Jika Engkau Merasa Sebagai Salah Seorang Ibadurrahman

Apr 29 • Ibadah • 451 Views • No Comments on Jika Engkau Merasa Sebagai Salah Seorang Ibadurrahman

Oleh : Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

Jika engkau merasa mulia, maka janganlah engkau membusungkan dadamu, merasa paling baik lalu merendahkan orang lain. Hindarkan dirimu dari sifat tercela itu, karena itu merupakan kesombongan. Jika engkau tetap dengan kesombonganmu itu, maka kemuliaanmu yang engkau rasa itu akan berubah menjadi malapetaka bagimu.

Mari sejenak kita merenungi satu firman Allah yang mulia, ketika Dia menyebutkan tentang manusia-manusia yang mulia dimana Allah juga memuliakan mereka. Allah azza wajalla berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan ibadurrahman (hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang) itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63)

Dalam ayat ini Allah memuji hamba-hamba-Nya yang mulia itu dengan pujian yang amat indah. Maka perhatikanlah pujian Allah kepada mereka dan panyifatan hamba yang mulia kepada manusia mulia, jika engkau merasa sebagai ibaadurrahman yang mulia itu. Semoga engkau mendapat hidayah dan karunia menjadi ‘ibadurrahman sejati.

• Pujian pertama, Allah menyebut mereka dengan kata ‘ibaad, yang merupakan jamak dari kata ‘abdun. Kata ini menunjukkan sifat Ubudiyyah (sifat penghambaan diri) kepada Allah azza wajalla.

Allah azza wajalla beberapa kali menyebut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kata ‘abdun di dalam al-Qur’an pada peristiwa-peristiwa penting, sebagai bentuk pujian kepadanya. Misalnya, ketika peristiwa isra’ dan mi’raj, Allah menyebutnya dalam surah al-Isra ayat pertama, Allah azza wajalla berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Atau ketika Allah menurunkan al-Qur’an kepadanya, Allah berfirman:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Maha suci Allah yang telah menurunkan al-Furqaan (al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1)

Intinya penyebutan seseorang dengan kata ‘abdun atau ‘ibad menunjukkan pujian akan keilmuan dan sifat penghambaannya.

• Pujian kedua, ketika Allah menyebut mereka dengan ‘ibad, Allah kemudian mengidhafkan salah satu nama-Nya yang menunjukkan ke Maha Penyayangan-Nya yaitu ar-Rahman kepada mereka. Seolah Allah ingin menunjukkan kepada manusia bahwa inilah hamba-hamba dari Rabb yang Maha Penyayang itu.

Pengidhafahan dengan satu nama-Nya yang menunjukkan luasnya kasih sayang-Nya itu memberi isyarat bahwa hamba-hamba ini juga dikaruniai sifat kasih sayang yang besar kepada sesama makhluk dari Rabb mereka yang Maha Penyayang. Karena itu mereka sangat jauh dari sifat sombong dan merendahkan manusia.

Karena itu, sifat pertama yang disebutkan Allah tentang ‘ibadurrahman adalah “Mereka berjalan di muka bumi dengan rendah hati”. Dengan kata lain, mereka jauh dari kesombongan. Allah mengisyaratkan bahwa orang-orang mulia tidak melekat pada diri mereka sifat kesombongan dan sifat merendahkan manusia.

Tidak hanya itu, Allah menyiratkan pesan agar seseorang berhati-hati dari sifat sombong, sebab sifat sombong adalah sifat yang menghinakan satu makhluk yang awalnya sangat mulia, yaitu Iblis. Akan tetapi, karena kesombongannya (merendahkan Adam) maka Allah mengutuknya menjadi makhluk yang paling hina.

Mungkin inilah rahasia Allah mengedepankan sifat ini dari sifat-sifat lainnya yang menunjukkan kemuliaan dan kebaikan mereka.

Perhatikanlah, Allah menempatkan sifat tauhid mereka setelah beberapa sifat. Ini bukan untuk merendahkan kedudukan tauhid, bukan. Sebab inilah sifat pokok yang pasti ada dan harus ada dalam diri mereka. Jika tanpa tauhid, sifat rendah hati merekapun tak akan menjadikan mereka sebagai ‘ibadurrahman. Karena itu sifat ini datang dalam bentuk ta’kid, mengulangi hakikat makna ibadurrahman.

Allah memulai dengan sifat rendah hati, sebagai penjelasan bahwa perhiasan zhahir orang-orang yang mulia adalah kerendahan hati dan berlepas diri dari kesombongan, lalu kemudian apabila ada orang-orang yang mencela mereka, mereka akan membalas dengan kata-kata yang mengandung keselamatan.

Wallahu a’lam

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »