Pengantar Aqidah : Ushuluddin, dan Kaitannya dengan Manhaj

Aug 18 • Aqidah • 1577 Views • No Comments on Pengantar Aqidah : Ushuluddin, dan Kaitannya dengan Manhaj

Oleh : Ustad Maulana La Eda, Lc. MA Hafizhahullah
(Alumni S2 Jurusan Ilmu Hadis, Universitas Islam Madinah)

Defenisi: Ushuluddin

Ushuluddin (Pokok-pokok Agama) dilihat dari kesamaannya dengan istilah Aqidah bermakna: Pondasi atau dasar-dasar yang terbangun di atasnya agama islam.Tentunya salah satu pondasi kokoh agama islam ini adalah Aqidah, sehingga dari segi makna inilah Ilmu Aqidah disebut juga sebagai Ushuluddin. Hanya saja, dalam definisi umum, Ushuluddin lebih luas cakupannya dibandingkan dengan Ilmu Aqidah yang khusus membahas tentang keyakinan dan keimanan, karena Ushuluddin tidak hanya terbatas pada persoalan Aqidah atau keyakinan dan keimanan, namun mencakup juga persoalan ‘Amaliyah (praktis). Ushuluddin dengan definisi ini seringkali disebut oleh para ulama salaf sebagai Ushulussunnah, atau disebut dalam istilah kekinian dengan Ushul Manhaj Salaf.

Dalam mendefinisikannya dari segi ini, para ulama berbeda pendapat, hanya saja yang paling benar dan ditunjukkan oleh nas-nas syar’i adalah bahwa Usuhuluddin atau Ushulussunnah adalah persoalan-persoalan agama yang urgen yang dengannya agama ini tegak, dan persoalan-persoalan tersebut telah menjadi perkara ijmak di kalangan para salaf (sahabat dan tabiin); baik berkaitan dengan persoalan ilmiyah khabariyah (keyakinan / aqidah), ataupun persoalan amaliyah (praktis), dan persoalan-persoalan ini haram untuk diselisihi karena bisa membuat cacat agama pelakunya. (lihat: Dar-u at-Ta’arudh: 1/87, dan Ash-Shawa’iq al-Mursalah: 2/883).

Ushuluddin sebagai tolak ukur manhaj

Ushuluddin inilah yang menjadi parameter keahlisunahan setiap individu atau komunitas tertentu. Barang siapa yang berpegang teguh dengan Ushuluddin ini, maka ia terhitung sebagai Ahli Sunnah meskipun memiliki beberapa kesalahan ijtihadiyah dalam Furu’uddin (persoalan cabang-cabang agama yang boleh diperselisihkan). Tetapi, siapa yang menyelisihi Ushuluddin semisal salah satu rukun islam atau rukun iman, maka ia telah keluar dari Ahli Sunnah.

Namun, para ulama rahimahumullah berbeda pendapat seputar batasan-batasan atau karakterikstik suatu keyakinan atau amalan yang dianggap sebagai Ushuluddin, yang mana orang yang menyelisihinya telah keluar dari Ahli Sunnah dan menjadi Ahli Bidah. Mungkin saja pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di antara yang paling tepat memberikan batasan ini dalam ucapannya: “Yang benar (dari batasan Ushuluddin dan Furu’uddin –pent) adalah bahwa perkara yang nampak jelas nan besar dari dua hal tersebut (persoalan Aqidah dan ‘Amaliyah) merupakan persoalan Ushul, adapun yang detail lagi kecil merupakan persoalan Furu'”. (Majmu’ al-Fatawi: 6/56).

Bagaimana menentukan persoalan apakah terkait ushuluddin

Untuk menentukan suatu persoalan tertentu merupakan bagian dari Ushuluddin, atau Ushulussunnah: maka ia harus bersumber dari Sumber Dalil agama ini, yaitu: Al-Quran, Sunah (hadis-hadis shahih), dan Ijmak (kesepakatan para sahabat dan tabiin yang berada dalam 3 kurun utama). Barangsiapa yang mengambil Aqidah atau persoalan ‘Amaliyah yang bersifat Ushuluddin dari selain ketiga dalil ini maka ia telah keluar dari Manhaj Ahli Sunah. Abul-Qasim menukilkan dari sebagian ulama salaf bahwa mereka berkata: “Ahli Sunah wal Jama’ah itu adalah orang-orang yang tidak melewati batasan-batasan Al-Quran, Sunah, dan Ijmak para salaf yang saleh.” (Al-Hujjah: 2/410). Ibnu Taimiyah juga menegaskan: “Barangsiapa yang berpendapat dengan Al-Quran, Sunah, dan Ijmak, maka ia merupakan Ahli Sunah wal Jamaah.” (Majmu’ al-Fatawi: 3/346).

Fungsi ushuluddin

Ushuluddin dengan fungsinya sebagai pondasi agama ini, juga sebagai tolok ukur keahlisunahan seorang muslim, nampaknya hampir menyamai fungsi istilah “Manhaj” atau “Mazhab Ahli Sunnah” yang banyak didengungkan saat ini, hanya saja sebagian orang tertentu mempersempit makna “Manhaj” ini pada pendapatnya sendiri atau pemahamannya sendiri atau output ijtihad yang ia dapatkan atau didapatkan guru-gurunya atau komunitasnya.

MANHAJ SALAF

Istilah manhaj salaf atau metode salaf, sebenarnya diungkapkan oleh sebagian ulama sebagai Mazhab Salaf baik dalam persoalan Aqidah maupun ‘Amaliyah. Namun, zaman sekarang sebagian orang lebih enak menyebutnya dengan Manhaj Salaf.

Selanjutnya apa yang Anda pahami dengan kata “Manhaj Salaf” atau “Mazhab Salaf”?

Jawaban yang seringkali kita dapatkan adalah bahwa ia merupakan metode, petunjuk, dan jalan yang ditunjukkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wasallam, dan para salaf. Tentu, definisi seperti ini sangatlah global, dan sangat perlu untuk dibahas secara jelas agar tidak menghasilkan pemahaman yang sempit lagi prematur. Untuk memperjelasnya, di sini kami meringkas pembahasan Syaikh Dr. Yusuf Al-Ghufais hafidzhahullah (Ulama Pengajar di Masjid Nabawi dan Eks Anggota Haiah Kibar Ulama) dalam salah satu ceramahnya (dengan sedikit tambahan dan perubahan):

“Siapa yang memperhatikan Manhaj Salaf yang berawal dengan diutusnya Nabi shallallahu’alaihi wasallam, ia akan mendapatkan dua pertanyaan urgen di mana dua pertanyaan ini mesti dipahami oleh para pembelajar, khususnya saat ini yang mana di sebagian negeri terdapat komunitas-komunitas berbeda-beda yang masing-masing mengklaim bahwa hanya komunitasnyalah yang paling merealisasikan Manhaj Salaf?. Dua pertanyaan tersebut adalah:

Pertama: Apa makna suatu klaim: bahwa suatu ucapan, amalan, atau keyakinan tertentu dinamakan sebagai Mazhab Salaf (atau Manhaj Salaf)?

_Jawabannya: Bahwa suatu ucapan, amalan, atau keyakinan dianggap sebagai Mazhab atau Manhaj Salaf bila ia telah menjadi perkara ijmak di kalangan salaf (sahabat dan tabiin) rahimahumullah, sehingga hal tersebut tidak boleh dilanggar atau diselisihi. Barang siapa yang menyelisihinya maka ia telah keluar dari Manhaj Salaf. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Para ulama ahli tahqiq menyimpulkan keberadaan suatu perkara bahwa ia adalah Mazhab Salaf dengan cara Ijmak.”_

Bila telah jelas seperti ini, maka tidak boleh seseorang mengklaim bahwa suatu masalah tertentu yang masih diperselisihkan para salaf bahwa itu adalah Manhaj dan Metode Salaf, karena para salaf sendiri belum ijmak. Dari sini, tidak boleh suatu komunitas atau individu tertentu, seorang ulama atau ustaz, menyebut perkara yang masih menjadi persoalan perbedaan pendapat antara ulama islam yang bukan perkara Ushuluddin = bahwa pendapat atau orang yang menyelisihinya telah menyelisihi Manhaj atau Mazhab Salaf. Sebab hal ini merupakan pernyataan yang salah dan berbahaya, bahkan ia merupakan hal yang dipaksakan dan tidak pernah ditunjukkan oleh para salaf sendiri, bahkan para salaf sendiri seringkali berbeda pendapat, hanya saja mereka tidak saling menuding bahwa penyelisihnya telah keluar dari Manhaj Salaf.

Lihat Pula: Salafy Haraki Salahkah?

• Kedua: Bagaimana cara mengetahui bahwa suatu perkara tertentu merupakan Mazhab (baca: Manhaj) Salaf ?

Jawabannya: Cara mengetahuinya -sebagaimana yang dinyatakan Ibnu Taimiyah (Majmu’ al-Fatawi: 4/155)- adalah dengan nukilan para ulama yang menyatakan bahwa perkara tersebut merupakan ijmak para salaf (sahabat dan tabiin), atau perkara tersebut telah populer menjadi Mazhab atau Manhaj Salaf. Hanya saja, sebagian sekte sesat menegaskan bahwa mereka mengetahui Manhaj Salaf dengan pemahaman mereka sendiri terhadap nas Al-Quran atau Sunah, tanpa memperhatikan batasan yang telah disebutkan ini yaitu adanya Ijmak._

Parahnya, klaim adanya Manhaj Salaf lewat pemahamannya sendiri ini tanpa merujuk Ijmak sahabat dan tabiin = telah menjadi karakteristik sebagian Ahli Bidah saat ini, bahkan sebagian pengklaim Salafiyah atau pengikut Manhaj Salaf melakukan blunder cukup berbahaya ini. Seandainya, para pengikut salaf saat ini kokoh di atas poin yang dinyatakan Ibnu Taimiyah ini (yaitu menetapkan Manhaj Salaf dari adanya Ijmak, bukan dari sumber pemahamannya sendiri) = niscaya mereka tidak akan saling mengklaim dalam persoalan ijtihad atau beda pendapat bahwa pendapat komunitasnya sendiri adalah salafiyah (sesuai manhaj salaf), sedangkan pendapat selainnya adalah bukan salafiyah (keluar dari Manhaj Salaf). Oleh karenanya, fenomena terpecah-pecahnya para pengklaim pengikut salaf saat ini dalam beberapa kelompok, yang setiap kelompok / komunitas mengklaim bahwa komunitasnyalah yang bermanhaj salaf = bukanlah perkara yang sesuai syariat, karena kelompok pengikut salaf sebenarnya adalah satu kelompok yang padu, dengan syarat ia harus berjalan tegar di atas garis Ijmak Salaf (baca: Manhaj Salaf). Tidak dipungkiri, bahwa faktor perpecahan pengikut salaf saat ini adalah karena mereka menggunakan pemahamannya sendiri atau ijtihadnya sendiri atau gurunya secara sepihak untuk menentukan suatu perkara yang ijtihadiyah sebagai Manhaj Salaf, padahal tidak demikian.” (lihat: Syarah Hadist Iftiraaqil-Ummah & Al-Manhajiyyah fi Diraasatil-‘Aqidah).

Dengan pernyataan ini jelaslah bahwa Mazhab atau Manhaj Salaf itu begitu luas, karena tidak mempersoalkan perbedaan pendapat dalam persoalan Furu’iyah Ijtihadiyah baik dalam persoalam Furu’ Aqidah ataupun ‘Amaliyah baik persoalan klasik apalagi kontemporer = yang para ulama terus berbeda pendapat di dalamnya.

  • (Bisa juga merujuk ke: Syarah Hadits Iftiraqil-Ummah, Al-Manhajiyah fi Diraasatil-‘Aqidah, Hall al-Musykilah fi Isthilah Ushuliddin ‘Inda Ibni Taimiyah-alukah.net, Al-Mufiid fi Muhimmat At-Tauhid, dan Tabshir al-Khalaf bi Dhabit al-Ushul).

kata knci: siapakah yang bermanhaj salaf siapakah yang bermanhaj salaf siapakah yang bermanhaj salaf

 

Sumber: Grup WA Belajar Islam Intensif

🌏 _Head Admin Syahrullah Hamid_

*Gabung Grup BII*
Ketik BII#Nama#L/P#Daerah
Kirim via WhatsApp ke:
📱 +628113940090

👍Like FP Belajar Islam Intensif
👍Follow instagram belajar.islam.intensif
🌐 www.belajarislamintensif.com

🍀Belajar Islam Intensif🍀

 

Baca Juga >>

Salafy Pergerakan (Ormas/Harakiyah) Salahkah?

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »