Membersihkan Najis Akibat Jilatan Anjing

Apr 24 • Hadits • 153 Views • No Comments on Membersihkan Najis Akibat Jilatan Anjing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ : (( إذَا شَرِبَ الْكَلْبُ فِي إنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعاً)) .

وَلِمُسْلِمٍ : (( أُولاهُنَّ بِالتُّرَابِ )) .

وَلَهُ فِي حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ : (( إذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي الإِناءِ فَاغْسِلُوهُ سَبْعاً وَعَفِّرُوهُ الثَّامِنَةَ بِالتُّرَابِ )) .

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seekor anjing minum pada bejana salah seorang diantara kalian maka hendaknya kalian mencuci bejana tersebut sebanyak 7 kali.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat imam muslim: “Awalnya dengan tanah.” (HR. Muslim)

Juga dalam riwayat beliau hadits dari Abdullah Ibn Mughaffal, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seekor anjing menjilat pada bejana salah seorang diantara kalian, maka hendaknya kalian mencuci bejana tersebut sebanyak 7 kali, lalu ke delapannya dicuci menggunakan tanah.” (HR. Muslim)

Pelajaran:

  1. Perkatanaan Nabi shallallallahu ‘alaihi wasallam Idza (إذ) merupakan adawat syarth yang menetapkan harus adanya jawaban dari suatu persyaratan. Maka sabda Nabi apabila seekor anjing minum (إذا شرب) atau apabila ia menjilati (إذا ولغ) jawaban dari syaratnya adalah (فليغسله) yaitu hendaknya ia mencucuinya. (Syarah Umdatul Ahkam Karya Dr. Sa’ad Ibn Nashir asy-Syatsri: 1/22)

 

  1. Dipahami dari adawat syarth ini adanya penafian hukum pada perkara yang didiamkannya. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Apabila anjing minum pada bejana kalian maka hendaklah mencucinya 7 kali,” artinya jika anjing tersebut tidak minum pada bejana tersebut maka tidak wajib mencucinya sebanyak 7 kali.

 

  1. Najisnya anjing, akan tetapi tidak pada seluruh badannya, melainkan mulut dan air liurnya saja. Hal ini ditinjau dari beberapa alasan:
  • Dipahami dari mafhum mukhlafah hadits ini apabila ia tidak minum atau menjilati bejana maka tidak perlu dicuci 7 kali. Sebagaimana pada point pertama, hadits ini menggunakan adat asy-syarth yang menetapkan jawaban syarth yaitu mencuci dan menafikan hukum yang didiamkannya.

 

  • Hukum asal segala sesuatu adalah suci, maka tidak boleh menghukuminya najis kecuali dengan dalil. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam masalah ini:

 

“Adapun mengenai hukum anjing, para ulama berbeda pendapat tentangnya menjadi 3 pendapat. Pendapat pertama menyatakan seluruh tubuhnya suci bahkan air liurnya, ini merupakan pendapat mazhab malikiyah. Pendapat kedua menyatakan seluruh tubuhnya najis hingga bulunya, ini merupakan pendapat mazhab syafi’i dan salah satu riwayat dari imam ahmad. Pendapat ketiga menyatakan bahwa bulu anjing suci adapun air liurnya najis. Ini merupakan mazhab Abu Hanifah dan Ahmad dalam satu riwayat darinya. Pendapat ketiga inilah yang paling dari seluruh perktaaan-perkataan yang ada. Olehnya, jika bulu anjing yang kering mengenai pakaian atau badan maka ia tidak dihukumi najis. Namun jika mengenai air, maka airnya harus ditumpahkan.” (Al-Fatawa Al-Kubra: 1/417)

 

Mengenai alasannya beliau berkata:

 

وَالْقَوْلُ الرَّاجِحُ هُوَ: طَهَارَةُ الشُّعُورِ كُلِّهَا: الْكَلْبُ، وَالْخِنْزِيرُ، وَغَيْرُهُمَا بِخِلَافِ الرِّيقِ، وَعَلَى هَذَا فَإِذَا كَانَ شَعْرُ الْكَلْبِ رَطْبًا، وَأَصَابَ ثَوْبَ الْإِنْسَانِ، فَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ، كَمَا هُوَ مَذْهَبُ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ أَبِي حَنِيفَةَ، وَمَالِكٍ، وَأَحْمَدَ فِي إحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنْهُ؛ وَذَلِكَ؛ لِأَنَّ الْأَصْلَ فِي الْأَعْيَانِ الطَّهَارَةُ، فَلَا يَجُوزُ تَنْجِيسُ شَيْءٍ وَلَا تَحْرِيمُهُ إلَّا بِدَلِيلٍ

 

“Dan yang rajih dalam masalah ini adalah sucinya seluruh bulu anjing dan babi serta selain dari keduanya kecuali air liurnya. Oleh karena itu, apabila bulu anjing yang kering mengenai pakaian seseorang maka tidak mengapa, sebagaimana mazhab jumhur ahli fiqih Abu Hanifah, Malik, dan salah satu riwayat dari Ahmad. Sebab hukum asal segala sesuatu adalah suci maka tidak boleh menghukuminya sebagai sesuautu yang najis atau haram kecuali dengan dalil.” (Al-Fatawa Al-Kubra: 1/264)

 

  1. Wajib mencuci bejana yang dijilati anjing 1 kali dengan tanah ditambah 7 kali dengan air suci. Serta tidak boleh menggantikan tanah dengan sabun dan lainnya. Syaikh al-Allamah Abdullah Ibn Abdurrahman al-Bassam berkata: “Menetapkan tanah dalam penyuciannya, maka tidak boleh menggunakan pembersih-pembersih yang lainnya karena beberapa sebab: (1) terdapat sesuatu yang tidak dapat disucikan kecuali menggunakan tanah, (2) Telah jelas dalam bahasan-bahasan ilmiyah bahwa ada najiis-najis yang hanya bisa disucikan dengan tanah yang tidak bisa disucikan oleh yang lainnya, (3) Tanah merupakan sesuautu yang disebutkan dalam hadits maka wajib mengikuti nash hadits. (Taudhih al-Ahkam Min Bulugh al-Maram: 1/85)
  2. Najisnya air yang telah dijilati oleh anjing.
  3. Air liur anjing adalah najis mughallazhah (najis besar).
  4. Secara zhahir hadits ini umum pada seluruh anjing, akan tetapi beberapa ulama mengecualikan anjing-anjing yang diizinkan secara syariat, yaitu anjing yang dipelihara untuk berburu, menjaga pertanian dan menjaga hewan ternak. (Taudhih al-Ahkam: 1/86)

 

Oleh : Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

[Alumni Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum Islam al-Ma’had al-‘Ali Liddirasaat al-Islamiyah Wallugah al-Arabiyah (STIBA) Makkassar]

 

[Sumber : http://www.almunawy.com/2016/11/syarah-umdatul-ahkam-hadits-ke-6.html]

 

 

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »