Teman setia

Memilih Teman Bergaul

Dec 15 • Muamalah • 1131 Views • 2 Comments on Memilih Teman Bergaul

Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I

(Dewan Syariah Wahdah Islamiyah)

[—-dikutip dari ceramah Jum’at—-]

Para salaf  (Orang shaleh terdahulu) semangat untuk menuntut ilmu dan duduk bersama para orang-orang saleh, karen hal ini merupakan pesan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berpesan agar kita senantiasa  bersama Dan bereteman dengan orang-orang saleh yang senantiasa ruku’ dan sujud dan mengingatkan kita dengan hari Akhirat . Merekalah yang akan mengambil tangan kita, ketika kita tergelincir. Sebagaimana sahabat dan Tabi’in, sebagaimana kisah  Adha bin Abi Rabah dan yang lainnya. Mereka semangat duduk dimajelisnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Karena sesungguhnya penyesalan yang paling besar yang akan dirasakan seseorang dihari kiamat  adalah  ketika ia keliru memilih teman di Dunia. Allah memisalkan keadaan mereka nanti dihari kiamat dan ini disampaikan oleh Allah untuk menghindarkan diri kita jangan sampai termasuk orang-orang yang demikian itu. Allah Shubhanahu Wa ta‘Ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَيَوۡمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيۡهِ يَقُولُ يَـٰلَيۡتَنِى ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلاً۬

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul” (Al-Furqan:27)

Hal ini menunjukkan penyesalan yang dalam.

Mereka juga berkata “Aduhai mengapa dulu di Dunia saya tidak menjadikan rasul dan Pengikutnya dan orang saleh menjadi teman-teman saya”.

”aduhai seandainya dulu di dunia saya tidak berteman dengan fulan yang menyesatkan saya, sungguh dia telah menyesatkan aku setelah Allah memberikan hidayah dan petunjuk kepadaku”

mungkin dia mendapatkan orang yang senantiasa mengajaknya untuk melakukan kebaikan namun ia lebih memilih untuk bersama dengan orang-orang yang menjauhkan dia dari jalan agama Allah shubhanahu Wa ta‘ala.

Tiga jenis orang yang dijadikan teman

Oleh karenanya Imam Ibnu Qayyim rahimamullah membagi manusia  yang dijadikan teman, menjadi tiga bagian :

1.Orang Shaleh

Ada diantara manusia Kebutuhan kita kepadanya seperti kebutuhan kita terhadap makanan dan minuman. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang shaleh, para ulama, orang-orang yang mengenal Masjid orang-orang yang senantiasa menghambakan dirinya kepada Allah Shubhanahu Wa Ta ‘Ala yang senantiasa bermuhasabah dan tidak tertipu dengan gemerlapnya Duniawiah. Yang mengingatkan kepada kita dengan akhirat, mengingatkan kepada kita kepada Allah yang memberikan kita nasehat untuk diri kita, karena sebagian orang jika diberikan nasehat , malah mengatkan “ Silahkan urus dirimu sendiri, tidak usah mengurus orang lain”.

Kepribadian orang saleh tidak seperti itu,  orang saleh tidak hanya menikmati kesalehannya namun dia berusaha menyampaikan kesalehan itu pada orang lain. karena Allah Shubhanahu Wa ta ‘Ala telah menjamin dalam Al-Qur’an . Bahwa Allah tidak menurunkan Azab kepada suatu kaum selama diantara mereka masih ada orang-orang yang melakukan perbaikan. Oleh karenanya mari kita istijaba yaitu memenuhi panggilan orang yang menginginkan kebaikan pada kita. hal ini merupakan perintah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam beliau bersabda: belum seseorang itu dikatan beriman kepada Allah sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana cinta kepada dirinya sendiri dari kebaikan. Sebagaimana Dia cinta kebaikan kepada Allah dia cinta untuk menyampaikan hidayah itu kepada Saudara-saudranya agar ia kemudian juga merasakan nikmatnya hidayah dan beribadah kepada Allah.

 

2. Orang yang memberikan mamfaat.

Ada diantara manusia yang pergaulan kita dengan mereka sama dengan mengkonsumsi obat apakah kita membutuhkan obat setiap saat?

Tentu tidak, kita membutuhkan obat karena ada sesuatu yang berbahaya. Siapa mereka?

Mereka adalah orang-orang yang memberikan mamfaat kepada kita dari sisi duniawiah, Namun tidak memberikan mamfaat dari sisi ukrawiah, kita bergaul dengan mereka sekedarnya saja, kita bergaul dengan mereka sesuai kebutuhan kita. karena Allah mencela di Didalam Al-Qur’an orang yang mahir dari sisi Dunia Saja. sebagaimana disebitkan dalam Al-Qu’an Bahwa : Sungguh cerdas dan mahirnya dengan urusan dunia. Namun mereka lalai dalam urusan akhiratnya.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah benci terhadap orang-orang yang menyombongkan diri, yang hanya sibuk dipasar, yang hanya sibuk dengan perdagannya yang seperti bangkai dimalam hari Dia tidak gunakan untuk beribadah kepada Allah”. Mahir dengan urusan dunianya tapi jahil dengan urusan akhiratnya orang seperti ini kita bergaul dengannya sesuai dengan kebutuhan kita saja kalau kita bisa memeberikan pengaruh kepadanya untuk ikut menarik tangannya untuk ikut mengenal Allah Shubhanahu Wa Ta ‘Ala maka itulah yang lebih afdal, sebagaimana yang diibaratkan oleh sebagian ulama : “jadilah orang yang bermanhaj salaf seperti batu yang sangat besar ketika ia jatuh pada suatu tempat ia memberikan bekas dan jika sesuatu menjatuhinya maka dia tetap kokoh dan sesuatu itulah yang akan pecah”

inilah prinsip seorang muslim, berilah pengaruh tapi jangan terpengaruh.

3. Teman Laksana Racun

Ada diantara manusia ketika  kita bergaul dengannya, kita diibaratkan seperti orang yang mengkonsumsi racun Mematikan. Siapa mereka? Merekalah orang yang tidak memberikan mamfaat dalam urusan akhirat dan tidak memberikan mafaat pada urusan duniawiah yang tidak mengenal tuhannya dan tidak memiliki sesuatu yang bisa diandalkan untuk memajukan urusan duniawiahnya. Maka kata beliau  orang yang seperti ini berhati-hatilah dia bisa membinasakan engkau.

Kemudian pelajaran yang kedua dari kisah yang kita sebutkan tadi merupakan mahzab dan I’tiqal ahli sunnati wal jama’ah tidak boleh kita memastikan seseorang masuk kedalam syurga dan tidak boleh pula kita memastikan seseorang masuk kedalam neraka.

Sesholeh apapun seseorang dan sebesar apapun jasanya terhadap agama ini tidak boleh kita memastikan ketika ia meninggal dunia, dia adalah penghuni syurga .

tapi katakan “Insya Allah min ahlul jannah”  Inysa Allah dia termasuk penghuni syurga dan ini aqidah Ahlu Sunnah wal Jamaah, ketika salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang membantu beliau, telah meninggal Dunia dalam peperangan. (menyaksikan hal itu) sahabat kemudian berkata “sungguh indah dan berbahagialah ia dengan surga yang diberikan kepadanya”. Taoi,  Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kemudian mengatakan “tidak, sekali-kali tidak karena harta rampasan perang yang dia curi sebelum dibagikan itulah yang akan membakar dirinya di Dalam Neraka”

jadi kita tidak bisa memastikan seseorang bahwa Dia adalah penghuni surga

Demikianlah mudah-mudahan kita senantiasa selektif dalam memilih teman

Related Posts

2 Responses to Memilih Teman Bergaul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »