Manhaj Salaf perlu Bersatu

Mengapa Ahlussunnah Perlu Berorganisasi?

Feb 20 • Muamalah • 110 Views • No Comments on Mengapa Ahlussunnah Perlu Berorganisasi?

Manhaj Ahlussunnah (baca: al-Salaf) adalah manhaj yang paling realistis untuk dijadikan pegangan dan panduan hidup. Ia adalah sebuah manhaj yang mengajarkan Anda untuk dapat survive di berbagai kondisi.

Dan jika Anda termasuk orang yang telah meyakini benar keunggulan dan –tentu saja- kebenaran manhaj ini atas manhaj-manhaj lain, maka yang selanjutnya harus Anda pikirkan dengan keras adalah bagaimana menyampaikan manhaj ini kepada sebanyak mungkin manusia di muka bumi ini.

Maka terbayanglah, setiap hari Allah memberikan hidayah kepada 1 orang melalui dakwah Anda-misalnya-. Dan dalam setahun, ada 365 orang yang siap memperjuangkan manhaj ini bersama Anda. Itu artinya Anda memiliki 365 potensi yang siap untuk dikelola. Pertanyaan pentingnya: lalu bagaimana mengelola potensi-potensi itu demi memperkuat penyebaran manhaj al-haq tersebut?

Bagaimana jika Anda berdakwah selama 10 tahun-yang itu bisa saja berarti Anda memiliki 3.650 mad’u (baca: potensi) yang siap berjuang-? Bukankah untuk mewujudkan Islam yang kaffah, bukan hanya majlis-majlis ilmu syar’i yang harus kita semarakkan, namun juga “majlis-majlis” pengaturan  dakwah, pengendalian mutu dakwah, penyiapan SDM dakwah, dan juga-meski bukan yang paling utama tapi sangat berperan-dakwah financing atau pendanaan dakwah itu sendiri.

Untuk lebih memperjelasnya, coba perhatikan ilustrasi berikut ini:

Pertama

Anda misalnya memiliki 20 ustadz yang pernah belajar di Madinah, Yaman, Mesir, Sudan, Pakistan atau LIPIA. Bagaimana caranya agar keduapuluh ustadz tersebut dapat termanfaatkan secara optimal? Ingat, “termanfaatkan” di sini bukan sekedar membuatkan jadwal sebanyak dan sepadat mungkin untuk mereka. Bukan itu. Tetapi bagaimana membuat sebuah mekanisme ta’lim yang efektif; dimana dengan waktu yang terbatas (kita hanya punya 24 jam sehari!), dakwah yang disampaikan dapat memberi manfaat optimal kepada ummat. Itu artinya kita harus duduk membicarakan: (a) pengaturan jadwal, agar tidak saling bertabrakan  dan setiap ustadz mempunyai waktu yang cukup untuk menyiapkan materi-kecuali kalau mereka sudah seperti Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah atau Syekh Ibn Baz!); (b) menyusun kerangka materi dakwah (pake kitab apa dan lain sebagainya), agar ta’limnya tidak terlalu jauh membumbung ke langit hingga pesertanya hanya bisa melongo dan menganga melihat sang ustadz dengan hebatnya berbicara, tanpa dapat mereka pahami sedikit pun apa maksudnya; (c) menyusun sistem evaluasi-atau kita sering menyebutnya muhasabah-. Bukankah setiap amal harus kita muhasabahi? Mungkin ada kesalahan atau kekurangan yang harus diperbaiki. Jika amal setiap individu saja harus dievaluasi, lalu bagaimana dengan kewajiban sebesar dakwah ini? Tentu saja ini penting untuk mengukur: apakah dakwah kita sudah berhasil atau tidak? Apakah para mad’u kita mengerti ajaran-ajaran yang kita sampaikan? Kita tentu bersyukur jika majlis-majlis ilmu Ahlussunnah begitu ramai, namun kalo mereka yang hadir hanya sekedar untuk bergaya: “Nih, aku hadir ta’lim Ahlussunnah, lho! Ngajinya pake kitab anu…”, tapi ketika ditanya, ia tak mengerti apa inti kitab tersebut. Disinilah pentingnya evaluasi, introspeksi, muhasabah, atau apapun namanya…untuk memperbaiki kesalahan untuk lebih maju ke depan.

Kedua

Begitu dakwah Anda berhasil-seperti ilustrasi jumlah 3.500 mad’u di atas-, apa yang akan Anda lakukan? Setidaknya ada 2 hal penting yang harus Anda lakukan: (a) menjaga komitmen mereka terhadap manhaj, dan (b) menggerakkan mereka agar melakukan dakwah seperti yang telah Anda lakukan. Ini jelas bukan pekerjaan ringan. Lagi-lagi Anda harus benar-benar serius mengatur (baca: memanage)  3.650 mad’u itu. Apalagi potensi mereka sudah pasti berbeda. Ada yang dokter, insinyur, arsitek, penulis, pedagang, pegawai kantoran, tukang becak, tukang batu, mahasiswa, pelajar, ibu rumah tangga, dan-jangan lupa-para pengangguran!! Bayangkan, apakah Anda bisa melakukan 2 hal di atas seorang diri? Mustahil. Di sini Anda harus menunjuk “murid-murid” kepercayaan Anda untuk membantu Anda mengatur dan membina para mad’u tersebut. Anda harus memilah-milah mereka sesuai potensi ilmu syar’i dan skill-nya agar dapat digerakkan mendukung dakwah Ahlussunnah secara optimal.

Dalam hal menjaga komitmen (iltizam) mereka, Anda wajib melakukan pembinaan. Dalam pembinaan itu, sangat tidak syar’i jika Anda menyamaratakan kemampuan mereka semua; antara yang belum paham al-Ushul al-Tsalatsah dengan yang sudah bisa memahami al-Tadmuriyah karya Ibnu Taimiyah. Itu namanya zhalim! Karena itu dibutuhkan pembagian fase keilmuan-sebagaimana yang telah dilakukan oleh para ulama  Ahlussunnah sebelumnya-, yang bisa saja Anda sebut dengan istilah marhalah, tingkatan, kelas, periode, semester, kelompok atau apapun istilahnya.

Dan ketika tiba saat untuk menggerakkan mereka, apa yang akan Anda lakukan? Apakah Anda akan membiarkan mereka bekerja semaunya, yang penting berdakwah? Tentu tidak. Anda harus mengatur dan membagi tugas yang tepat dengan mereka.

Ketiga

Sebagai sebuah amal yang besar, dakwah tentu saja membutuhkan dana. Kita tidak bisa memungkiri itu. Setidak-tidaknya, agar dakwah Ahlussunnah merata di seantero negri, kita membutuhkan pusat-pusat (markaz) dakwah di berbagai tempat.  Dari mana dan bagaimana pemanfaatan dananya? Lagi-lagi kita harus merencanakan dan mengaturnya dengan baik. Kita tidak bisa sekedar menunggu uluran tangan para donatur-apalagi tanpa memberikan pertanggungjawaban tentang penggunaan dana itu-. Kita harus berusaha mandiri, karena bagaimana pun juga, tangan di atas jauh lebih baik daripada tangan di atas. Bagaimana agar dapat mandiri? Lagi-lagi kita harus berbicara tentang strategi, perencanaan dan pengaturan. Hal yang sama juga harus kita lakukan, jika tiba-tiba suatu saat ada seorang muhsinin memberikan dana bermilyar-milyar rupiah untuk dakwah. Anda tidak mungkin: (a) mengatur penggunaannya seorang diri, (b) mengatakan: “Orang tidak mungkin percaya saya akan menilep dana bantuan ini”, hingga tidak perlu membuat laporan pertanggungjawaban, dan (c) menghambur-hamburkan dana itu untuk kegiatan-kegiatan yang tidak jelas pelaksanaannya-meskipun mungkin kelihatannya baik-.

Ketiga

Terakhir, dalam ilustrasi di atas, kita hanya membayangkan 3.650 mad’u. Bisakah Anda membayangkan apa yang akan Anda lakukan dengan 36.500 mad’u? Atau 365.000 mad’u? Atau 3.650.000 mad’u? Hanya orang bodoh dan tidak berakal sehat yang akan mengatakan bahwa mereka tidak perlu diatur dan dimanage pembinaan dan pengoptimalan potensi dakwahnya.  Secara ekstrim, kita bisa mengatakan, jika Anda tidak memiliki sistem dan metode pembinaan yang baik, 1 orang saja yang melakukan kesalahan dari sekian ratus mad’u itu, akan dapat menyebabkan terberangusnya dakwah Ahlussunnah di negri ini.

Wuuih! Ternyata kita baru sadar bahwa “dakwah” sebenarnya adalah sebuah misi mulia yang kompleks. Ada banyak hal yang saling kait-mengait dalam pusaran aktifitas dakwah itu sendiri.  Dakwah ternyata tidak sekedar menyiapkan materi, mengumpulkan maraji’ dan referensi, mengisi ta’lim dan kajian di mana-mana, memiliki banyak murid dan pengikut, dan dapat bantuan dari para donatur.  Ada banyak hal yang harus kita pertanggungjawabkan dari dakwah ini.

Dan ketika dakwah adalah sebuah kewajiban, maka segala hal yang menunjangnya –atau termasuk kategori “tidak bisa tidak”- berarti menjadi wajib pula hukumnya sebagaimana wajibnya dakwah itu sendiri. Ma la yatimmu al-wajib illa bihi, fahuwa wajib. Itulah kaidah yang disepakati oleh para ulama. Kalau dakwah tidak bisa berhasil tanpa diatur, direncanakan, dan dievaluasi, maka itu berarti pengaturan, perencanaan dan evaluasi adalah perkara-perkara yang wajib dilakukan dalam kerja-kerja dakwah. Nah, istilah “pengaturan”, “perencanaan” dan “evaluasi” di zaman kita hidup saat ini dikenal sebagai istilah-istilah yang lekat dengan kata “organisasi”.  Organize asal katanya, yang berarti mengatur.

Anehnya, hingga hari ini, masih saja ada orang yang mengaku Ahlussunnah yang anti dengan istilah “organisasi”, meskipun kemudian ia membuat sebuah yayasan, lembaga, forum, mu’assasah, ma’had, atau apapun, yang inti kegiatannya berputar-putar pada pola-pola organisasi (belakangan saya mendengar bahwa salah satu yayasan di Makassar yang dulu membid’ahkan marhalah, sekarang sudah mulai pula menerapkan sistem ini, wallahu a’lam bi al-shawab). Di sana ada ketua, bendahara, penanggung jawab kegiatan, dan lain sebagainya. Ini persis sama dengan kalangan ulama Zhahiriyah –rahimahumullah jami’an- yang mengingkari penggunaan qiyas, namun justru menggunakan qiyas pada saat membantah para ulama pendukung qiyas.

Maka, jika dengan semua fakta akan keberhajatan kita terhadap sebuah organisasi dakwah Ahlussunnah yang kuat, masih saja ada yang ragu dan mempertanyakan nash dan dalil yang membolehkan sebuah proses ‘amal jama’iy, maka kita justru bertanya: “Apakah ada dalil yang melarangnya?” Jangan lupa, organisasi ini berada dalam tataran mu’amalah. Dan hukum asal mu’amalah adalah mubah, hingga ada dalil yang melarangnya.

Masih ragu?

Baik, tolong Anda sebutkan kepada saya dalil yang “membolehkan” Imam Bukhari menyusun kitab Shahih al-Bukhary dengan sistematika seperti yang kita kenal? Yang membolehkan Syekh Muhammad ibn ‘Abdil Wahhab menyusun Kitab al-Tauhid dengan model yang belum pernah ada sebelumnya? Apa dalil yang membolehkan para ulama mendirikan institusi madrasah di zaman mereka hingga hari ini, dengan segala pembagian tingkatan, pengaturan jadwal mengajar termasuk penggajian para syaikh yang mengajar di dalamnya?  Bukankah ini semua belum ada di zaman sebelumnya? Nah, jawaban yang Anda berikan untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah jawaban kami terhadap pertanyaan: mengapa Ahlussunnah perlu berorganisasi.

(Mohon maaf, di sini saya tidak menyebutkan satu nash pun. Karena apa yang saya paparkan sebelumnya memang cukup mudah dipahami dengan akal sehat dan jernih. Manhaj al-Salaf mengajarkan kita –disamping tunduk pada nash- untuk menggunakan akal sehat kita, dan bukan bertaklid pada perkataan ustadz, syekh, bahkan imam. Apakah untuk meyakini eksistensi matahari, Anda masih memerlukan sebuah nash?)

Lanjutan : Pengertian Ta’awun Begitu Luas

[Lih. Majalah Al-Bashirah edisi 03 tahun II Jumadil tsaniyah 1428 H oleh Ustadz DR. Muh. Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si]

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »