Ketika Rahasia Diperlihatkan

Jan 4 • Qalbu • 490 Views • No Comments on Ketika Rahasia Diperlihatkan

Semua orang memiliki rahasia, baik rahasia yang baik atau yang buruk. Orang-orang yang shalih merahasiakan amalan-amalan mereka di dunia. Mereka tidak ingin dilihat oleh manusia atas perbuatan baik yang mereka lakukan.

Orang-orang yang berpura-pura shalih menyembunyikan keburukan mereka, mereka hanya menampakkan kebaikan mereka pada manusia, namun menyembunyikan amalan buruk tatkla mereka bersendiri dalam kesunyian.

Orang-orang munafik menyembunyikan kekufuran dan kebencian mereka terhadap islam, lalu berpura-pura beriman di depan manusia.

Dan pada akhirnya semua itu akan ditampakkan oleh Allah Azza wajalla pada hari hari kiamat dihadapan seluruh manusia. Allah Azza wajalla berfirman:

يَوۡمَ تُبۡلَى ٱلسَّرَآئِرُ [٩] فَمَا لَهُۥ مِن قُوَّةٖ وَلَا نَاصِرٖ [١٠]

“Pada hari dinampakkan segala rahasia. Maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatanpun dan tidak (pula) seorang penolong”. (QS. Al-Thariq: 9-10)

Pada hari itu, seorang yang beriman nan shalih akan tersenyum gembira. Telah diperlihatkan surga di pelupuk matanya. Namanya akan mulia, rahasia-rahasia amalan shalihhnya akan diperlihatkan oleh Allah sambil memujinya.

Pada hari itu, seorang yang berpura-pura shalih akan menanggung malu yang amat besar. Rahasia-rahasianya yang dulu dia sembunyikan berupa keburukan yang pernah dia lakukan dalam gelap dan sunyi, akan ditampakkan dihadapan seluruh manusia. Hingga orang-orang mengetahui bahwa keshalihannya yang dulu itu hanyalah kepura-puraan dan tipuan belaka.

Pada hari itu, orang-orang munafik akan gigit jari, hingga memasukkan tangan-tangan mereka ke dalam mulut-mulut mereka. Rahasia-rahasia mereka ditampakkan, kekufuran mereka tak mampu disembunyikan lagi, sedang pandangan mereka terarah pada neraka yang telah ditampakkan di pelupuk matanya.

Andai saja kita adalah orang-orang yang disebut dalam hadits Nabi Shallallahualaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah Azza wajalla akan mendekati seorang muslim, lalu meletakkannya dalam timbanganNya dan menutupnya dari pandangan manusia. Allah kemudian menyebutkan dosa-dosanya dan berkata, “Tahukah engkau dosa ini, tahukah engkau dosa ini, apakah engkau mengetahui dosa ini?” hingga jika Allah telah menyebutkan dosa-dosanya itu, orang itu mengira dirinya akan segera binasa. Lalu (dalam keguncangan jiwa dan ketakutannya itu) tiba-tiba saja Allah berkata padanya, “Sesungguhnya Aku telah menutup dosa-dosamu ini di dunia (hingga manusia tidak mengetahuinya-penj) dan sekarang Aku mengampuninya untukmu. Kemudian Allah memberikan kitab kebaikannya untuknya. “ (HR. Ahmad)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berakata: “Betapa banyak dosa yang kita lakukan yang telah ditutupi oleh Allah Azza wajalla, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. Lalu pada hari kiamat, Allah akan menyempurnakan nikmatNya pada kita dengan ampunanNya dan tidak memberikan hukuman  karenanya, walillahil hamd”. (Syarh Riyadh al-Shalihin: 1/415)

Tapi siapa yang bisa menjamin kita adalah orang yang dimaksud oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits suci itu? Sementara lisan ini begitu sering menggunjing dan menyebarkan aib-aib saudara kita? Bagaiama bisa Allah akan menutup aib kita jika keburukan ini sering kita lakukan, lalu kita tidak merasa bersalah dengannya?

Siapakah gerangan yang bisa mentazkiyah kita, bahwa kita adalah orang yang dimaksud oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang suci itu? Sementara kita, selalu saja merasa sombong dan tidak merasa diri memiliki begitu banyak aib-aib dan keburukan yang mungkin saja lebih banyak dari orang yang kita gunjingi itu, lalu dengan santainya kita merendahkan manusia dengan membicarakannya.

Duh jiwa, mengapa masih saja seperti itu?

Tidakkah kita berhenti sekarang saja dan memulai hidup baru, mengisi lembaran-lembarannya dengan taubat dan istighfar kepadaNya? Tidakkah kita berhenti saja melakukan berbagai keburukan itu lalu memantapkan rasa khasyyah di dalam dada.

Yaa Allah, tutuplah segala aib-aib kami dan aib-aib orang-orang yang membaca pesan ini serta ampuinilah dosa-dosa kami yang hina ini. Sungguh kami menyadari diri ini yang begitu sering terjatuh dalam kelalaian dan dosa. Tapi kami tahu, Engkaulah satu-satunya Rabb kami yang kami sembah, yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kami beriman kepadaMu yaa Allah, maka ampuni kami.

Saudaraku, jangan lupakan kami dalam shalihnya doa-doamu,

 

Sokkolia, 17 Rabiul Awwal 1439 H

Akhukum Fillah

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »