Keimanan yang Hakiki

Nov 14 • Aqidah • 3224 Views • No Comments on Keimanan yang Hakiki

Mukran Usman, Lc (By Editor)

Sebagian manusia mengaku beriman kepada Allah Shubhanahu wa ta ‘ala namun keimanan mereka hanya sebatas pada perkataan belaka. Orang yang benar keimanannya kepada Allah dengan jelas disebutkan dalam Al-Qu’an tentang ciri-ciri mereka. Ciri-cirinya yaitu:

 

Pertama, mereka yang memiliki keimanan yang hakiki, kepada Allah I. dan kepada Rasul-Nya dalam hati mereka tidak ada keragun.

 

Dan ini telah disebutkan oleh Allah Idalam Al Qur’an dalam surah Al Hujuraat ayat 15, Allah Iberfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ ﴿١٥﴾

Sesungguhnya kata Allah I orang-orang yang beriman adalah mereka-mereka yang beriman kepada Allah dan beriman kepada Rasul-Nya kemudian dalam keimanan mereka tersebut tidak ada keraguan dalam hati-hati mereka.”

 

Saudaraku,

Ketika anda mendapati hati anda, tidak ada keraguan untuk menyembah-Nya dan untuk taat kepada Rasulullah r. Maka ini merupakan ciri bahwasanya anda telah beriman dengan sesungguhnya, dengan keimanan yang hakiki kepada Allah I.

 

Kedua, ciri mereka-mereka yang memiliki keimanan yang hakiki(keimanan yang sesungguhnya) kepada Allah I yaitu mereka yang ketika datang keputusan dari Rasulullah merekapun berpasrah diri, Serta tidak ada rasa berat dalam hati untuk menerima keputusan tersebut. Allah Iberfirman dalam Surah An Nisa ayat 65, Allah Iberfirman,

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً ﴿٦٥﴾

”Dan demi Tuhan kalian, kalian tidak beriman kepada Allah Isampai kalian menjadikan Rasulullah sebagai hakim dalam perkara-perkara yang kalian perselisihkan kemudian kalian tidak ada rasa berat hati untuk menerima keputusan yang telah diputuskan oleh Rasulullah r tersebut, kemudian kalian berpasrah diri, berserah diri untuk menerima keputusan Rasulullah.”

 

Dan Rasulullah hari ini telah meninggal, bagaimana kita bisa mengaplikasikan bahwasanya kita menjadikan Rasulullah sebagai hakim dalam perkara yang kita perselisihkan? ketika anda mendapati perselisihan dalam diri anda?, dan kaum mukminin? maka kembalikanlah kepada sunnah Rasulullah r, hal tersebut merupakan bentuk anda menjadikan Rasulullah sebagai hakim dalam perkara yang anda perselisihkan.

 

Ketiga, Saudaraku yang berbahagia, mereka yang memiliki keimanan yang hakiki kepada Allah I yaitu Orang yang ketika mendengarkan kalimat Allah maka hati mereka bergetar, ketika mereka dibacakan ayat-ayat Allah maka keimanan mereka bertambah dan mereka semakin kuat untuk senantiasa bertawakkal kepada Allah I.

 

Dalam Surah Al Anfaal ayat 2-4, Allah Ibefirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ﴿٢﴾

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal,”

 

ketika mereka mendengarkan suara adzan maka mereka bersegera untuk meninggalkan pekerjaan mereka kemudian bersegera untuk menerima panggilan dari Allah I,

الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ ﴿٣﴾

“(yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

Dan ketika mereka mendengarkan ayat-ayat Allah tentang neraka,surga,hari kebangkitan(kiamat) maka keimanan merekapun semakin bertambah, semakin taat untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah I, juga mereka senantiasa bertawakkal kepada Allah I. Dalam hal ini Allah I mengatakan dalam ayat tersebut yaitu mereka yang senantiasa melaksanakan perintah shalat dan juga berinfaq, dengan mengeluarkan sedekah dari rezeki yang Allah I berikan kepada mereka,

Kemudian Allah I menutupnya dengan mengatakan,

أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقّاً لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ ﴿٤﴾

“Maka mereka ini adalah orang-orang yang memiliki keimanan yang sesungguhnya, yang memiliki keimanan yang hakiki kepada Allah I.”

Saudaraku,

Marilah kita senantiasa memuhasabah diri kita apakah kita ini sudah termasuk orang-orang yang memiliki keimanan yang sesungguhnya, keimanan yang hakiki kepada Allah I ataukah keimanan kita  ini masih adalah keimanan yang palsu kepada Allah I.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »