membangun kepercayaan

Membangun Kepercayaan Anak Pada Orang Tua

Jan 10 • Keluarga Sakinah • 670 Views • No Comments on Membangun Kepercayaan Anak Pada Orang Tua

Oleh : Askaryaman, S.Pd., M.Pd

(Praktisi Anak & Remaja)

Modal yang paling besar yang diberikan orang tua terhadap anak adalah kepercayaan. Jika anak percaya kepada orang tuanya, maka anak akan mudah menerima nasehat orang tuanya, pengajaran apapun yang diberikan akan mudah diikuti  oleh mereka, anak akan bangga terhadap orang tuanya, dan mereka akan senantiasa mengingat sampai kapanpun arahan orang tua. Sebaliknya apabila orang tua kehilangan kepercayaan dari anak-anak mereka. maka pengajaran atau nasehat yang sangat berharga bagi mereka tidak akan bermanfaat, anak kurang hormat dengan orang tua dan dampak yang paling buruk adalah anak akan benci dengan orang tuanya dan mencoba mencari idola lain.

Terkadang orang tua tidak menyadari hal ini, setelah anak sudah hilang kepercayaan kepada orang tuanya barulah orang tua kaget atau menyesal bahkan ada orang tua yang menyesal akan apa yang ia lakukan selama ini. Setelah anak tidak lagi mendengar nasehat, anak mulai membantah orang tua serta tidak patuh. Ketika seorang anak telah dinasehati oleh orang tuanya,  anak tersebut malah berbalik, dan berkata kepada orang tuanya agar memperbaiki diri dulu kemudian nasehati orang lain, bahkan ada anak yang sampai membenci orang tuanya.

Sebenarnya peran orang tua sangat besar dalam mendidik anak mereka, untuk percaya pada orang tua. Hal ini harus dibangun sejak dini dan terus ditingkatkan seiring dengan perkembangan fisik dan psikologis anak. Hal yang perlu diperhatikan orang tua dalam membangun kepercayaan anak adalah :

  1. Kesesuaian antara perkataan dan perbuatan

Secara umum sifat manusia manakala dinasehati maka yang paling pertama dia lihat adalah apakah orang yang menyampaikan nasehat sudah melakukan apa-apa yang dia katakan dengan perbuatannya. Apabila sang pemberi nasehat sesuai antara  kata dan perbuatannya maka nasehat tersebut akan dengan mudah diikuti, akan tetapi apabila yang memberi nasehat tidak sama antara kata dan perbuatan maka sang pemberi nasehat akan kehilangan kepercayaan dan sulit untuk diteladani. Oleh karena pentingnya antara kata dan perbuatan bagi sang pendidik, orang tua, da’i maka Allah Shubhana wa ta ‘ala  menyebutkan dalam (QS. 61 : 2-3)

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ (٢) ڪَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ (٣)

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? 3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Demikian pula dala (QS. 2:44) :

۞ أَتَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبِرِّ وَتَنسَوۡنَ أَنفُسَكُمۡ وَأَنتُمۡ تَتۡلُونَ ٱلۡكِتَـٰبَ‌ۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ (٤٤)

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”

 

Bagaimana mungkin anak akan percaya dan mengikuti perkataan   orang tua, apabila ia menyuruh anaknya untuk shalat, puasa, mengaji sementara orang tuanya sendiri tidak melakukannya, ia menyuruh untuk hidup bersih, makan dan minum dengan tangan kanan jangan berdiri sementara yang ditampilkan orang tua bertentangan dengan apa yang ia katakan.

Secara umum sifat anak adalah mudah meniru apa yang ia dengar, lihat dan rasakan. Apabila yang diperlihatkan orang tua bertentangan antara kata dan perbuatan maka akan muncul penentangan pada diri anak. Anak yang masih kecil bentuk penentangannya adalah dengan bertanya kepada orang tua dengan pertanyaan yang sangat lugu namun terkadang orang tua tersinggung. Misalnya orang tua mengajarkan anak untuk jangan makan berdiri, namun suatu ketika orang tua makan berdiri maka anak akan bertanya ”kok mama makan berdiri, mama cara makannya seperti syitan!, katanya orang saleh harus makan duduk?, dll” ungkapan yang mungkin mengesalkan. Jika mendapat ungkapan seperti ini maka sebaiknya orang tua tidak marah, tetapi cepat introspeksi diri dan minta maaf kepada anak sebab ungkapan maaf tidak akan menyebabkan orang tua menjadi rendah dihadapan anak tetapi akan lebih menguatkan kebaikan dari apa yang diajarkan. Misalnya “Astagfirullah, mama lupa nak, harusnya makan sambil dudukkan” kemudian siibu memperbaiki posisi makannya. Dengan cara ini anak akan semakin yakin terhadap apa yang selama ini diajarkan adalah merupakan suatu kebaikan, artinya apa yang diajarkan orang tua bukan hanya untuk anak saja tetapi juga untuk yang lain termasuk orang tua.  Ajaran keliru terkadang terjadi pada saat orang tua malu atau gengsi dihadapan anak pada saat ditegur maka ia mengelak seakan membenarkan perbuatan yang keliru tersebut dengan mengatakan “kan mama sudah tua tidak apa-apa kalau minum berdiri, kalau masih kecil yaa harus minum duduk” jawaban politis macam ini bukan hanya sesat tetapi juga menyesatkan.

Anak telah diajarkan akhlak yang buruk, mengapa, karena anak akan berfikir kalau masih kecil harus melaksanakan kebaikan yang diperintahka tetapi kalu sudah tua tidak mengapa kalau melakukan keburukan. Dan hal ini akan ia lakukan dalam kasus-kasus yang lain.

Lain lagi halnya dengan anak yang sudah mengenal rasa malu atau menyinggung perasaan orang lain. Terkadang apabila apa yang diajarkan bertentangan dengan perbuatan maka mereka akan mencatat itu dalam benak mereka sebagai satu kesalahan, mereka tidak langsung bereaksi karena takut menyinggung perasaan tetapi mereka akan menyimpannya terus dalam benak mereka dan suatu ketika apabila mereka terdesak akan satu kesalahan tertentu maka hal ini akan ia ungkapkan.

Oleh karena itu setiap orang tua atau pendidik perlu memperhatikan hal ini yaitu satu kata dan perbuatan apabila ia ingin dihormati, disayang dan dipercaya oleh anak-anak mereka.

  1. Keteladan (memberi contoh yang baik)

Sebuah pepatah menyebutkan seribu nasehat tidak ada artinya jika tidak dibarengi dengan contoh. Rasulullah disegani oleh lawan dan kawan disebabkan beliau memberi contoh teladan dari apa yang beliau ajarkan.

Pada saat beliau mengajarkan tentang pentingnya shalat, beliau yang paling pertama melaksanakan bahkan dalam shalat tahajjud sampai bengkak kaki beliau, disaat beliau mengajarkan pentingnya bersedekah, beliau giat bersedekah sampai tidak bermalam uang dirumah kecuali beliau sedekahkan kepada fakir miskin, disaat beliau menyuruh sahabat untuk berjihad, beliau senantiasa paling depan dalam peperangan, dll. Beliau senantiasa menjadi pelopor dalam mengamalkan ajaran islam, oleh karenanya pantas kalau beliau dicintai oleh para sahabat sampai dengan kaum muslimin hari ini.

  1. Jangan membohongi mereka

Suka berbohong merupakan sifat buruk yang dalam Islam dikenal segai ciri/tanda kemunafikan. Hadits : Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tanda-tanda orang munafiq itu tiga; bila berkata ia bohong, bila berjanji ia mengingkari, dan bila dipercaya ia mengkhianati.”Berbohong juga akan menyebabkan sipembohong akan dicacat sebagai pendusta. “Jauhilah perbuatan dusta sebab sesungguhnya dusta itu dapat mengakibatkan perbuatan jahat dan sesungguhnya perbuatan jahat itu akan menyeret kepada api neraka. Selagi hamba itu berdusta dan terus menerus berdusta maka Allah akan menuliskannya sebagai pendusta”. (Al-Hadits).

Jika demikian besar bahaya berbohong maka orang tua perlu menjauhkan anak dari sifat ini. Hal yang perlu dilakukan agar anak jauh dari sifat yang buruk ini adalah  memberikan teladan yang baik dengan tidak mendustai mereka seperti :

  • agar mereka berhenti menangis, berjanji memberikan sesuatu padahal tidak ditepati
  • membujuk mereka agar menyenangi sesuatu dengan harapan yang tidak ditepati
  • menenangkan mereka dari marah
  • menjanjikan sesuatu yang tidak ditepati

Jika hal ini dilakukan maka secara tidak langsung orang tua telah membiasakan anak untuk melakukan kebiasaan buruk dan ini berbahaya sebab orang tua akan kehilangan kepercayaan dari anak dan juga menghilangkan pengaruh nasehat.

  1. Membiasakan anak dengan hal-hal yang baik

Membiasakan sejak dini anak pada akhlak yang mulia, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Seharusnya yang paling pertama melakukan akhlak yang mulia tersebut adalah orang tua sebab hal ini akan menjadi contoh bagi anak-anak mereka. Hal ini penting, sebab orang tua yang menyuruh anaknya melakukan hal-hal yang baik maka anak tersebut akan mengikut karena mereka telah melihat contoh dari orang tua. Dampak yang lain adalah akan anak akan semakin percaya terhadap apa yang disampaikan orang tuanya dan hormat kepadanya.

  1. Teguran yang bermakna

Apabila anak melakukan kesalahan maka kewajiban orang tua untuk menegur serta mengarahkan mereka kepada hal-hal yang baik. Anak yang melakukan kesalahan kemudian tidak ditegur, maka anak akan mengulangi kesalahan tersebut. Teguran yang diberikan haruslah yang bermakna sehingga anak akan menyadari kesalahan tersebut dan tidak mengulangi, seperti tidak mempermalukan mereka dihadapan umum, bukan untuk mencela pribadinya, dengan kata-kata yang sopan/bukan kasar, dll.

  1. Orang tua harus sepakat dalam mendidik anak

Kesepakatan orang tua dalam mendidik anak

  1. Jangan menjatuhkan suami dihadapan anak demikian pula sebaliknya
  2. Jadilah orang tua yang demokratis tidak otoriter
  3. Berlaku adil terhadap mereka

 keyword: membangun kepercayaan anak

Wallahu A’lam Bissawab

Baca Juga>>

Keistimewaan Memiliki Banyak Anak

Pendidikan Akhlak Sejak Dini

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »