Pemimpin yang Ideal

Oct 22 • Muamalah • 1470 Views • No Comments on Pemimpin yang Ideal

Merupakan cita-cita setiap orang yang beriman untuk bisa hidup bahagia di dunia ini. Setelah itu menuju rasa merdeka, jiwanya merdeka dari berbagai macam ikatan, belenggu dan hanya mengikatkan diri kepada Dzat yang Maha kuat, Maha segalanya.

Bila setiap orang sudah merasakan ketenangan dalam tataran pribadinya maka ia juga berhak mengejar kebahagiaan lain, yaitu kebahagiaan berkehidupan. Ketika ia bisa menyaksikan Islam ini tegak, kehidupan sosial dimana syariat Allah ditegakkan, dimana kebaikan-kebaikan begitu dominan dalam kehidupan

Kebahagiaan dimana kita bisa menemukan rasa aman, kondisi bermasyarakat yang tidak berkekurangan, menghadirkan rasa tenang, suasana sentosa setiap waktu jengkal kehidupan mereka. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah shubhana wa ta ‘ala

 

y‰tãur ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä óOä3ZÏB (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# óOßg¨ZxÿÎ=øÜtGó¡uŠs9 ’Îû ÇÚö‘F{$# $yJŸ2 y#n=÷‚tGó™$# šúïÏ%©!$# `ÏB öNÎgÎ=ö6s% £`uZÅj3uKã‹s9ur öNçlm; ãNåks]ƒÏŠ ”Ï%©!$# 4Ó|Ós?ö‘$# öNçlm; Nåk¨]s9Ïd‰t7ãŠs9ur .`ÏiB ω÷èt/ öNÎgÏùöqyz $YZøBr& 4 ÓÍ_tRr߉ç6÷ètƒ Ÿw šcqä.Ύô³ç„ ’Î1 $\«ø‹x© 4 `tBur txÿŸ2 y‰÷èt/ y7Ï9ºsŒ y7Í´¯»s9’ré’sù ãNèd tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÎÎÈ

Artinya: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik”(Q.S.An-Nuur:55).

Dalam nash lain disebutkan “Allah telah membuat perumpamaan kepada kalian suatu negeri yang aman lagi sentosa”.

Kata ahli tafsir, aman berarti ada jaminan adanya ketenangan, tidak ada gangguan baik dari dalam maupun dari luar. Sedangkan muthmainnah berarti jaminan kesejahteraan, dimana masyarakat tidak akan ditimpa kelaparan, “Di Negeri yang seperti ini, karunia Allah datang setiap saat dari berbagai arah”.

kepemimpinan yang kuat & beraqidah

Untuk melahirkan negeri seperti ini, banyak hal yang harus dipersiapkan, dan salah satu yang paling krusial yang bisa menentukan adalah kehadiran pemimpin. Adanya kepemimpinan yang kuat, karena hanya pemimpin yang kuat yang bisa menghadirkan rasa aman ditengah-tengah masyarakatnya. Aman dari luar, karena pemimpin ini tegas, bisa menampilkan kewibawaan Negerinya dimata orang lain sehingga mereka tidak berani mengganggu, apalagi membodohi atau mendzolimi. Aman dari dalam karena pemimpin yang kuat bisa menegakkan keadilan. Sering munculnya masalah internal di masyarakat karena tidak tegaknya keadilan ditengah-tengah mereka. Dan ini sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan baik dari sistemnya maupun figur pemimpin itu sendiri.

 

Oleh karena itu dari awal Islam telah hadir dengan konsep kepemimpinan, dan dari tuntunan Al-Quran dan hadits, kita dapatkan begitu urgennya kepemimpinan dalam Islam.

Sampai dikatakan ‘laa Islaman illa bil jamaah, wa laa jamaah illa bil imamah’ (tidak ada Islam tanpa Jamaah dan tidak ada jamaah tanpa kepemimpinan).

 

Islam adalah agama yang sangat terkait dengan kejama’ahan, kehidupan bersama, persatuan dan kesatuan ummat. Dan karena itulah peran pemimpin menjadi sangat penting dalam Islam, bahkan menjadi bagian dalam pembahasan aqidah. Kepemimpinan adalah aqidah, syariah, adab dan akhlak. Semuanya ter-cover di dalam aspek ajaran Islam.

 

Secara aqidah, Islam memandang kepemimpinan adalah bagian dari perwakilan kepemimpinan dan kekuasaan Allah. Sehingga seorang pemimpin harus mencerminkan sifat Rabbani, menjadi perpanjangan tangan dari syariat Allah. Karena itu salah satu syarat yang paling penting dalam memilih pemimpin adalah mencari pemimpin yang beraqidah yang lurus, yang shaleh dan bisa menshalehkan orang lain serta berakhlak yang mulia dalam kesehariannya, bukan hanya pada saat tertentu.

Pemimpin yang Amanah

Rasulullah mengingatkan, begitu pentingnya hal ini, sehingga tidak setiap orang harus punya cita-cita dan ambisi menjadi seorang pemimpin. Rasulullah lebih mengedepankan unsur tarhib daripada motivasi/targhib. Bila kita perhatikan hadits-hadits,  Rasulullah banyak mengingatkan dan mengancam daripada memotivasi untuk menjadi pemimpin. Misalnya,

Sesungguhnya kalian akan menjadi loba dengan kekuasaan, padahal itu akan menjadi penyesalan dihari kiamat kelak”.

 

Rasulullah melarang dengan tegas beberapa shahabat beliau, yang barangkali bukan berambisi tapi merasa punya kemampuan untuk menjadi pemimpin pada urusan-urusan tertentu. Rasulullah melarang dengan mengatakan, “Saya mencintai anda” saat mereka meminta jabatan tersebut.

 

Semua ini menjadi krusial karena masalah tanggungjawab dan amanah yang akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah.

 

 “Semua kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan ditanya tentang kepemimpinannya”.

 

Makanya para para pendahulu umat ini (salafushaleh) dimasa awal Islam sangat khawatir untuk menjadi pemimpin, dan saat mereka menjadi pemimpin, mereka mengkhawatirkan bila ada diantara rakyatnya bahkan hewan dibawah kekuasaannya yang terdzalimi. Ada khalifah yang sampai khawatir ada semut yang terinjak dijalanan, ada hewan ternak yang kelaparan. Hal tersebut menandakan begitu beratnya persoalan kepemimpinan.

 

Memberikan kemanan & Kesejahtraan  untuk Rakyatnya

Satu sisi yang penting dalam beriman dan berIslamnya kita adalah bagaimana kita berupaya untuk selalu mendapatkan pemimpin yang bisa mengemban misi negri yang aman. Negeri yang bisa menghadirkan keamanan dan kesejahteraan ditengah masyarakat. Dan itulah seorang pemimpin yang amanah, yang kuat. Dan tugas ini bukan tugas yang sifatnya temporer. Bagi ummat Islam, menghadirkan pemimpin ideal adalah tugas abadi, selama hayat dikandung badan. Bukan hanya pada masa Pilpers/pilkada, tapi harus disiapkan sejak awal. Tentunya kita merindukan kehidupan yang baik, sejahtera.

 

Banyak orang yang hidup di Negeri yang kaya, tapi mereka hidup dibawah garis kemiskinan. Karena umat Islam harus terus menyiapkan pemimpin, kalau tidak hari ini, besok, tahun depan dan seterusnya. Dan ini butuh rekayasa sosial untuk merekonstruksi  kembali peradaban ummat Islam menjadi peradaban yang diridhai oleh Allah, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

 

Pemimpin yang sholeh

Secara konsep hal tersebut begitu mudah. Lahirnya pemimpin yang kita rindukan, pemimpin yang shaleh, menyayangi rakyatnya, yang bisa menegakkan keadilan dan yang berani. Semuanya itu kembali kepada kondisi kita. Sebagaimana dalam riwayat,

Seperti apa kondisi kita, maka seperti itu akan lahir pemimpin kita”.

 

Kalau kita menginginkan pemimpin masa depan yang akan membawa kepada kehidupan yang lebih baik, yang bisa menjamin bisa hidup tenang dalam ketaatan kepada Allah, bisa berdampingan dengan harmonis dengan seluruh komponen masyarakat yang majemuk. Seperti yang terjadi di kota Madinah pada masa Rasulullah dan khulafaur ar-Rasyidin.

 

Maka rekayasa sosial itu, perubahan dimulai dari diri pribadi kita. Sebagimana modelnya kita, seperti itu jugalah akan lahir pemimpin kita. Kalau dimasyarakat kita ini, masih begitu banyak kemaksiatan, korupsi merajalela di berbagai tataran kepemimpinan, maka seperti itu juga tidak akan jauh karakter pemimpin yang akan lahir ditengah-tengah kita. Makanya kita jangan banyak menuntut di kondisi sekarang ini. Mari kita kuatkan keimanan, segera bertaubat kepada Allah, demi kepentingan kita menuju kelapangan dan kemerdekaan jiwa yang hakiki, dan juga sebagai pilar terbangunnya kehidupan yang lebih baik dan hadirnya pemmimpin yang kita inginkan. Dan ini bukan mustahil, ini adalah sunnatullah yang Allah janjikan.

 

Tapi itu bukan berarti setelah kita memiliki idealisme dan cita-cita seperti ini, hanya bermasa bodoh dengan realitas dan kenyataan di sekitar kita. Sekali lagi, bahwa kepemimpinan itu adalah sisi yang tidak akan lepas dari keimanan kita. Oleh karena itu, setiap saat, setiap muslim memiliki tugas untuk senantiasa memperhatikan/peduli dengan persoalan kepemimpinan. Termasuk dalam kehidupan kita sekarang ini, hidup di negri demokrasi dengan sistem-sistem yang kita jalani dan alami bersama. Maka umat Islam tidak boleh masa bodoh dengan mengatakan tidak ada calon yang saya inginkan, tidak ada pemimpin yang ideal, dalam pemilihan-pemilihan pemimpin. Seorang muslim memiliki pemimpin yang bodoh, dzalim, tetap jauh lebih baik daripada tidak memiliki pemimpin sama sekali.

 

Kita memang belum bisa menghadirkan orang yang se-shaleh Umar bin Abdul Aziz, seberani Shalahuddin al Ayyubi, dan seadil pemimpin-pemimpin terdahulu. Tapi kita punya kaidah, yang mendekati karakter kepribadian, keshalehan yang tidak dipoles keshalehan politik, yang menjadi suatu ciri. Demi untuk menjaga keimanan kita, pemimpin memberikan peran yang sangat penting. pilihan yang kita pilih tetap kita pertanggungjawabkan kepada Allah.

 

Saatnya Memperbaiki Diri

karenanya marilah kita untuk memperbaiki diri kita, bertekad untuk menjadi muslim yang baik. Mudah-mudahan Allah akan menghadirkan kehidupan yang baik, dengan menghadirkan pemimpin yang amanah, shaleh, adil, menyayangi rakyatnya, sebagaimana Rasulullah pemimpin yang peduli dan berbagi.

 

Mudah-mudahan juga Allah akan menghadirkan suatu kehidupan kepemimpinan yang baik dengan  pilihan kita. Allah menjaga kita dari berbagai macam fitnah, hal-hal yang bisa menggerus keimanan. Ingatlah! kita hidup di akhir zaman, dimana  begitu banyak hal-hal yang akan menjerumuskan kita pada pelanggaran dan kedurhakaan kepada Allah.

 

Mari memperbanyak berdoa agar Allah melindungi dan memelihara kita dalam keimanan  dan ketaatan kepada-Nya. Dan semoga Allah mengaruniakan seorang pemimpin yang kuat dan amanah, bisa berbuat adil, kemaksiatan menjadi agenda utama untuk ditangani. Karena kemaksiatan yang merajalela tidak akan bermanfaat bagi pengembangan program-pogram pembangunan. Setidaknya pemimpin yang memiliki misi untuk membangun masyarakat yang religius, menghilangkan berbagai macam maksiat dengan cara yang bijak. Inilah prioritas kita, dan menjadi sebab juga Allah shubhana wa ta ‘ala  mengangkat bencana diantara kita.

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »