Menjaga Iman disaat Sibuk

Feb 27 • Uncategorized • 1398 Views • No Comments on Menjaga Iman disaat Sibuk

Jika ditanya, “Apakah semua orang itu sibuk?” Jawabannya tentu, “Ya semua orang sibuk, siapapun itu.” Meskipun ia sibuk dengan kemalasannya sudah termasuk orang sibuk. Dan begitulah dunia ini penuh dengan kesibukan yang tiada ujungnya. Ketika orang sibuk mengejar dunia tidak akan ada habis-habisnya. Jadi kesibukan itu bergantung pada dunia atau akhirat. Begitulah pengejar dunia pun sibuk. Sama-sama sibuk. Ada satu perkataan menarik, “Ketika engkau tidak mau sibuk mengurusi agama Allah, maka kamu-pun akan disibukkan mengurusi kebutuhan manusia, dunia.”

Orang yang berjuang di jalan kesesatan juag sibuk. Kita sama-sama sibuk. Tinggal anda memilih mau sibuk dengan urusan dunia atau akhirat?

Namun tidak ada diantara kita bisa menjamin bahwa dia akan menutup hidupnya dengan, “Laa ilaha illallah.” Namun tetap kita musti berusahan untuk itu. Sufyan ats-Tsaury ketika menghadapi sakratul maut, ia lalu mengambil dan menggenggam batu keriki sambil menangis. Lalu orang-orang disekelilingnya berusaha menghiburnya, “Engkau adalah orang yang telah berjasa pada umat ini.” Tetapi ia tetap menangis. Maka ditanyalah, “Kenapa engkau menangis padahal amalannya sungguh banyak?” Ia menjawab, “Tidak ada yang membuatku menangis kecuali menangisi dosa-dosaku. Seperti batu kerikil inilah banyaknya dosa-dosaku!” ungkapnya.

Subahanallah! Ulama sekaliber Sufyan at-Tsaury masih mampu menghitung dosa-dosa-nya  layaknya batu kerikil! Bahkan seorang dari salaf terdahulu, ketika mendapat musibah lalu tersadar, “Ini akibat dosaku 40 tahun lalu.” Masya Allah saking sedikitnya dosa yang telah lama-pun mereka masih ingat. Kita? Apakah juga bisa menghitungnya? Sehari berapa? saking banyaknya sampai tidak bisa menghitung.  Atau kita pura-pura melupakan tidak punya dosa?

“Setiap Bani Adam berbuat salah. Dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertaubat”

Kesibukan seyogyanya bukanlah penghalang untuk tetap menjaga keimanan. Apalagi aktifis dakwah atau sibuk melayani umat. Suatu ketika seorang Gubernur yang diutus Umar bin Khattab –radiallahu ‘anhu- di suatu negeri .  Tetapi tiba-tiba seorang rakyatnya datang langsung mengeluh pada kahlifah lantaran kinerja Gubernur barunya itu. Mereka protes kenapa sang Gubernur cuma melayani umat disaat pagi sampai sore saja.

Adapun malam hari ia enggan, “Saya sedang sibuk, Pulanglah besok akan saya layani.”

Maka didatangkanlah Gubernur tadi, “Kenapa engkau tidak mau melayani rakyatmu di malam hari?”

ia-pun membela, “Wahai Khalifah, saya telah membukakan kesempatan dan menerima segala keluhan mereka dari pagi hingga sore hari.”

Umar puas dengan jawabannya, “Lalu kenapa malam hari engkau enggan untuk open house?”

“Sebenarnya saya tidak ingin bersifat riya mengabarkanmu, tetapi baiklah. Saya melayani umat full day dari pagi sampai sore. Dan malamnya itu waktu khusus antara aku dengan Rabbku.”

Begitulah gambaran salaf terdahulu. Meskipun harus menjadi Gubernur melayani umat tanpa hari libur. Mereka tetap menyiapkan waktu khusus mendekatkan diri pada Rabb-Nya. Tidak musti juga kita begitu, tetapi fleksible, bagaimanalah kita sibuk tidak juga meninggalkan ibadah. Tinggal bagaimana mengatur waktu dan jadwal. Jangan kita seperti lilin, menerangi lalu lupa akan dirinya. Jangan sampai kita sibuk berdakwah melayani umat, tetapi lupa mendakwahi diri-sendiri.  Amalan kecil dan continues itulah terpenting. Seperti halnya membaca al-Qur’an, shalat dhuha,  shalat lail dan amalan lainnya.

Kita sibuk berdakwah dan melayani umat sangat membutuhkan kekuatan. Dan sebaik-baik kekuatan berasal dari pendekatan diri kita pada Allah azza wa jalla. Maka mulailah sekarang juga! Kita tidak tahu, “Hari itu manusia beriman di pagi hari lalu kafir di sore hainya.” Lantaran mencekamnya kondisi iman saat itu. Maka kita perlu amalan yang bisa menjaga stabilitas iman kita. Setiap kita mendapat nasehat maka langsung action. Jangan  menunda-nunda lagi. Terkdang seseorang mau melakukan kebaikan tetapi akhirnya tidak jadi sebab seringnya menunda. “Saya in sya Allah  akan memulai mengafal, mengaji besok!” Padahal hari itu sebenarnya ia mampu, tetapi terlalu menunda waktu. Maka beramallah sekarang juga!!!

Msc_

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »