keutuhan rumah tangga

Menjaga Keutuhan Rumah Tangga

Jan 5 • Keluarga Sakinah • 1081 Views • No Comments on Menjaga Keutuhan Rumah Tangga

Oleh Ustadz Askaryaman, S.Pd., M.Pd

(Praktisi Anak dan Remaja)

Rumah tangga ibarat bahtera dilautan yang berlayar menuju ketempat tujuan yang sangat jauh. Dalam pelayaran terkadang angin dan ombak sangat bersahabat tapi terkadang pula angin kencang pun menerpa ditambah lamunan ombak , hujan yang deras dan dihiasi dengan petir dan halilintar. Disinilah dibutuhkan kepiawaian sang nahkoda dalam membawa bahteranya berlayar agar tidak karam ditengah lautan. Begitupulalah kehidupan rumah tangga, terkadang begitu mesra, penuh canda dan tawa, seakan dunia sangat bersahabat. Namun terkadang ketersinggungan tak bisa dihindarkan, api cemburu juga menyapa, ditambah campur tangan dari mertua dan jeratan utang yang melilit. Tak jarang muncul keinginan ingin berpisah dengan sang pasangan hidup, juga ingin membatalkan ikatan yang telah terjalin. Inilah romantika dalam berkeluarga.

Diawal-awal pernikahan, segalanya serba indah, namun seiring dengan berjalanannya waktu, dan tuntutan ekonomi serta tanggung jawab untukmemenuhi kebutuhan rumah tangga, terkadang badai itu mulai menerpa. Maka untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga, beberapa hal yang penting untuk diperhatikan adalah :

  1. Komunikasi

Jalinlah komunikasi yang baik antara suami istri. Sikap terbuka dan mau menerima keluhan adalah merupakan kunci untuk menjaga keutuhann rumah tangga. Kalaulah sudah muncul rasa curiga dan saling tidak percaya antara satu dengan yang lain, maka inilah bibit pertikaian dan perpecahan tersebut. Cobalah untuk terbuka dan jujur atas pertanyaan yang mungkin butuh jawaban akan ketidak tenangan dan penasaran dari pasangan akan perubahan yang terjadi. Bangun komunikasi yang efektif dengan memanfaatkan waktu-waktu yang ada. Kebanyakan terjadi perceraian dan kandasnya rumah tangga karena disebabkan komunikasi yang kurang baik antara kedua belah pihak, olehnya jagalah saling keterbukaan dengan komonikasi yang efektip. Tidak adalah masalah yang tidak bisa diselesaikan jika dapat dibicarakan dengan baik.

  1. Mampu menerima kelebihan dan kekurangan dari pasangan.

Mungkin ada perasaan tidak nyaman akan pasangan. Sebab harapan yang selama ini dikhayalkan akan pendamping hidup yang ideal, tidak seperti kenyataan. Namun dengan kesadaran bahwa tidak ada manusia yang sempurna, ditambah dengan kesyukuran kepada Allah akan dihadirkannya pendamping hidup dalam rumah tangga, maka hal ini akan dapat dihindarkan.

  1. Berhenti untuk membanding-bandingkan.

Disaat masih sendiri/single maka itulah kesempatan untuk memilih-milih pasangan hidup sesuai dengan kriteria. Namun setelah menikah, maka disitulah titik henti untuk membanding-bandingkan antara pasangan kita dengan orang lain. Sebab apabila masih ada perkataan atau perasaan membanding-bandingkan, maka ini juga merupakan bibit pemicu pertengkaran dirumah tangga. Tidak ada seorangpun yang senang dibandingkan dengan yang lain, akan ada kekecewaan dan perasaan tidak enak akan pasangan yang dibandingkan itu. Apalagi perbandingnannya menyangkut tentang fisik, harta, kepintaran, dll, dengan perkataan, “aduh mengapa saya menikah dengan dia, padahal si fulan lebih gagah dari dia, lebih pintar dari dia, lebih kaya dari dia”. Atau perkataan, “saya khan cantik, saya ini menjadi primadona lo waktu masih sma dan diperguruan tinggi, menyesal saya menikah dengan dia”.

  1. Mengingat kembali akan Visi disaat membangun mahligai rumah tangga.

Niat kita menikah adalah untuk ibadah, bukan hanya sekedar melampiaskan hasrat biologis. Kalau niatnya ibadah, maka seluruh aktifitas setelah akad nikah, seluruhnya bernilai ibadah. Sehingga apabila ada hal-hal yang kurang mengenakkan maka move on kepada visi awal menikah adalah sangat penting. Mengingatkan pasangan akan niat awal sangat dibutuhkan, sehingga keutuhan rumah tangga bisa dijaga.

  1. Anak adalah pengikatnya

Anak adalah buah hati belahan jiwa. Anak merupakan hasil dari cinta kasih yang murni. Membimbing dan mengarahkan mereka dengan baik adalah suatu kepastian yang diperintahkan Allah. Amanah terhadap pembinaan anak sangat utama dan akan dimintai pertanggung jawaban. Sehingga anak dapat menjadi pengikat akan keutuhan tersebut. Jadi jika terjadi perselisihan, maka lihatlah sang anak, mereka akan menjadi korban utama akan perselisihan itu. Berapa banyak anak yang menjadi broken home disebabkan karena keegosian kedua orang tua. Masing-masing tdk mau mengalah, dan perceraian tak terhindarkan, maka anaklah yang jadi korban. Olehnya jadikan anak sebagai penyatu, lihatlah mereka itu, sebab pembinaan anak sangat utama kebanding ego masing-masing.

  1. Saling menghormati

Suami itu senang di hargai sebagai seorang suami, dan istri itu sangat menginginkan kasih sayang dari suaminya. Maka saling menghargai dan menyayangi antara kedua insan akan menjaga keutuhan rumah tangga. Kalaulah suami sudah tidak dihargai dan dihormati sebagai suami, dan istri sudah tidak disayang lagi, maka inilah pertanda ketidak nyamanan itu. Bayangkan saja, hidup dalam satu atap dengan kondisi seperti itu, maka ibarat air dan minyak yang tdk akan menyatu. Hormatilah suami sebagai pemimpin rumah tangga, walau mungkin gajinya tidak sebesar istri, atau pangkatnya tdk setinggi istrinya. Hargailah ia dirumah sebagai suami. Demikian pula suami, sayangilah istri, jadikan ia laksana permaisuri yang tercantik dirumah. Pujilah ia dengan rasa sayang dan jadikan ia tempat berlabuhnya seluruh rasa kepenatan.

  1. Selalulah berbaik sangka dengan pasangan.

Berjanjilah untuk menua bersama sampai ajal memisahkan. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka yang paling pertama dikedepankan adalah berbaik sangka dulu, bukan berburuk sangaka, sehingga yang ada adalah keterbukaan. Jika yang didahulukan berburuk sangka, maka setiap jawaban dan penjelasan pastilah tidak dipercaya. Apalagi dengan kata-kata yang telah umum seperti, “ah memang semua laki-laki sama, ah memang laki-laki mata keranjang semua, ah memang laki-laki begitu, mana ada kucing yang tdk mau makan kalau ditawari ikan”. dll. Kalau perkataan ini yang diutamakan, maka yang muncul adalah rasa tidak percaya, sehingga akan memicu pertengkaran dan perceraian.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk menjaga keutuhan rumaah tangga, sehingga bahtera itu akan sampai ketempat tujuan, dan cobaan bagaimanapun dahsyatnya akan mudah untuk di hadapi, serta dijadikan sebagai pengalaman berharga untuk fase berikutnya.

Semoga Bermanfaat

Baca Juga >>

Keriteria Memilih Pasangan Hidup

Perumpamaan Dunia Dengan Air

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »