Para Wanita Harus Belajar Dari Anak Kecil

Apr 23 • Keluarga Sakinah • 505 Views • No Comments on Para Wanita Harus Belajar Dari Anak Kecil

Oleh: Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

Para wanita harus belajar dari anak kecil dalam masalah cinta. Anak kecil itu tulus, dia tidak benci pada perkara yang sudah ditetapkan pembagiannya oleh Allah. Anak kecil itu mengerti apa itu ikhlas, hingga ia tidak mengeluh tentang ketetapan yang Allah sudah tetapkan. Karena itu, memang wanita butuh mencontoh anak-anak kecil dalam hal cinta dan memenej perasaan.

Seorang anak kecil dengan ketulusannya, menerima takdir bahwa Allah telah menetapkan bahwa kedua orang tuanya pasti ingin punya adik baginya. Ia tidak membenci orang tuanya setelah mengetahui bahwa cinta orang tuanya tidak akan terfokus padanya saja seperti dulu.

Dia tidak akan melarang orang tuanya untuk berpikir memberikan adik baginya, karena merasa cinta yang ia berikan pada kedua orang tuanya dan kebahagiaan untuk mereka dengan keberadaan dirinya sudah mencukupi kebutuhan cinta orang tuanya. Tidak, dia tidak melarang orang tuanya.

Keikhlasannya tidak membuatnya mengeluh, atau berfikir untuk mengatakan “Saya tidak membenci punya adik, tapi biarlah orang lain saja yang memiliki adik, saya tidak mau, karena cinta kedua orang tuaku takkan fokus lagi padaku.” Tidak, dia tidak seperti itu.

Seorang anak menyadari bahwa kedua orang tuanya tidak sedang membagi cinta, akan tetapi sedang membuahkan cinta, mengembangkannya dan mengalikannya.

Karena itu, ketika dikatakan padanya “Nak, kami ingin kamu punya adik lagi.” Dengan polosnya ia akan berkata, “Benarkah itu bu?” Sambil tersenyum ia melompat dan mengatakan “hore”. Ia tidak khawatir, walau setelah adiknya lahir, tekadang ia merasa bersaing dalam cinta orang tuanya. Itu fitrah.

Seorang wanita yang memiliki anak menyadari, hakikatnya ia tidak sedang membagi cinta kepada anak-anaknya, melainkan mengembangkannya.

Rasa cintanya pada anak-anaknya, atau salah seorang dari anaknya tergantung bagaimana sikap anak-anak itu. Jika mereka semua baik, maka besar cintanya sama, namun jika ada salah seorang yang tidak patuh padanya, seorang ibu mungkin akan sangat jengkel padanya, walau cinta dalam hatinya hakikatnya masih tersimpan jernih hanya tertutupi oleh karat benci, tapi fitrah cintanya masih tetap ada.

Karena itu engkau mungkin melihat seorang anak biasa berbuat durhaka pada ibunya, tapi tatkala anak yang durhaka itu semua orang telah membencinya, sang ibu kembali menjadi tempat sandaran hatinya yang terbaik, ia menerimanya bahkan menguatkannya. Tentu semuanya setelah Allah.

Wanita harus belajar pada anak kecil akan kepolosan, ketulusan dan keikhlasan. Mereka, polos, mereka tulus dan ikhlas dalam menerima takdir Allah, bahwa cinta hakikatnya tidak terbagi, melainkan dikembangkan dan dibuahkan.

Biarlah yang membaca ini berfikir, saya cuma mencoba membuka cakrawala berfikir kita. Intinya, hendaknya kita menghukumi sesuatu tidak dengan ego perasaan kita, karena itu yang dapat membuat seseorang tersesat. Sebagaimana tersesatnya saudara-saudara Yusuf yang menghukumi ayah mereka dengan perasaan mereka, hingga mereka berkata: “Sesungguhnya ayah kita berada dalam kesalahan yang nyata”.

Hati-hati dengan ego perasaan, karena itu bisa menggelincirkanmu dari jalan yang benar. Beberapa orang telah memberikan teladan tentang Membagi cinta .

 

 Baca Juga : Memiliki Banyak Anak

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »