misi nabi

Pelajaran Dari Kisah Nabi Musa & Syu’aib serta Dua Anak Gadisnya

Jul 13 • Keluarga Sakinah, Muamalah • 28 Views • No Comments on Pelajaran Dari Kisah Nabi Musa & Syu’aib serta Dua Anak Gadisnya

Tadabbur Surah sl-Qashash: 24-27

Allah Azza wajalla berfirman:

فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰٓ إِلَى ٱلظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَآ أَنزَلۡتَ إِلَيَّ مِنۡ خَيۡرٖ فَقِيرٞ ٢٤ فَجَآءَتۡهُ إِحۡدَىٰهُمَا تَمۡشِي عَلَى ٱسۡتِحۡيَآءٖ قَالَتۡ إِنَّ أَبِي يَدۡعُوكَ لِيَجۡزِيَكَ أَجۡرَ مَا سَقَيۡتَ لَنَاۚ فَلَمَّا جَآءَهُۥ وَقَصَّ عَلَيۡهِ ٱلۡقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفۡۖ نَجَوۡتَ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ٢٥ قَالَتۡ إِحۡدَىٰهُمَا يَٰٓأَبَتِ ٱسۡتَ‍ٔۡجِرۡهُۖ إِنَّ خَيۡرَ مَنِ ٱسۡتَ‍ٔۡجَرۡتَ ٱلۡقَوِيُّ ٱلۡأَمِينُ ٢٦ قَالَ إِنِّيٓ أُرِيدُ أَنۡ أُنكِحَكَ إِحۡدَى ٱبۡنَتَيَّ هَٰتَيۡنِ عَلَىٰٓ أَن تَأۡجُرَنِي ثَمَٰنِيَ حِجَجٖۖ فَإِنۡ أَتۡمَمۡتَ عَشۡرٗا فَمِنۡ عِندِكَۖ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أَشُقَّ عَلَيۡكَۚ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ٢٧

“Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan rasa malu-malu, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu´aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”. Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Wahai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”. (QS. Al-Qashash: 24-27)

Faidah:

  1. Balasan dari kebaikan adalah kebaikan. Kebaikan yang diperlihatkan oleh Nabi Musa ‘alaihissalaam dalam ayat ini adalah keikhlasan, kemurahan hati dan sifat mulia, menjauhkan diri dari ketenaran serta tidak meminta upah atau ganti dari perbuatan yang ia lakukan pada orang lain, walau sebenarnya ia sangat membutuhkan upah atau balasan itu. Hal ini ditunjukkan dalam firman Allah Azza wajalla:“Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya (dua anak wanita Syu’aib), kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”.Kemudian Allah membalas kebaikannya dengan sesuatu yang lebih besar dari sekedar apa yang ia butuhkan. Syu’aib ingin menikahkannya dengan anak wanitanya. Anaknya datang dan berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami” (QS. Al-Qashash:25). Syuaib berkata: “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini”. (QS. Al-Qashash: 27).
  1. Firman Allah (yang artinya),“Kemudian dia (Musa) kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”,menunjukkan tingginya harapan Musa kepada Allah dan dia tidak berharap dari orang lain. Hal ini memberi pelajaran kepada kita bahwa hendaklah setiap manusia memenuhkan harapannya hanya kepada Allah dan tidak berharap pada manusia atas kebaikan yang dia lakukan. Sebab Allahlah sebaik-baik pemberi balasan, sedang manusia menjalankan apa yang Allah tetapkan.
  1. Mencurahkan isi hati (curhat) kepada Allah dengan memperbanyak doa kepadaNya adalah senjata para Nabi dalam menjalani ujian kehidupan. Hal ini perlu dicontoh dan dijadikan teladan oleh setiap muslim.
  1. Musa ‘alaihissalam tetap membantu dua anak Syu’aib padahal dia sedang berada dalam kesulitan dan juga membutuhkan bantuan. Kesulitannya itu tidak dinampakkan di hadapan umum dan dia tetap menolong orang lain. Karena hal ini, dia tetap dipandang dengan pandangan mulia dan terhormat, tidak dengan pandangan kehinaan. Tatkala anak wanita Syu’aib datang kepadanya, iapun datang dengan rasa malu-malu. Hal ini memberi pelajaran berharga kepada setiap kita untuk tidak mudah berkeluh kesah atas segala ujian dan kesulitan di depan umum (utamanya di media sosial), karena hal itu seringkali hanya menjadikan kita rendah di mata orang lain.
  1. Firman Allah Azza wajalla (yang artinya):“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan rasa malu-malu”, menunjukkan bahwa rasa malu adalah sifat orang saleh, utamanya pada wanita. Mereka merasa malu untuk menemui laki-laki yang bukan mahram mereka, kecuali jika ada hajat yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain selain dirinya.
  1. Firman Allah (yang artinya): “Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya)”,menunjukkan bahwa hendaklah ketika seseorang mendatangi suatu kaum atau suatu perkampungan, ia memperkenalkan dirinya dan bersosialisasi dengan masyarakat. Hendaklah ia tidak menutup diri sehingga bisa menimbulkan prasangka buruk dari orang-orang sekitar.
  1. Perkataan anak Syu’aib:“Wahai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.Pada ayat ini terdapat beberapa faidah diantaranya:

– Dua sifat yang mesti ada pada pemimpin dan pekerja adalah kuat dan amanah.

– Orang tua hendaklah memiliki ghirah namun juga tetap menjaga sifat husnuzhan ketika anak wanitanya berbicara tentang seorang laki-laki di hadapannya.

– Nabi Musa dikatakan amanah oleh anak Syu’aib karena ketika wanita itu berbalik ke arah Musa hingga Musa melihatnya dan mengetahui bahwa ia adalah seorang wanita, maka Musa selalu menundukkan pandangannya dan tidak pernah mengangkat kepalanya hingga sampai undangan Syu’aib padanya. Bahkan ketika dalam perjalan ke rumah Syu’aib, Musa menyuruh wanita itu untuk berada di belakangnya agar ia tidak melihat wanita itu.

  1. Perkataan Syu’aib: “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku”, menunjukkan beberapa faidah:

– Menjaga pandangan dan kesucian diri dapat mempermudah seseorang mendapatkan jodohnya.

– Orang tua memiliki tanggung jawab untuk menikahkan anak wanitanya dengan laki-laki saleh. Hal ini untuk mejaga anaknya dan keturunannya dari api neraka.

– Henkdakalah orang tua mempermudah pernikahan anak gadisnya dengan laki-laki saleh. Bahkan jika ada seorang laki-laki telah diketahui kesalehannya datang melamar anak gadisnnya dalam keadaan tidak memiliki harta, namun diketahui padanya ia memiliki sifat kuat dan amanah, maka ia boleh membantunya dengan apa yang ia miliki untuk dinikahkan dengan anak gadisnya itu.

– Ciri orang tua yang baik adalah orang tua yang menikahkan anak gadisnya pada laki-laki saleh walau ia seorang yang memiliki kekurangan dari sisi harta, bukan menikahkan berdasarkan harta dan kemampuan membayar uang pesta pernikahan, sementara kesalehan kurang mendapat perhatian.

– Bolehnya menikah dengan mahar upah kerja, baik itu upah kerja dari wali seorang wanita atau upah dari bekerja pada calon istrinya sendiri.

Ditulis Oleh: Muhammad Ode Wahyu S.H.

Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »