Jangan Mencela Sahabat Nabi

Aug 1 • Aqidah • 487 Views • No Comments on Jangan Mencela Sahabat Nabi

Sahabat Nabi Muhammad adalah orang yang setia mendampini beliau. mereka tediri dari Muhajirin & Anshar. Muhajirin yaitu mereka  yang berhijrah pada umumnya berasal dari Makkah dan Anshar merupakan penduduk kota madinah.

Dan sungguh Allah Ta’ala telah menjanjikan bagi mereka kaum Muhajirin dan Anshor dengan surga dan kenikmatan yang kekal serta tiada batas, Allah juga menghalalkan atas mereka keridhaan-Nya dalam ayat-ayat yang senantiasa dilantunkan sampai hari kiamat, maka apakah masuk akal dengan kelebihan yang demikian tadi lalu mereka tidak layak mendapatkan keutamaan dan kemuliaan ?? Allah Ta’ala berfirman:

 

وَالسَّابِقُونَالأَوَّلُونَمِنَالْمُهَاجِرِينَوَالأَنصَارِوَالَّذِينَاتَّبَعُوهُمبِإِحْسَانٍرَّضِيَاللّهُعَنْهُمْوَرَضُواْعَنْهُوَأَعَدَّلَهُمْجَنَّاتٍتَجْرِيتَحْتَهَاالأَنْهَارُخَالِدِينَفِيهَاأَبَداًذَلِكَالْفَوْزُالْعَظِيمُ

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridla kepada mereka dan mereka pun ridla kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (Surat At Taubah: 100).

 

Telah memberikan kesaksian akan keutamaan mereka manusia terbaik dan pemimpin para Rasul dan Nabi, beliau menyaksikan kiprah mereka dalam kehidupan beliau, melihat langsung pengorbanan mereka, dan mereka senantiasa tegar di atas kejujuran tekad mereka, lalu Rasulullah ﷺ melontarkan ungkapan yang abadi tentang keutamaan para sahabat beliau yang mencerminkan betapa kecintaan beliau kepada mereka. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

 

لاثسُبُّواأصحَابِي؛فوَالذِينَفسِيبِيَدِهِلَوأنَّأحَدَكُمأنْفَقَمِثلَأُحُدٍذَهَباًماَأدرَكَمُدَّأحَدِهِمولاَنَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya jika salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka hal itu tidak akan menyamai satu mud pun dari kebaikan mereka, bahkan tidak pula separuhnya”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

 

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu dari Nabi ﷺ bersabda,

 

خَيرُالنَّاسِقَرنِي،ثُمَّالذَّينَيَلونَهُم،ثُمَّالَّذِينَيَلونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah mereka yang berada di masaku, kemudian orang-orang yang datang setelah mereka, kemudian orang-orang  yang datang setelah mereka.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

 

Al-Khathib Al-Baghdadi Rahimahullah mengungkapkan dalam kitabnya “Al-Kifayah”, Kalau seandainya kita mampu untuk membukukan prinsip-prinsip para Sahabat  yang  lembaran jalan hidup mereka dipergunakan untuk menolong agama dan amal perbuatan mereka layak mendapatkan kedudukan yang tinggi dan luhur, maka tidak akan mencukupi berjilid-jilid yang panjang  menampung kisah hidup mereka yang mulia karena semua kehidupan mereka dihibahkan di jalan Allah Ta’ala, dan tidak ada kertas yang bisa menampung jalan hidup ratusan para sahabat yang mereka memenuhi alam semesta ini dengan berbagai macam kebaikan dan kemaslahatan.”

 

Harus kita ketahui bahwasannya para Sahabat radhiyallahu’anhum bukanlah orang yang ma’sum atau terhindar dan terjaga dari salah dan khilaf, dan hal ini merupakan Madzhab ahlus Sunnah wal Jama’ah, sesungguhnya mereka hanya manusia biasa apa yang terjadi pada kebanyakan orang terjadi pula pada mereka, bisa jadi sebagian mereka melakukan kemaksiatan dan kesalahan, meski mereka di satu sisi mendapatkan keutamaan dan kemuliaan sebagai sahabat, namun di sisi yang lain mereka juga berhak mendapatkan ampunan dan kemakluman dari yang lainnya, dan perlu diingat bahwasannya kebaikan-kebaikan itu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan keberadaan serta kebersamaan salah seorang sahabat bersama Nabi ﷺ meski hanya sekejap waktu dalam meniti jalan-jalan agama ini tidak sebanding dengan suatu apapun di dunia ini.

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata :

“Merupakan prinsip Ahlus Sunnah terhadap Sahabat adalah berkata-kata yang baik perihal mereka, menunjukkan kasih sayang dan senantiasa memohonkan ampunan bagi mereka, akan tetapi tidak berkeyakinan akan kemaksuman mereka dari kesalahan dan dosa dalam berijtihad melainkan hanya bagi Rasulullah saja yang maksum, selain beliau maka tidak menutup kemungkinan melakukan dosa dan kesalahan, akan tetapi mereka ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

 

أُولَئِكَالَّذِينَنَتَقَبَّلُعَنْهُمْأَحْسَنَمَاعَمِلُواوَنَتَجَاوَزُعَنْسَيِّئَاتِهِمْ

 

“Mereka itulah orang-orang yang kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka…” (Al-Ahqaf: 16).

 

Banyak juga dalil yang menegaskan hal demikian di banyak situasi dan kondisi, di antaranya; Allah Ta’ala telah memberikan ampunan kepada mereka para sahabat yang berpaling pada saat berkecamuk perang Uhud, firman Allah Ta’ala :

 

إِنَّالَّذِينَتَوَلَّوْاْمِنكُمْيَوْمَالْتَقَىالْجَمْعَانِإِنَّمَااسْتَزَلَّهُمُالشَّيْطَانُبِبَعْضِمَاكَسَبُواْوَلَقَدْعَفَااللّهُعَنْهُمْإِنَّاللّهَغَفُورٌحَلِيم

 

“Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kamu pada hari bertemunya dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa yang lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberikan ampunan Nya kepada mereka, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun ”. (Ali-Imran: 155).

 

Tatkala sebagian Sahabat melakukan dosa dan kesalahan dengan membawa berita kepada kaum kafir Quraisy akan kadatangan Nabi ﷺ dengan bala tentara pada saat tahun penaklukan Kota Makkah, Umar bin Al-Khatthab Radhiyallahu Anhu pun dibuat geram dan hampir membunuh mereka, lalu Rasulullah ﷺ bersabda :

 

إِنَّهُقَدشَهِدَبَدرًا،وَمَايُدرِيكَ؟لَعَلَّاللَّهَاطَّلَعَعَلَىأَهلِبَدرٍفَقَالَ: اعمَلُوامَاشِئتُم،فَقَدغَفَرتُلَكُم

 

“Tahukah kamu, sesungguhnya dia ikut serta dalam perang Badar? Bisa saja Allah mengampuni semua yang ikut serta dalam perang Badar, lalu Allah berkata pada mereka: ‘lakukanlah apa yang kalian kehendaki, sungguh aku telah mengampuni kalian’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

 

Tontoh lainnya yang menunjukkan dimana sebagian Sahabat pada kondisi tersebut melakukan kemaksiatan dan dosa, kemudian Allah Ta’ala memberikan maaf dan AmpunanNya kepada mereka dan hal ini menunjukkan bahwsannya mereka berhak mendapatkan keutamaan dan kemuliaan, dan sama sekali mereka tidak ternoda dan terpengaruh sedikitpun dengan apa yang telah terjadi pada mereka di zaman Nabi ﷺ atau yang terjadi setelah wafatnya beliau, maka sesungguhnya ayat-ayat yang telah disebutkan diatas tentang keutamaan mereka dan kabar gembira akan Surga yang disediakan bagi mereka merupakan bukti dan dalil yang tidak akan terhapuskan sedikitpun, sekaligus menuntut kita untuk mencintai mereka, agar dikumpulkan bersama mereka di hari kemudian kelak.

Kata kunci: Jangan Mencela Sahabat Nabi Jangan Mencela Sahabat Nabi Jangan Mencela Sahabat Nabi

 

Baca Juga >>

Mencintai Sahabat Nabi ﷺ

Wanita Haid Boleh Baca Al-Quran

 

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »