Puasa Asyura

Pelaksanaan Puasa Asyura

Oct 13 • Ibadah • 1703 Views • No Comments on Pelaksanaan Puasa Asyura

Oleh : Ustadz Muhammad Yusran Asnhar, Lc., MA

(dikutip dari materi ta’lim)

Puasa Asyura pada tanggal Puasa tanggal 10 Muharram adalah puasa paling afdhal diantara puasa hari-hari  lain dibulan Muharram. Karena barang siapa yang ingin menjadikan bulan muharram sebagai bulan “puasa” dalam artian memperbanyak puasa, maka itu adalah hal yang dibolehkan bahkan sangat dianjurkan.

Dalam hadits Muslim Rasulullah Shallallhu alaihi wa Sallam bersabda :

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

 “Sebaik-baik puasa setelah puasa bulan Ramadhan adalah puasa dibulan Allah (bulan Muharram), ………” (HR. Muslim)

 

Pembaca yang budiman, Keutamaan berpuasa selain dibulan ramadhan yaitu melakukan puasa didua bulan. Yang pertama adalah berpuasa dibulan sya’ban (Rasulullah sangat memperhatikannya). Yang kedua berpuasa dibulan Muharram, walaupun tidak didapatkan dalil yang tegas bahwa beliau memeperbanyak. Namun beliau sangat menganjurkannya dan sabda beliau sudah menjadi dasar untuk kaum muslimin yang ingin memperbanyak puasa dibulan Muharram. Tanpa harus menunggu tanggal 13, 14, dan 15 Muharram. Meskipun Jika ada yang ingin berpuasa sejak awal hingga akhir, tentunya boleh saja.

Namun yang paling perlu untuk diperhatikan adalah puasa asyuranya. Jangan sampai kita hanya memporsir tenaga untuk berpuasa diawal-awal tetapi lengah dihari puasa asyura. Padahal jika saja ada diantara kita yang tidak sanggup memperbanyak dibulan Muharram kecuali sehari saja, maka cukup puasa asyura yang merupakan puasa yang diwajibkan kepada umat islam sebelum ada kewajiban puasa dibulan Ramadhan.

Suatu waktu Rasulullah mengumumkan bahwa barang siapa yang belum makan maka berpuasalah (saat itu rasululllah menyampaikan diwaktu pagi hari asyura) dan barang siapa yang telah makan maka jika memungkinkan agar segara menahan.

 

Puasa asyura sangatlah diperhatikan oleh umat-umat terdahulu begitupun dengan hari asyuranya. Karena merupakan hari bersejarah para Nabi, karena ia merupakan hari kemenangan Nabi Musa dan juga hari kemenangan Nabi Nuh Ahaissalam. Nabi Shallallahu alaihi wa salla (sewaktu menyaksikan kaum Yahudi merayakannya) beliau mengatakan:

نحن أحق منكم بموسى

kami lebih berhak daripada kalian (wahai kaum yahudi) terhadap nabi musa dibandingkan kalian”

Beliau menyampaikan kepada mereka bahwa kamilah(Umat Islam) yang lebih mengetahui bagaimana menghormati Nabi Musa dibandingkan kalian (Orang Yahudi). Karena itu nabi kita Muhammad shalallahu alaihi wa sallam sangat menganjurkan berpuasa dihari asyura.  bahkan Robi bintu Muawwiz Rhadiallu ta’ala anha mengatakan “kami juga mengajarkan anak-anak kami untuk berpuasa dihari asyura

Anak-anak kecilpun dilatih untuk berpuasa dihari tersebut. Karena Puasa Asyura dapat menghapuskan dosa setahun (yang lalu). Dan untuk menyempurnakan puasa asyura  Beliau bersabda:

لئن بقيت إلى قابل لأصومنّ التاسع

“JIka aku masih hidup tahun depan, saya sungguh akan puasa pada hari ke Sembilan (dari bulan Muharram)” (HR. Muslim)

karena itu sangat dianjurkan pula berpuasa tanggal Sembilan Muharram. Adapun  berpuasa tanggal sebelas Muharram, juga banyak disebutkan  oleh ulama ahli figh . berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari sahabat Ibnu Abbas rhadiallhu anhu

خَالِفُوا الْيَهُودَ وَصُومُوا يَوْمًا قَبْلَهُ وَ يَوْمًا بَعْدَهُ

Hadits diatas adalah perintah  untuk berbeda dengan kaum yahudi yang hanya berpuasa sehari saja. Dan Agar ummat Islam berpuasa sehari sebelumnya (tanggal 9) atau sehari setelahnya (11 muharram).

Ulama mengatakan “seandainya ada yang hanya berpuasa asyura saja maka tidak mengapa. Akan tetapi untuk kesempurnaan maka berpuasa juga pada  tanggal 9 Muharram” . Dan hal ini lebih shohih Sebagimana riwayat muslim

Namun hadits riwayat Imam Ahmad diatas dilemahkan oleh sebagian ulama kita karena Rowi Muhammad bin Abdurrahman bin laila melemahkannya. Walaupun sebgian menghasankannya dengan beberapa jalan.

Jika kita cermati haditsnya disitu  dikatakan sehari sebelumnya atau setelahnya artinya jika tidak sempat berpuasa tanggal sembilannya  maka hari setelahnya yaitu tanggal sebelas  . Sebagian ulama berpendapat untuk berpuasa selama tiga hari sebagaimana pendapat ibnu Qayyim Al Jauzi. Beliau menyebutkan tingkatan-tingkatan puasa dihari asyura beliau membagi menjadi:

  1. Paling afdhal ialah berpuasa pada Tanggal 9, 10 & 11
  2. Tingakatan kedua berpuasa Tanggal 9 dan 10
  3. Dan yang paling dibawah berpuasa Tanggal 10 saja

Namun masih terjadi perselisihan ulama dalam masalah ini. Karena rawi Muhammad bin AbdurRahman bin Abi Laila ; seorang rawi yang sayyii-ul hifdzh (buruk hafalannya) dan mudh-tharibul-hadits (hadisnya sering kontradiksi).

Kesimpulannya Jika seseorang berpuasa tanggal  tanggal 9 dan 10 saja, maka hal itu sudah sempurna (wallahu alam).

Bagaimana jika  terjadi keraguan penanggalan10 Muharram?

Dalam kondisi tertentu disebuah Negeri (misalnya di Indonesia) ketika kita tidak terlalu yakin kapan sebenarnya hari asyura. Apalagi  disetiap Negeri memiliki ru’yahnya masing-masing dan tidak terpengaruh dengan ru’yah di Negeri lain termasuk di Saudi Arabia.

Apa lagi cara yang umumnya dipakai di Negeri kita untuk menetapkan hilal (masuknya bulan baru) adalah  dengan ru’yatul hilal dan artinya tidak hanya berdasarkan kalender.

Maka dalam kondisi ini, kita harus yakin bahwa jika ada yang telah melihat hilal di Negeri kita. Baik perseorangan maupun Organisasi Massa (Ormas) Islam maka hal itu dapat dijadikan rujukan. Misalnya saja pada muharram tahun ini (1438 H) dikalender tertulis 10 Muharram pada hari selasa (11/10/2016). Tetapi Ormas Nahdatul Ulama (Nu) telah menafikan hilal pada malam ahad (2/10/216). Sehingga mereka menetapkan bahwa 1 Muharram jatuh pada hari senin (3/10/2016) bukan hari ahad. Artinya  10 muharram jatuh pada hari rabu(12/10/2016) bukan hari selasa bagi mereka. Dalam kondisi seperti ini (ada keraguan antara kalender dengan ru’yatul hilal) maka pendapat yang mengatakan berpuasa 3 hari terkadang menjadi solusi. Hal  ini yang dikatakan oleh imam Ahmad “ jika ada keraguan, maka berpuasa tanggal 9, 10 & 11”

Dengan berpuasa selama tiga hari, tentunya kita akan mendapatkan asyura. Hal ini tentunya merupakan solusi jika penanggalan keliru.

Walaupun jika telah berijtihad dan berusaha mencari kebenaran serta tidak asal-asalan dan mau mengikuti pendapat ulama serta telah meniatkannya Insya Allah akan mendapatkannya.

Berpuasa tiga hari merupakan pendapat Imam ahmad yang berdasarkan pendapat Muhammad bin sirin dan Imam Ibnu Syaibah

Mudah-mudahan hal ini telah dipahami dan kita bisa saling memahami dalam persoalan ini.

Baca Juga :

Keutamaan Haji Dan Umrah

Keutamaan Hari Jumat

Keutamaan 1o hari pertama Dzulhijjjah

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »