Menyamakan Allah Dengan Makhluk?

Jan 3 • Aqidah • 795 Views • No Comments on Menyamakan Allah Dengan Makhluk?

Menyamakan Allah Azza wajalla dengan salah satu makhluk-Nya adalah perbuatan kufur, sebab Allah telah menyebutkan tentang diri-Nya bahwa tidak ada satu makhlukpun yang menyerupai diriNya. Allah Azza wajalla berfirman:

*فَاطِرُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَٰمِ أَزۡوَٰجٗا يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١١*

“Dialah Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat”. (QS. Al-Syura: 11)

 

Pada ayat ini, Allah menegaskan bahwa diri-Nya tidak serupa dengan makhluk-Nya. Oleh karenanya, siapa saja yang menyamakan Allah dengan salah satu makhluk-Nya, baik Nabi ataupun Malaikat, maka dia telah mengingkari ayat ini, dan hal itu merupakan suatu bentuk kekufuran.

Akan tetapi, jika kita membaca Al-Qur’an atau hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kita akan menemukan ayat-ayat atau hadits-hadits yang menyebutkan tentang sifat Allah memiliki persamaan nama dengan sifat makhluk-Nya, seperti: tangan, bahagia, murka, mencintai, malu dan sebagainya. Sehingga pada masalah ini, manusia terbagi pada beberapa kelompok dalam memahaminya.

Diantara mereka ada yang mengingkari sifat itu, adapula yang menyelewengkan maknanya, ada yang merubah maknanya, ada yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya dan ada yang menakwilkan maknanya, hingga tidak sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Semua keyakinan ini merupakan keyakinan yang salah.

Adapun keyakinan yang benar dalam masalah ini adalah keyakinan para salaf Al-Shalih mulai dari para sahabat, tabi’in, tabi’ at-tabi’in lalu diikuti oleh para imam kaum muslimin yang dahulu hingga sekarang. Yaitu, bahwa dalam memahami nama-nama yang menunjukkan sifat Allah itu, harus dipahami sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tanpa menyerupakan dengan makhluk-Nya, tanpa menyelewengkan maknanya dan tanpa merubah maknanya.

         <Baca Juga : Islam Washathiyyah>

Imam Al-Qadhi Ibnu Abi Al-Izz rahiamhullah ketika menjelaskan perkataan Imam Al-Thahawi rahimahullah “Siapa yang menyifati Allah dengan makna sifat pada manusia maka dia telah kafir”, maka dia (Imam Ibnu Abi Al-Izz) berkata:

*لما ذكر فيما تقدم أن القرآن كلام الله حقيقة منه بدا نبه بعد ذلك على أنه تعالى بصفاته ليس كالبشر نفيا للتشبيه عقيب الإثبات يعني أن الله تعالى وإن وصف بأنه متكلم لكن لا يوصف بمعنى من معاني البشر التي يكون الإنسان بها متكلما فإن الله ليس كمثله شيء*

“Ketika dia (Imam al-Thahawi) mengatakan bahwa Al-Qur’an merupakan Kalam (perkataan) Allah secara hakikat, maka setelah itu dia menekankan bahwa Allah dengan sifat-sifaNya itu tidak serupa dengan manusia, sebagai bentuk penafian dari menyerupakannya setelah menetapkan sifatnya. Maksudnya, walaupun Allah disifatkan dengan sifat Mutakallim (berbicara), akan tetapi sifat  Allah berbicara itu tidak disifatkan dengan makna peristilahan manusia yang dengannya juga dia berbicara. Sebab Allah tidak serupa dengan apapun” (Syarh Al-Aqidah Al-Thahawiyah: 1/284)

Sebagai contoh dalam hal ini, Allah menyifati diri-Nya dengan Ar-Rahim (Yang Maha Penyang). Namun Allah juga menyebutkan sifat rahim (penyayang) ada pada hamba-hamba-Nya. Akan tetapi tetap dengan menunjukkan perbedaan antara diri-Nya dengan makhluk-Nya. Oleh karenanya ketika menyebutkan kerahiman-Nya dan kerahiman makhluk-Nya secara bersamaan didalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan kerahiman diri-Nya dengan “ism tafdhil” (kata yang menunjukkan bentuk lebih besar). Allah berfirman:

 

*فَٱللَّهُ خَيۡرٌ حَٰفِظٗاۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ ٦٤*

“Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyanyang diantara para penyanyang”. (QS. Yusuf: 64)

Artinya, walau makhluk juga memliki sifat rahim (penyayang), namun sifat rahim mereka berbeda dengan sifat Rahim Allah. Maha Suci Allah dari segala bentuk penyerupaan terhadap diriNya.

Seperti itu pula berlaku pada sifat-sifat yang lain, misalnya memberi rezki. Allah Azza wajalla berfiman:

*قُلۡ مَا عِندَ ٱللَّهِ خَيۡرٞ مِّنَ ٱللَّهۡوِ وَمِنَ ٱلتِّجَٰرَةِۚ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ ١١*

“Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki”. (QS. Al-Jumu’ah: 11)

 

Maksudnya, walau manusia mampu memberi rezki kepada dirinya dan  keluarganya, namun sifat itu berbeda dengan sifat Allah yang Maha Pemberi rezki. Yaitu bahwa sifat makhluk-Nya berada di bawah kekuasaan-Nya dan kehendak-Nya yang Maha Agung. Dan sifat itu tidak ada pada makhluk-Nya.

Dari sini kita pahami bahwa persamaan nama terhadap suatu sifat antara Allah dan makhluk-Nya, tidak menunjukkan persamaan sifat itu. Maksudnya, sama dalam penyebutan manusia, namun berbeda makna dan sifatnya, sebab Allah tidak serupa dengan sesuatu apapun.

Olehnya, demi menjaga keselamatan dalam akidah, para ulama berkata, “Hendaklah kita beriman kepada Allah dengan penyifatan yang Allah sebutkan terhadap diriNya sendiri dan apa yang disebutkan oleh RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam. (Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah: 1/96)

16 Rabiul Awal 1438 H

Abu Ukkasyah Muhammad Ode Wahyu Al-Munawy

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »