Keutamaan Wudhu

Apr 19 • Ibadah • 73 Views • No Comments on Keutamaan Wudhu

Berikut adalah hadits Dari Humran ketika beliau melihat Utsman Bin Affan berwudhu

عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رضي اللهُ عنهما : (( أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوءٍ , فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إنَائِهِ , فَغَسَلَهُمَا ثَلاثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الْوَضُوءِ , ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاثاً , وَيَدَيْهِ إلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلاثًا , ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ , ثُمَّ غَسَلَ كِلْتَا رِجْلَيْهِ ثَلاثًا , ثُمَّ قَالَ : رَأَيْتُ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ، وَقَالَ : (( مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا , ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ , لا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ))

بِوَضوءٍ : الوَضوءُ بفتحِ الواوِ ، معناه الماءُ الذي يتوضأُ بِهِ ، وبضمِّها ، فعلُ الوُضوءِ .

 

Dari Humran bekas budak Utsman Ibn Affan radhiyallahu ‘anhuma, ia melihat Utsman meminta untuk diambilkan air wudhu, kemudian ia menuangkan air pada kedua tangannya dengan air dari bejana itu, lalu mencucinya sebanyak 3 kali. Kemudian ia memasukkan tangan kanannya ke dalam air wudhu, kemudian berkumur-kumur, menghirup air ke hidung lalu membuangnya. Kemudian membasuh wajahnya 3 kali, membasuh tangan hingga sikunya sebanyak 3 kali, lalu mengusap kepalanya, kemudian mencuci kedua kakinya 3 kali, kemudia ia berkata: “Aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu seperti caraku berwudhu ini dan beliau bersabda, “Siapa yang berwudhu dengan cara wudhuku ini, lalu shalat 2 raka’at dan tidak berbicara diantara keduanya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Pelajaran:

 

  1. Hadits ini menunjukkan bahwa meminta air tidak mempengaruhi kedudukan seseorang, walau lebih utama hendaknya seseorang berupaya untuk mengurusi dirinya sendiri. Sebab Utsman Ibn Affan radhiyallahu ‘anhu meminta untuk diambilkan air pada hadits ini, dan tidak diragukan kalau Utsman Ibn Affan radhiyallahu ‘anhu merupakan diantara orang-orang yang paling mulia dari umat ini, setelah Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. (Syarah Umdatul Ahkam Karya Syaikh Dr. Sa’ad Ibn Nashir asy-Syatsri: 1/29)

 

  1. Orang-orang zaman dahulu menggunakan bejana tatkala berwudhu, dan ini lebih baik dari yang dilakukan orang-orang pada zaman kita hari ini yang berwudhu menggunakan kran air. Sebab jika menggunakan bejana akan lebih mudah untuk menghemat air. (Syarah Umdatul Ahkam Karya Syaikh Dr. Sa’ad Ibn Nashir asy-Syatsri: 1/29)

 

  1. Hadits ini menjelaskan sifat-sifat wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sempurna dan keutamaan mengikuti sunnahnya.

 

  1. Anjuran mencuci tangan sebelum memasukkan tangan kedalam bejana.

 

  1. Mencuci tangan sebelum wudhu bukan pada kondisi bangun dari tidur hukumnya sunnah berdasarkan ijma’. Adapun mencuci tangan setelah bangun dari tidur, para ulama berbeda pendapat dalam hal ini, jumhur ulama berpendapat hukumnya sunnah, sedang Imam Ahmad rahimahullah berpendapat wajib mencuci tangan untuk berwudhu setelah bangun dari tidur. Dan perkataan beliau dalam masalah ini lebih kuat dalam pandangan kami, sebab hukum asalah dalam setiap larangan adalah menunjukkan pengharaman.

 

  1. Anjuran berkumur-kumur, istinsyaq (menghirup air ke hidung) dan istinstar (mengeluarkan air dari hidung) tatkala berwudhu.

 

  1. Anjuran mengulangi basuhan sampai 3 kali dan tidak boleh lebih, serta bolehnya membedakan jumlah basuhan pada setiap gerakan.

 

  1. Anjuran mendahulukan tangan kanan ketika melakukan wudhu.

 

  1. Wajibnya mencuci tangan sampai siku.

 

  1. Wajibnya mengusap kepala. Syaikh Abdurraham Ibn Abdillah al-Bassam rahimahullah menukil perkataan syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah bahwa ia berkata: “Para ulama sepakat bahwa mengusap seluruh kepala hukumnya sunnah, sebagaimana telah disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih.” (Taudhih al-ahkam: 1/124)

 

  1. Telinga merupakan bagian dari kepala, maka yang disyariatkan adalah mengusap telinga dengan menggunakan air yang digunakan saat membasuh kepala dan tidak mengambil air yang baru. “Taudhih al-Ahkam: 1/124)

 

  1. Wajibnya mencuci kaki dan tertib dalam melakukan wudhu.

 

  1. Dalil disyariatkannya shalat sunnah setelah berwudhu.

 

  1. Orang-orang yang berwudhu sebagaimana wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

 

Oleh : Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

Alumni Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum Islam al-Ma’had al-‘Ali Liddirasaat al-Islamiyah Wallugah al-Arabiyah (STIBA) Makkassar

 

[Lih. Sumber: http://www.almunawy.com/2016/11/syarah-umdatul-ahkam-hadit-ke-7.html]

 

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »