Nikmatnya Tawakkal

Jan 12 • Aqidah, Tarbiyah • 382 Views • No Comments on Nikmatnya Tawakkal

Kaum Muslimin sekalian berbahagia.

Di dalam sebuah hadits Rasulullahi shallahu’alaihi wasallam bersabda,

Andaikan kalian tawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya Allah akan memberi rizki kepada kalian seperti memberi rizki kepada burung. Mereka pergi dipagi hari dengan perut kosong dan pulang sore hari dengan perut kenyang. (HR. Tirmidzi).

 

Jika saja kata Nabi shallahu’alaihi wasallam kalian bertawakkal, berserah diri, kepada Allah Subhanahu wata’ala sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana ia memberi rezeki seekor burung. Dipagi hari keluar dalam keadaan perut kosong, dengan mengikuti instingnya yang Allah tanamkan dalam dirinya, terbang kesana kemari mencari rezeki tersebut. Dan disore hari ia pulang dalam keadaan perutnya sudah penuh. Bahkan menyisakan buat anak-anaknya yang belum bisa terbang dan masih tinggal di sarangnya.

 

Persoalan rezeki adalah fasilitas dan karuniah dari Allah diberikan kepada siapapun yang hidup di atas muka bumi ini. Setiap makhluk ciptaan Allah, tanggungan rezekinya adalah atas Allah سبحانه وتعالى. Tidak ada satu pun makhluk, apakah itu manusia ataupun bukan manusia yang hidup diatas muka bumi ini kecuali Allah Ilah yang menanggung rezekinya. Dan rezeki itu, tidak diberikan kepada sesama makhluk atau dari sesama makhluk tetapi Allah lah yang memberikan kepadanya.

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ ﴿٦﴾

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).” (QS. Hud: 6).

 

Yang dituntut dari seorang manusia sebagai salah satu jenis dari makhluk ciptaan Allah Subhanahu wata’ala, sekaligus yang  termulia, dan tidak ada jenis makhluk ciptaan Allah yang lebih mulia dari manusia. Utamanya ketika ia mau tunduk beriman kepada Allah. Bahkan malaikat pun yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an sebagai makhluk yang mulia diperintah oleh Allah untuk sujud kepada manusia kepada Nabi Adam ‘alaihi salam. Sebagai bentuk penghormatan kepadanya sebab peringkat dan rangking Nabi Adam, yang saat itu adalah manusia satu-satunya lebih tinggi dari rangking dan peringkat malaikat itu sendiri.

Allah berfirman,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً ﴿٧٠﴾

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra: 70).

{Baca : Pondasi Keimanan dan Tawakkal}

{Allah Dekat & Mengabulkan Do’a}

Jika satu jenis makhluk Allah diberi oleh Allah karunia rezeki dan Allah lah yang menanggung kehidupannya maka manusia yang merupakan makhluk Allah termulia pasti mendapatkan perhatian lebih dari Allah subhanahu wata’ala.

Kewajiban kita setiap manusia ketika Allah telah menanggung rezeki dan kehidupan kita diatas muka bumi ini adalah berusaha/berupaya. Berupaya dan berusaha sungguh-sungguh, sebenar-benarnya dengan tidak melupakan bahwa semua rezeki itu datang dari Allah maka pasti karunia itu akan datang kepada kita. Seperti yang digambarkan oleh Rasulullah sallahu’alaihi wasallam tadi, lihatlah seekor burung kata Nabi alaihi shalatu wassalam dia mungkin tidak memiliki perencanaan sebagaimana kita merencanakan hidup kita.

Seekor burung, demikian juga dengan makhluk lainnya apakah itu yang memiliki sayap untuk dikepakkan menjadi hewan yang terbang diudara, atau yang melata di atas muka bumi ini. Atau yang hidup di lautan hanya mengikuti insting mereka yang Allah ciptakan dalam diri mereka, tidak sama dengan kita, yang diberi oleh Allah fasilitas akal untuk berpikir. Kemampuan untuk memandang jauh ke depan, untuk mengatur kehidupan kita, kita lebih sempurna.

Tetapi kata Rasulullah shallahu’alaihi wasallam, seekor burung saja yang hanya mengikuti insting kehewanannya dipagi hari keluar dalam keadaan perut kosong tidak berisi apa-apa terbang kekanan dan ke kiri, ke sana dan ke mari. Lalu   Allah memberikan kepadanya karunia rezeki. Makanan yang dengannya ia mengisi perutnya bahkan menyisakan untuk anak-anaknya, yang dibutuhkan dari kita hanyalah berusaha hanyalah berupaya.

Berupaya sungguh-sungguh lalu bersama dengan usaha dan upaya itu kata Rasulullah . lalu bertawakkal kepada Allah subhanahu wata’ala sebenar-benarnya.

 

Kaum muslimin yang bernahagia

 Bertawakkal atau bersandar, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah subhanahu wata’ala merupakan salah satu konsekuensi iman yang kita miliki. Salah satu tuntutan dari kalimat tauhid yang kita ucapkan. Disaat kita bersyahadat, berikrar dalam diri dan kehidupan kita. Maka itu tentu menuntut dari kita banyak konsekuensi. Salah satunya adalah kita hanya menyandarkan dan menggantungkan hidup kepada Allah subhanahu wata’ala semata. Karena kita mengakui bahwa hanya Allah sembahan kita, hanya Allah satu-satunya yang kita ibadahi yang kita sembah yang kita menghamba kepadaNya. Maka demikian juga dalam kehidupan kita dituntut untuk hidup kita itu, digantungkan semata-mata kepadaNya Subhanahu wata’ala. Itulah yang disebut dengan bertawakkal.

Bertawakkal di dalam kehidupan kita dapat dibuktikan, atau dapat diwujudkan dalam tiga bentuk dalam tiga perkara. Yang pertama, bertawakkal kepada Allah sebelum melakukan usaha, sebelum melakukan suatu aktivitas, melakukan suatu kegiatan, maka hendaknya pertama kali kita ingat kepada Allah.

Di dalam Al-Qur’an Allah berfirman,

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ ﴿١٥٩﴾

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159).

Setelah perencanaan yang kita buat, sedemikian kita atur kehidupan ini, hari demi hari, waktu demi waktu, maka selanjutnya menyerahkan semuanya kepada Allah subhanahu wata’ala, itulah yang disebut dengan tawakkal. Bersandar kepada Allah, berserah diri kepada Allah, sebelum melakukan upaya tersebut, memohon inayah, memohon kekuatan dan bantuan kepada Allah . Agar kita bisa melaksanakan aktivitas tersebut, dengan sebaik-baiknya.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.(QS. Al-Fatihah[1]: 5).

Maka mintalah pertolongan hanya kepada Allah dalam segala kehidupan kita utamanya sebelum kita melakukan suatu perbuatan dan suatu aktivitas.

 

[Transkip khutbah Jum’at Ustadz DR. Rahmat Abdurrahman, Lc., MA]

kata knci: Cara Bertawakkal Cara Bertawakkal Cara Bertawakkal

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »