Murabbi, Antara Kasih Dan Adab

Feb 14 • Muamalah, Tarbiyah • 1137 Views • No Comments on Murabbi, Antara Kasih Dan Adab

Oleh : Muhammad Ode Wahyu

Banyak orang-orang besar lupa siapa yang membesarkannya. Yang mereka ingat tidak lain hanyalah orang-orang yang berada disekitaran mereka saat pakaian kebesaran bersama mereka.

Ini adalah penyakit yang amat buruk. Sayangnya, penyakit ini tidak hanya menimpa orang-orang seperti mereka saja, namun juga pada para penuntut ilmu syar’i.

Saat ini kita saksikan beberapa Orang dari  penuntut ilmu syar’i berlagak amat sombong. Guru (baca Murabbi) yang dahulu mengajarinya ilmu, tak dianggap lagi sebagai guru. Ia bahkan menganggap gurunya tersebut sebagai musuh yang harus dibasmi.

Murabbi, nama ini mungkin tidak asing bagimu. Jika engkau adalah seorang yang pernah belajar darinya, maka bersyukurlah. Karena ia tidak hanya mengajarkanmu ilmu, tapi juga adab tinggi nan luhur. Jangan jadi seperti orang-orang besar yang lupa akan hal itu, ibarat kacang lupa kulitnya karena engkau bisa saja binasa.

Coba bayangkanlah murabbimu itu, saat engkau masih di zaman jahiliyahmu. Saat ia membinamu, mungkin ketika itu engkau masih memegang sebungkus rokok, bahkan mungkin engakaupun sempat merokok dihadapannya. Dengan mudahnya kau ucapkan, “Maaf ustadz, belum bisa dihilangkan”.

 

Tahukah engkau betapa berat hatinya? Saat itu ia sakit melihat keadaanmu yang demikian itu. Ia ingin marah, karena ingin merubah kemungkaran yang engkau lalukan dihadapannya.

 

Tapi, perlahan demi perlahan. Ia tenangkan jiwanya, ia pun menenangkan dirimu dengan kata-katanya agar engkau tidak lari dari jalan dakwahnya. Karena jika ia menegurmu dengan keras saat itu, pasti engkau akan lari dan tidak seperti dirimu saat ini.

 

Pasti banyak kisah yang lain antara dirimu dan murabbimu itu. Yang mana jika engkau mengingatnya dan melihat perubahan besar padamu saat ini, engkau akan malu dengan dirimu yang dulu. Ingatlah dan jangan lupakan murabbimu, betapa besar kesabarannya dengan dirimu saat itu.

 

Ketahuilah, itu adalah adab, betapa beratnya upaya yang ia lakukan untuk menarikmu dari jalan yang gelap itu. Dan Dialah Allah yang memberi taufik pada manusia.

Maka bersyukurlah pada Allah, kemudian pada murabbimu yang telah mengajarimu itu. Karena orang yang tidak bersyukur pada manusia berarti ia tidak berayukur kepada Allah.

Syaikh Muhammad bin Salih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

 

آداب الطالب مع شيخه وهذه من أهم الآداب لطالب العلم أن يعتبر شيخه معلما مربيا معلما يلقى إليه العلم مربيا يلقى إليه الأدب والتلميذ اذا لم يثق بشيخه في هذين الأمرين لن يستفيد من الفائدة المرجوة

Artinya:

“Adab seorang penuntut ilmu terhadap gurunya. Ini diantara adab yang sangat penting bagi seorang penuntut ilmu, yaitu ia menganggap gurunya sebagai pendidik dan murabbi. Ia sebagai pendidik yang telah mengajarkan padanya ilmu dan ia sebagai murabbi yang telah mengajarkan padanya adab. Sesungguhnya seorang murid yang tidak percaya pada gurunya pada dua perkara ini, maka ia tidak akan mendapatkan faidah yang ia harapkan”. (Syarh Hilyah Thalib al-Ilm: 74, Daar al-Alamiyah’, Cet. 1)

 

Belajarlah pada murabbimu walau ia bukanlah seorang yang terkenal.

 

Ibnu Quddamah rahimahullah berkata:

“Selagi seorang penuntut ilmu itu merasa sombong dengan tidak mau mengambil faidah dari orang yang tidak terkenal dan diutamakan, maka dia adalah orang yang jahil. Sebab hikmah (kebenaran) adalah milik orang mu’min yang hilang, maka dimanapun ia mendapatkannya, maka hendaklah dia mengambilnya” (Mukhtashar Minhaj al-Qashidin: 16, Maktabah al-Fayyadh, cet. 1.)

 

Belajarlah pada murabbimu selagi ia mutqin terhadap materi yang ia ajarkan itu, karena seorang yang berdakwah tidak mesti menjadi ahli ilmu terlebih dahulu.

Kepadamu setiap murabbi, ingatlah satu hal, bahwa ilmu dan dakwah ini adalah amanah agung dari Allah. Karena itu, jangan sekali-kali mengajarkan dan menyampaikan sesuatu yang engkau tidak ketahui tentangnya. Itu bisa membinasakanmu.

Bersyukurlah dengan materi-materi tarbiyah yang diajarkan oleh murabbimu sebelumnya, lalu pelajari dan kuasai apa yang disampaikan itu. Agar ia menjadi warisan berharga buatmu yang akan diwariskan secara turun-temurun dan engkau bisa mendapat banyak pahala serta dapat mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhanmu.

 

Wallahul muwaffiq.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »