kebenaran akan menang

Kebenaran Akan Menang: Sosok Para Pejuang Kebenaran

Nov 9 • Aqidah • 919 Views • No Comments on Kebenaran Akan Menang: Sosok Para Pejuang Kebenaran

Oleh : Ustadz Mukran Usman, Lc., M.H.I.

(Dosen STIBA Makassar)

Menapaki jalan kebenaran ibarat menggengam bara api. Bara api yang panas, menyengat, membakar bahkan terkadang nyawa yang menjadi taruhannya.

Rasulullah bersabda yang artinya :

akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya ibarat orang yang menggenggam  bara api” (HR. Tirmidzi no. 2260.)

Keberanian dalam menjaga kebenaran adalah harga mati yang harus dijaga dan dipertahankan, dirawat, dipelihara serta diamankan.

Dahulu, para pemberani dari kalangan para sahabat Rasulullah telah menorehkan dalam buku buku sejarah. Tentang  keberanian dan keteguhan mereka dalam menjaga dan mempertahankan kebenaran. Yaitu aqidah dan tauhid yang telah mereka genggam. Ya!! , betapa tidak, acapkali kebenaran tersebut manjadikan orang tua mereka sebagai taruhannya. Mari kita sejenak merenungkan bagaimana sosok pemberani aqidah Saad bin Abi Waqqas Rhadiyallahu Anhu’ .Ia harus berani menjaga aqidah islam ditengah desakan ibunda beliau, untuk menanggalkan baju kebenaran.

Beliau berpijak dan berdiri kokoh ibarat gunung yang takkan goyah. Dan  tak gentar dengan kemarahan sang Ibunya. Puncaknya ketika ibunya mengharamkan makanan pada dirirnya(mogok makan). Hal tersebut terjadi setiap hari. Sampai menyebabkan ibunya menjadi lemah, lumpuh dan kurus. Tujuannya adalah supaya Saad bin Abi Waqqas menanggalkan imannya.

Namun sosok yang pemberani itu tetap tegar seraya berkata kepada sang ibunda tercinta: “ibu, sekalipun aku sangat mencintaimu, namun aku tetap lebih mencintai Allah dan Rasul-NYA. Demi Allah seandainya engkau mempunyai seribu nyawa lalu nyawa itu keluar dari jasad ibu satu persatu, aku tetap tidak akan pernah meninggalkan agamaku dengan alasan apapun”.

 

Para sahabat adalah sosok pemberani dizamannya. Merekalah pejuang kebenaran . Sehingga kebenaran takkan pernah mundur dari arena pertarungan ketika kebenaran dan kebatilan bertemu.

Karena sikap sahabat yang mulia tersebut Allah kemudian menurunkan ayat-NYA.  Dan membenarkan akan keputusan yang begitu berani dari seorang murid terkemuka Rasulullah yang Artinya :

 

وَإِن جٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ  أَن  تُشْرِكَ  بِى مَا لَيْسَ  لَكَ  بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا  ۖ  وَصَاحِبْهُمَا فِى    الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ۚ  ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan jika keduanya (kedua orang tua) memaksamu untuk mempersekutukan sesuatu dengan-KU yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan tetaplah pergauli keduanya di dunia dengan baik “ (QS. Lukman: 15).

Kisah yang lain menceritakan tentang sejarah keberanian yang berpijak diatas kebenaran. Seorang pejuang pembela al Haq yang namanya akan terus terdengar dari mimbar-mimbar masjid. Namanya akan terus tersirat dalam lembaran-lembaran buku keagungan. Semangatnya akan terus membakar jiwa yang haus akan kemuliaan. Sungguh  pengorbanan dan keagungannya akan menjadi sejarah yang abadi dan tidak pernah terkubur oleh tangan kemunafikan. Dan tidak akan pernah tenggelam oleh bisikan kedurjanaan. Serta tak pernah pudar dari hati para perindunya.

Dialah sahabat yang agung, Abu Ubaidah bin Al Jarrah seorang laki laki yang ramah. Lelaki sangat tawadhu, serta pemalu. Tetapi jika suatu masalah penting menerpanya dan perkara genting menghadangnya maka dia akan berubah laksana singa yang mengaum. Singa yang menampakkan taring dan kuku kukunya.

Dalam kisah perang Badar, Abu Ubaidah tampil sebagai sosok pemberani pemusnah kekafiran.  Beliau berpijak pada kebenaran sehingga harus menebus semua itu. Hingga akhirnya beliau menjadi pembunuh kekafiran yang ada pada Ayahnya sendiri. Ketika terjadi perang badar, ayahnya tersungkur dan terkubur kedalam tanah kekafirannya dengan tebasan pedang dari darah daginnya sendiri.  Peristiwa ini kemudian diabadikan  dalam kitab-NYA. Sebagaimana yang termaktub dalam surah Al Mujadilah yang artinya :

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-NYA, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang mana Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-NYA dan Dia memasukkan mereka kedalam surge yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-NYA. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS. Al- Mujadilah : 22).

Abu Ubaidah tidak membunuh Ayahnya.  Namun beliau membunuh kekafiran , kedurhakakan, kesombongan dan keangkuhan yang ada pada dirinya. Berat untuk menerima, berat untuk melangkah. namun kebenaran dan cinta pada Allah dan Rasul-NYA menjadi pijakan yang akan menjadikan semua rintangan mudah dan kecil untuk dilewati dan dilalui. Demikianlah kisah pejuang kebenaran yang tertulis dengan tinta emas.

Baca Juga:

Generasi Terbaik dan Generasi Terburuk

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »