Pendidikan Akhlak Sejak Dini

Jan 2 • Anak & Remaja, Keluarga Sakinah • 1818 Views • No Comments on Pendidikan Akhlak Sejak Dini

Oleh : Ustadz Askaryaman, S.Pd

(Praktisi Anak & Remaja)

 

            Pendidikan akhlak sudah seharusnya diberikan kepada anak sedini mungkin karena pendidikan yang diberikan pada masa kecil pengaruhnya akan lebih tajam dan lebih membekas dari pada pendidikan yang diberikan setelah dewasa. ibarat  sebuah pepatah: “Belajar diwaktu kecil bagai mengukir diatas batu, belajar diwaktu besar bagai mengukir diatas pasir”. Mengukir diatas batu bekasnya sangat nampak tergores dan tahan lama. Pendidikan akhlak yang diberikan kepada anak akan menjadi bekal mereka yang sangat berharga dalam kehidupan anak selanjutnya.

            Islam sangat menganjurkan pendidikan akhlak sejak dini dan orang tua mempunyai tanggung jawab sangat besar dalam mendidik anaknya berakhlak mulia. Beberapa petunjuk dalam Al-Qur’an mengenai hal tersebut adalah :

  • Surah At-Tahrim ayat 66 ( 66:6)

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارً۬ا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡہَا مَلَـٰٓٮِٕكَةٌ غِلَاظٌ۬ شِدَادٌ۬ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ (٦)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

 

  • At-Tirmidzi dari Ayyub bin Musa meriwayatkan

“Tidak ada suatu pemberian yang diberikan seorang orang tua kepada  anaknya yang lebih utama dari pada pemberian budi pekerti yang baik”

  • “Muliakanlah anak-anak kalian dan didiklah mereka dengan budi pekerti yang baik”(Al-Hadits)
  • “Diantara hak orang tua terhadap anaknya adalah mendidiknya dengan budi pekerti yang baik dan memberinya nama yang baik”(Al-Hadits)
  • “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, orang tuanya yang menjadikan dia itu yahudi, majusi atau nasrani”(Al-Hadits)

Sejak anak-anak jika mereka tumbuh dengan pengajaran akhlak mulia dan berpijak pada landasan keimanan kepada Allah maka ia akan memiliki respon positip didalam menerima keutamaan dan kemuliaan disamping terbiasa melakukan akhlak yang mulia. Sebaliknya jika anak jauh dari aqidah Islam, terlepas dari arahan religius maka tidak diragukan bahwa anak akan tumbuh dewasa diatas dasar kefasikan, penyimpangan, kesesatan dan kekafiran.

Dalam upaya untuk mendidik anak sejak dini dengan akhlak yang mulia maka orang tua perlu memperkuat diri dari segi :

  1. Keteladanan

Bagaimana mungkin diharapkan anak yang berakhlak baik jika mereka mencontoh pada kekurangan yang dilihat pada orang tuanya. Orang tua haruslah memulai suatu kebaikan dari diri sendiri untuk bisa mengajarkan kebaikan pada anak, karena secara tabi’i anak akan meneladani dan mencontoh begitu saja orangtua atau guru sebagai pendidik.

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ (٢) ڪَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ (٣)

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? 3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

 

  1. Pembiasaan yang baik

Manusia adalah makhluk pembiasaan. Mereka akan mengerjakan hal-hal yang sudah biasa mereka kerjakan. Karena itu anak harus dibiasakan melakukan hal-hal yang baik.

  1. Perhatian

Yang dimaksud perhatian adalah mencurahkan pikiran, memperhatikan dan senantiasa mengikuti perkembangan anak dalam dalam pembinaan aqidah dan akhlak, disamping selalu bertanya tentang situasi pendidikan jasmani dan daya hasil ilmunya. Diantara hal yang perlu diperhatikan adalah :

  • Memperhatikan aqidah anak yang diwujudkan dengan menanamkan aqidah sejak dini. Prinsip Tauhid dan pondasi keimanan harus dikokohkan sejak awal pembinaan, sebagai contoh perhatian Luqmanul hakim terhadap anaknya (QS. 31 : 12 – 19)
  • Menanamkan kejujuran, sifat amanah dan menjauhkan anak dari teman, lingkungan serta  bahan bacaan yang dapat merusak.
  • Menjauhkan mereka dari kebiasaan buruk dan berbahaya seperti masturbasi, merokok, penggunaan narkoba dan minuman keras.
  • Memperhatikan dari segi makanan yang halal dan baik (bergizi), kecenderungan berpola makan dan hidup yang teratur. Hal ini perlu untuk digiatkan untuk meningkatkan jasmani anak terutama kesehatannya.
  1. Pemberian nasehat dan pengawasan

Hal-hal yang perlu dihindarkan pada anak :

  1. Sifat Suka berbohong

Suka berbohong merupakan sifat buruk yang dalam Islam dikenal segai ciri/tanda kemunafikan. Hadits : Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tanda-tanda orang munafiq itu tiga; bila berkata ia bohong, bila berjanji ia mengingkari, dan bila dipercaya ia mengkhianati.”

 

Berbohong juga akan menyebabkan pelakunya akan dicacat sebagai pendusta. “Jauhilah perbuatan dusta sebab sesungguhnya dusta itu dapat mengakibatkan perbuatan jahat dan sesungguhnya perbuatan jahat itu akan menyeret kepada api neraka. Selagi hamba itu berdusta dan terus menerus berdusta maka Allah akan menuliskannya sebagai pendusta”. (Al-Hadits).

Jika demikian besar bahaya berbohong maka orang tua perlu menjauhkan anak dari sifat ini. Hal yang perlu dilakukan agar anak jauh dari sifat yang buruk ini adalah  memberikan teladan yang baik dengan tidak mendustai mereka seperti :

  • agar mereka berhenti menangis, berjanji memberikan sesuatu padahal tidak ditepati
  • membujuk mereka agar menyenangi sesuatu dengan harapan yang tidak ditepati
  • menenangkan mereka dari marah
  • menjanjikan sesuatu yang tidak ditepati

Jika hal ini dilakukan maka secara tidak langsung orang tua telah membiasakan anak untuk melakukan kebiasaan buruk dan ini berbahaya sebab orang tua akan kehilangan kepercayaan dari anak dan juga menghilangkan pengaruh nasehat.

  1. Kebiasaan  Mencuri

Suka mencuri merupakan penyakit berbahaya yang perlu diwaspadai. Jika pendidikan keimanan diberikan sejak dini seperti mengingat dan takut hanya kepada Allah, menjelaskan akibat penipuan, pencurian dan penghianatan. Jika tidak maka besar kemungkinan anak akan memakan harta dengan cara yang batil bahkan akan menjadi seorang yang jahat dan ditakuti masyarakat.

Sangat disayangkan ada dikalangan orang tua tidak memperhatikan dengan teliti barang atau uang yang dibawa oleh anak. Mereka beralasan barang itu ditemukan dijalan atau sebagai hadiah, kemudian orang tua langsung percaya dari pengakuan dusta tanpa melakukan penelitian. Sehingga secara alami anak akan bebas mencuri dengan pengakuan palsu. Contoh teladan membiasakan anak menjadi orang yang dapat dipercaya dan mengingat Allah seperti kisah Umar bin Khattan ra dengan seorang gembala, dll

  1. Suka mencela dan mencemooh
  1. Kenakalan dan penyimpangan

Wallahu  a’lam bissawab

Maraji :

  • Tarbiatul Aulad fil Islam karya DR. Abdullah Nashih Ulwan
  • Artikel lainnya

Baca Juga >>

Keriteria Memilih Pasangan Hidup

Anjuran Mengajarkan Al Qur’an pada Anak

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »