata sedang melakukan dosa ghibah yang membuat bangkrut pada hari kiamat. Wal’iyaadzubillah.

[Lihat Juga: Wanita dan Rasa Malu]

[Lihat Juga: Ghibah yang dibolehkan]

 

18 Januari 2018

Abu Ukkasyah Wahyu Al Munawy

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »