manusia lebih tahu dirinya

Manusia Lebih Mengetahui Dirinya Sendiri

Nov 6 • Qalbu • 829 Views • No Comments on Manusia Lebih Mengetahui Dirinya Sendiri

Oleh: Ir. Muh. Qasim Saguni, MA

 (Tadabbur QS. Al-Qiyamah/75: 14-15)

  بَلِ ٱلۡإِنسَٰنُ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦ بَصِيرَةٞ ١٤ وَلَوۡ أَلۡقَىٰ مَعَاذِيرَهُۥ ١٥

Manusia lebih mengetahui dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya (QS. Al-Qiyamah/75: 14-15).

Maknanya adalah manusia itu meskipun berusaha membela perbuatan dan perkataannya, dimana perbuatan & perkataan tersebut ia akui itu benar/salah dengan berbagai alasan, pada akhirnya dia lebih mengetahui hakikat perbuatan dan perkataaanya sendiri, meskipun ia berusaha dengan gigih menutup-nutupinya dihadapan orang lain atau mengemukakan berbagai alasan. Tiada seseorang yang lebih mengerti tentang dirinya kecuali dirinya sendiri.

Makna “bashirah” pada ayat di atas adalah “al-wudhuh wal-hujjah”(kejelasan dan bukti).

Penerapan Kaidah dari Ayat ini:

  • Hendaknya seseorang lebih sibuk mengurus aib dirinya sendiri. Sehingga ia selalu luput mengurusi dan mencari-cari aib/kesalahan orang lain. Dan hendaknya ia juga tidak condong/larut mengikuti aib dan kesalahannya. Karena itu adalah sifat bawaan/kebiasaan, karena tidak seorangpun manusia lebih mengerti tentang pribadinya termasuk aibnya kecuali dirinya sendiri.

Qatadah Rahimahullah memberikan komentar terhadap ayat tersebut di atas: Jika kamu ingin tahu siapa yang dimaksud dalam ayat tersebut, maka ia adalah yang mengetahui aib dan kesalahan orang lain dan lupa pada aib dan dosanya sendiri.

  • Ketika orang lain memuji diri kita, maka janganlah terlena dengan pujian itu dan cepat berbangga. Karena boleh jadi kita lebih buruk dari apa yang mereka sangka. Pada hakikatnya kitalah yang paling tahu diri kita yang sesungguhnya.
  • Sebaliknya jika orang lain luput menghargai kita bahkan menghinakan, jangan rendah diri dan merasa terhina, sebab mereka tidak mengetahui hakikat diri kita, boleh jadi kita lebih baik dari mereka.
  • Ketika berinteraksi dengan teks-teks syari’ah, terkadang kita berusaha mencari rukhshah (keringanan) dan celah untuk membenarkan perbuatan dan perkataan yang salah padahal hati kitapun telah mengakui akan kesalahan tersebut. Manusia lebih mengetahui dirinya sendiri, karena itu ikutilah suara hati karena tidak pernah berdusta.

Buah Penerapan Kaidah dari Ayat ini:

  • Dengan menerapkan kaidah “Manusia lebih mengetahui dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya” adalah kemudahan untuk mengetahui kesalahan dan dosa yang dilakukan. Ini merupakan derajat yang dimiliki para nabi, orang-orang jujur dan para pribadi yang shalih. Perhatikan pengakuan-pengakuan mereka:
  1. Pengakuan orang tua kita Adam dan hawa setelah memakan buah khuldi (lihat QS. 7:23)
  2. Penyesalan Nabi Nuh alaihissalam saat dilarang oleh Allah meminta sesuatu yang tidak mungkin diketahui hakikatnya (lihat QS. 11: 47)
  3. Ratapan Nabi Musa alaihissalam yg menyesal telah membunuh seorang laki-laki dengan tinjunya (lihat QS. 28:16).

Semoga Allah senantiasa membimbing hati, lisan dan perbuatan kita pada kebaikan.

(Sumber: Qawa’id Qur’aniyyah, 50 Qaaidah Qur’aniyyah fi al-Nafs wa al-Hayah, hal. 29-33).

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »