Nenek Itu Mengingatkanku

Jan 10 • Qalbu • 323 Views • No Comments on Nenek Itu Mengingatkanku

Dia berpaling lalu mundur ke belakang. Hatinya betul-betul pecah, harapannya hilang, pikirannya memikirkan entah apa yang akan ia hadapi setelah ini. Ia tak mampu lagi menahan tangisnya lalu pergi berlalu dengan linangan air mata membasahi pipinya.

Tiba-tiba saja ada angin sejuk berhembus membisikinya. Satu kabar gembira yang dinanti-nantikan semua orang. “Beritahukanlah padanya, bahwa surga itu tidak dimasuki oleh nenek-nenek, dan dia adalah nenek-nenek.” Demikianlah sabda sang Rasul. Kemudian beliau membaca beberapa ayat dalam Al-Qur’an

 

إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً (35) فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا (36) عُرُبًا أَتْرَابًا (37) لأصْحَابِ الْيَمِينِ (38

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta, lagi sebaya usianya. (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan”. (QS. Al-Waqi’ah: 35-38)

[Baca Juga : Modal untuk Masuk Surga]

Aku tertegun dengan nenek itu, ia sungguh luar biasa. Aku tidak sempat berpikir ada nenek dengan cita-cita setinggi itu, bahkan mungkin tidak ditemukan oleh pemuda-pemudi seumuranku saat ini dengan cita-cita setinggi itu.

“Yaa Rasulullah, tolong pintakanlah untukku kepada Allah, agar Dia memasukkanku ke dalam surga”. Demikian kata sang nenek

Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam menjawabnya dengan canda, “Sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh nenek-nenek”.

Jawaban ini membuatnya tak mampu menahan tangisnya. Ia bingung, resah, galau, takut, cemas dan khawatir. Semua perasaan bersatu padu dalam hatinya, mengguncangnya dengan kepedihan mendalam. Dia mengira bahwa tak ada harapan surga baginya. Ke neraka? Itu tentu amat menakutkan baginya.

Imannya begitu kuat, teguh  dan amat yakin bahwa akan ada hari pembalasan setelah ini, akan ada kehidupan tanpa kematian setelah ini. Sedang pilihan hanyalah dua, hidup bahagia dalam keabadiaan atau sengsara abadi dengan siksa tanpa henti.

Nenek itu mengingatkanku, betapa besar cita-cita harus diutamakan untuk meraih surga.

Nenek itu mengajariku, betapa keras usaha harus dilakukan untuk meraihnya, walau harus menderaikan air mata.

Nenek itu menasehatiku, bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara, maka jangan jadikan ia sebagai tujuan hidupmu.

Nenek itu memperlihatkanku, bahwa seperti inilah sebenar-benarnya rasa takut pada Allah. Takut tidak masuk ke dalam surga, takut di campakkan ke dalam neraka.

 Lalu, nenek itu menuntutnku untuk melakukan satu amalan yang bisa mendekatkan diri ke surga, walau orang-orang akan merendahkan amalan itu.

Nenek itu betul-betul mengingatkanku bahwa kebahagiaan sesungguhnya adalah ketika engkau telah mampu menginjakkan kakimu di dalam surga.

Duh, betapa lalainya diri ini.

Semoga Allah memberi hidayah pada kita semua. Aamiin.

 Abu Ukkasyah Wahyu Al-Munawy

 [Pemuda yang dijanjikan Surga]

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »