menjaga niat

Pentingnya Menjaga Niat

Jan 19 • Ibadah • 916 Views • No Comments on Pentingnya Menjaga Niat

Oleh : Ustadz Usman Laba, Lc

Alhamdulillah, kita memuji dan bersyukur kepada Allah. Dan mudah-mudahan kita adalah hamba Allah yang selalu bersegera dalam kebaikan. Dan semoga kita menjadi orang yang beruntung. Mari kita selalu berniat melakukan ketaatan walaupun hal itu belum untuk dilakukan. Karena sesungguhnya seorang insan,  bila berkeinginan melakukan suatu kebaikan lalu ia mengerjakannya, Allah menulis baginya 10 kebaikan sampai 700 kali lipat banyaknya, bahkan berkali-kali lipat.

Sesungguhnya seorang lelaki bersedekah dengan sebiji kurma dari usaha yang baik, Karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima seseorang kecuali dari usaha yang baik. Allah menyimpan dan memelihara sedekah itu baginya sebagaimana salah seorang diantara hamba menjaga anak ternaknya atau tanamannya, hingga sedekah itu dilipatgandakan oleh Allah sampai seperti  gunung yang sangat besar. Dan jika kebiasaan seseorang melakukan kebaikan dan ia bercita-cita melakukannya lagi, lalu ia terhalang untuk melakukannya, karena udzur. Maka sesungguhnya Allah menulis baginya kebaikan secara sempurna.

Di dalam sebuah hadits Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam, beliau bersabda “Apabila seorang hamba sakit, atau sedang melakukan safar, Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia lakukan ibadah di masa sehat dan bermukim.” (HR. Bukhari).
Dan jika bukan menjadi kebiasaannya dan ia hanya melakukan apa yang ia sanggupi, Allah menulis baginya ganjaran yang sempurna.

Sebagaimana Allah berfirman,

وَمَن يُہَاجِرۡ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ يَجِدۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ مُرَٲغَمً۬ا كَثِيرً۬ا وَسَعَةً۬‌ۚ وَمَن يَخۡرُجۡ مِنۢ بَيۡتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ يُدۡرِكۡهُ ٱلۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ أَجۡرُهُ ۥ عَلَى ٱللَّهِ‌ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورً۬ا رَّحِيمً۬ا (١٠٠)

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100).

Dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abi kabsyah al anmari –radhiyallahu ‘anhu- “Aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam bersabda, “Ada 3 perkara yang aku bersumpah atasnya dan aku menyampaikan hadits kepada kalian maka hafalkanlah, tidak akan berkurang harta seseorang karena sedekah, tidak didzalimi seseorang lalu ia bersabar atasnya melainkan Allah menampakkan kemuliaan kepadanya, tidaklah seseorang membuka pintu meminta-minta melainkan Allah membuka padanya pintu kefakiran.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam  bersabda,

إِنَّمَـا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ : عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَعِلْمًـا فَهُوَ يَـتَّـقِيْ فِيْهِ رَبَّـهُ وَيَصِلُ فِيْهِ رَحِـمَهُ وَيَعْلَمُ لِلهِ فِيْـهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْـمَنَازِلِ.وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًـا وَلَـمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِـّـيَّـةِ يَقُوْلُ : لَوْ أَنَّ لِـيْ مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ ، فَهُوَ بِنِـيَّـتِـهِ فَأَجْرُهُـمَـا سَوَاءٌ , وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَلَـمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًـا فَهُوَ يَـخْبِطُ فِـي مَالِـهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيْهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِـيْـهِ رَحِـمَهُ وَلَا يَعْلَمُ للهِ فِـيْـهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْـمَنَازِلِ , وَعَبْدٍ لَـمْ يَرْزُقْـهُ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًـا فَهُوَ يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِـيْ مَالًا لَعَمِلْتُ فِيْـهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُـمَـا سَ

 “Sesungguhnya dunia hanyalah diberikan untuk empat orang. (Pertama), hamba yang Allah berikan ilmu dan harta, kemudian dia bertakwa kepada Allah dalam hartanya, dengannya ia menyambung silaturahmi, dan ia menyadari bahwa dalam harta itu ada hak Allah. Inilah kedudukan paling baik (di sisi Allah). (Kedua), hamba yang Allah berikan ilmu namun tidak diberikan harta, dengan niatnya yang jujur ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan.’ Maka dengan niatnya itu, pahala keduanya sama.

(Ketiga), hamba yang Allah berikan harta namun tidak diberikan ilmu, lalu ia menggunakan hartanya sewenang-wenang tanpa ilmu, tidak bertakwa kepada Allah dalam hartanya, tidak menyambung silaturahmi dan tidak mengetahui bahwa dalam harta itu ada hak Allah. Ini adalah kedudukan paling jelek (di sisi Allah). Dan (keempat) hamba yang tidak Allah berikan harta tidak juga ilmu, ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan.’ Maka dengan niatnya itu, keduanya mendapatkan dosa yang sama.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Al-Baghawi & Ath-Thabrani).

Nabi Muhammad Shalallahu ‘alihi wa sallam menjanjikan kepada bagi siapa saja yang berniat untuk melaksanakan kebaikan, lalu ia lemah/tidak mampu melaksanakannya, namun karena ia niatkan, Maka pahalanya di sisi Allah .  Dan barangsiapa yang berniat melakukan perbuatan buruk, dan ia tidak mampu melakukan perbuatan buruk tersebut, maka Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam  menyebutkan dengan niatnya itu seperti orang yang mendapatkan dosa dari melakukannya.

Seseorang yang berkeinginan melakukan keburukan lalu ia melakukannya, maka dicatat baginya satu keburukan. Dan jika ia bercita-cita melakukannya dan ia tidak mengerjakannya karena takut kepada Allah dan ia mengharapkan pahala dari sisi Allah, maka Allah menulis baginya satu kebaikan. Tetapi jika seseorang meninggalkan perbuatan buruk itu karena ia lemah, tidak mampu melakukannya atau tidak sempat. Lalu ia melakukan amal-amal yang lain, jika amal-amal yang lain itu adalah kebaikan, maka Allah akan menghapus  baginya keburukan itu dengan perbuatan yang baik.

Oleh karena itu, Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam bersabda, “Apabila dua orang muslim bertemu dengan dua pedangnya, maka orang yang membunuh dan yang terbunuh, keduanya di neraka. Mereka berkata wahai Rasulullah, yang membunuh sudah jelas, tetapi mengapa yang terbunuh juga masuk neraka.” (HR. Nasa’i).

Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam menjawab, “Karena yang terbunuh juga berkeinginan keras untuk membunuh saudaranya, tetapi ia didahului dan terbunuh, sehingga dengan niatnya, keduanya masuk neraka.”

Keyword: menjaga niat menjaga niat menjaga niat

Baca Juga >>

Akhlak Salaf dalam Menjaga Keikhlasan Beramal

Penjelasan bahwa puasa harus dengan niat

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »