Penulisan Bible dan Ayat-Ayatnya yang Tak Otentik (03)

Feb 3 • Aqidah • 2732 Views • No Comments on Penulisan Bible dan Ayat-Ayatnya yang Tak Otentik (03)

Pada Bagian ke-3 ini merupakan lanjutan dari artikel bagian ke-2 sebelumnya, bahwa :

“… I.J. Satyabudi, dalam bukunya, Kontroversi Nama Allah (2004), berdasarkan penemuan arkeologi biblika sejak tahun 1890 M -1976 M, yang menemukan 5.366 temuan naskah-naskah purba kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani.Dari 5.366 salinan naskah itu, beberapa sarjana Perjanjian Baru menyebutkan adanya 50.000 perbedaan kata-kata. Bahkan ada beberapa sarjana yang menyebutkan angka 200.000-300.000 perbedaan kata-kata…”

berikut Beberapa Contoh Manipulasi Terjemahan Bible ke dalam Al-kitab Berbahasa Indonesia (lanjutan)

 

7. REVISI KITAB YOHANES :

 

13:13“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.” 

13:14“Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu;”

 

Seharusnya terjemahan yang tepat dari teks “orisinal” :

13:13 “Kamu menyebut Aku kepala (guru) dan tuan, dan katamu itu tepat, sebab begitulah Aku.”

13:14 “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah tuan dan guru-mu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu;”

(Para penerjemah Alkitab Indonesia menterjemahkan kata “lord” atau “master” sebagai “Tuhan” agar seolah-olah Yesus adalah Tuhan, padahal arti kata “Lord” bersifat relatif. Bisa bermakna kepala, tuan, pemimpin, sri paduka raja, dan lain-lain).

 

Perhatikan teks-teks Alkitab yang lebih tua di bawah ini :

Versi Douay-Rheims Bible 1582 M :

13:13 “You call me Master and Lord. And you say well: for so I am.”

13:14 “If then I being your Lord and Master, have washed your feet; you also ought to wash one another’s feet.

 

Versi King James 1611 M :

13:13 “Ye call me Master and Lord: and ye say well; for so I am.”

13:14 “If I then, your Lord and Master, have washed your feet; ye also ought to wash one another’s feet.”

 

Versi New American Bible :

13:13 “You call me ‘teacher’ and ‘master’ and rightly so, for indeed I am.”

13:14 “If I, therefore, the master and teacher, have washed your feet, you ought to wash one another’s feet.”

 

Keterangan :Kata “Lord” dalam Perjanjian Lama memang dapat diterjemahkan sebagai “Tuhan”, namun maknanya juga bisa bervariasi. Tetapi dalam konteks ini ia tidak tepat diterjemahkan sebagai Tuhan. Sesungguhnya terjemahan yang tepat untuk kata “Lord” dalam konteks ayat di atas adalah “tuan” bukan “Tuhan” !.

 

Berikut beberapa perbandingan :

Dalam Perjanjian Lama Mazmur Daud 110:1 disebutkan “Demikianlah firman TUHAN (Lord) kepada tuanku (my lord): ‘Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu’.”

 

Dalam pernyataan Yesus lainnya, yang ditulis oleh penulis yang sama :

Yohanes 17:3 “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah (God) yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”

 

Yohanes 5:30“Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.”

  

Jika Yesus adalah Tuhan, maka seharusnya pernyataan Yesus di atas adalah sebagai berikut :

Yohanes 17:3 “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa kamu (umat Israel) mengenal Aku, satu-satunya Allah (God) yang benar, dan mengenal Paulus (Saul) yang telah Aku utus.”

 

Yohanes 5:30“Aku dapat berbuat apa saja dari diri-Ku sendiri, Aku menghakimi sesuai dengan apa yang kamu (umat Israel) kerjakan, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku berkehendak atas segala sesuatu dari diri-Ku sendiri.”

   

Selanjutnya, dalam Alkitab berbahasa Indonesia, seluruh kata “lord” yang menunjuk kepada Yesus diterjemahkan sebagai “Tuhan”. Inilah kehebatan para penerjemah Injil di Indonesia.

 

8. REVISI KITAB YESAYA :

 

28:10 “Sebab harus ini harus itu, mesti begini mesti begitu, tambah ini tambah itu!”

 

Seharusnya terjemahan yang tepat dari teks “orisinal” :

28:10 “Aturan demi aturan, pasal demi pasal (ayat demi ayat), sebagian dalam pasal ini sebagian di pasal lainnya”

(Para penerjemah Alkitab Indonesia merubah makna ayat sehingga pembaca tidak memahami maksud ayat-ayat berikutnya)

Perhatikan teks-teks Alkitab yang lebih tua di bawah ini :

 

Versi The Latin Vulgate (405 M) :

28:10 “quia manda remanda manda remanda expecta reexpecta expecta reexpecta modicum ibi modicum ibi”

 

Versi American Standar :

28:10 “For it is precept upon precept, precept upon precept; line upon line, line upon line; here a little, there a little”

 

Keterangan :Yesaya pasal 28:9-14 sebenarnya berisi penjelasan tentang nubuat nabi Yesaya terhadap datangnya nabi Muhammad yang membawa aturan-aturan dalam kitab suci yang disebut Al-Quran yang akan memberi penjelasan kepada Bani Israel.

 

Mari kita lihat ayat demi ayat:

Dalam ayat 9 disebutkan “Kepada siapakah dia ini mau mengajarkan pengetahuannya dan nubuat-nubuatnya. Seolah-olah kepada anak yang baru lepas dari susu”. Maksudnya Dia (Nabi Muhammad) akan mengajarkan ajarannya kepada kaum yang sama sekali tidak paham.

 

Kemudian dalam ayat berikutnya disebutkan For it is precept upon precept, precept upon precept”, bahwa dia akan mengajarkan aturan demi aturan (hukum demi hukum) sebagaimana kita ketahui agama Islam adalah agama yang paling ketat dan penuh dengan aturan.

 

“line upon line, line upon line”, bahwa dalam aturan-aturan itu terdiri dari pasal-pasal (surah-surah dan ayat-ayat). “here a little, there a little”, maksudnya aturan-aturan dalam tiap surah (AlQuran) terbagi-bagi terkadang dalam surah satu dan lanjutannya ada dalam surah yang lain sebagaimana proses pewahyuan AlQuran yang dalam sejarah diketahui turun berangsur-angsur selama 23 tahun. Kemudian dalam ayat 11 disebutkan “Sungguh oleh orang-orang yang berlogat ganjil dan oleh orang-orang yang berbahasa asing akan berbicara kepada bangsa ini”.

 

Ini membuktikan bahwa Nabi Muhammad yang berdialek Arab akan berbicara dan menyampaikan pesannya kepada bangsa Israel dan kaum Yerusalem yang berbahasa Ibrani dan Aramaik. Bahasa Arab adalah bahasa yang sangat asing ketika itu bagi bangsa Israel yang menganggap dirinya kaum yang termulia.

 

Kemudian dalam ayat 12 :“Dia yang telah berfirman kepada mereka, inilah tempat pemberhentian, inilah tempat peristirahatan, tetapi mereka tidak mau mendengarkan”. Maksudnya inilah Islam(AlQuran) agama terakhir berhentilah di sini, tidak usah mencampuradukkan ajaran Tuhan dengan filsafat Yunani dan Romawi sebagaimana yang diajarkan Paulus.

 

Namun mereka tidak mau mendengarkan karena Nabi yang datang bukan dari keturunan bangsa Israel. Kemudian dalam ayat 14 dijelaskan “Sebab itu dengarlah firman Tuhan hai orang-orang pencemooh (Kaum Bani Israel yang tidak menerima Islam).

 

Seterusnya dalam ayat 15 “Karena kamu telah berkata kami telah mengikat perjanjian dengan maut…… biarpun cemeti berdesik keras kami tidak akan kena, sebab kami telah membuat bohong sebagai perlindungan kami, dan dalam dusta kami menyembunyikan diri,”.

 

Inilah watak bangsa Israel yang diikuti oleh umat Kristiani yang membohongi milyaran umat manusia dengan kisah-kisah fiksi penyaliban Yesus dan pemuka agama mereka berlindung dibalik jubah suci mewah tanpa dosa untuk menutupi aib-aib mereka.

 

9. REVISI NAMA ELOHIM DAN JAHWEH :

 

Dalam Alkitab versi bahasa Indonesia khususnya yang digunakan oleh umat Protestan, seluruh kata “Elohim” dan “Jahweh” yang berasal dari Perjanjian Lama yang aslinya berbahasa Ibrani, masing-masing diterjemahkan sebagai “Allah” dan “Tuhan Allah” atau “Tuhan” saja, padahal ‘Elohim’ dan ‘Jahweh’ adalah nama-nama Tuhan yang sebenarnya dari umat Yahudi Israel yang menunjukkan kekhasan dari suku-suku tertentu di Israel (Kerajaan Israel utara dan selatan). Mengapa penerjemah mengubah kata-kata tersebut seenaknya?. Berikut contoh-contohnya :

 

Kitab Kejadian versi Alkitab Indonesia:

1:1 “Pada mulanya ALLAH menciptakan langit dan bumi.

2:4 “Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit,”

 

Seharusnya terjemahan yang tepat dari teks “orisinal” :

1:1 “Pada mulanya ELOHIM menciptakan langit dan bumi.”

2:4 “Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN JAHWEH menjadikan bumi dan langit,”.

 

Perhatikan teks-teks Alkitab yang lebih tua di bawah ini :

Versi Bahasa Ibrani :

1:1 = Kata Tuhan ditulis [1] yang dibaca ELOHIM.

 

Versi The Darby Translation :

2:4 These are the histories of the heavens and the earth, when they were created, in the day that Jehovah Elohim made earth and heavens.

Versi World English Bible :

 

2:4 This is the history of the generations of the heavens and of the earth when they were created, in the day that YahwehGod made earth and the heavens.

 

Keterangan : Dalam agama Kristen perdebatan tentang nama Tuhan masih menjadi masalah sampai saat ini. Belum lagi jika berbicara tentang siapa Tuhan sebenarnya yang dimaksud. Tradisi penyebutan nama Tuhan di Barat dengan kata God sebenarnya berasal dari tradisi Yahudi yang tidak berhasil memecahkan empat huruf mati nama Tuhan dalam bahasa Ibrani YHWH. Sebuah sekte Kristen, Saksi Yehova pernah berencana merubah kata Allah dalam Alkitab berbahasa Indonesia dengan kata YAHWEH namun ditolak oleh Komunitas Gereja dan para pendeta se-Indonesia.

 

Sepertinya umat Kristiani di Indonesia perlu belajar banyak menelusuri bahasa asli kitab suci mereka sebelum meyakini Alkitab sebagai sumber ajaran mereka. Begitu mudahnya firman Tuhan dalam Alkitab ditambah, dikurangi, dihilangkan, dan diubah sesuai kepentingan pemuka agama mereka. Bahkan namaYesuspun sebenarnya juga masih dipertanyakan. Nama “Yesus” berasal dari kata Esau (Ibrani) yang mirip dengan pengucapan dalam bahasa Arab ‘Isa. Kata Esau mengalami perubahan secara bertahap oleh lidah bangsa Romawi yang menjadi tempat tersebarnya ajaran Paulus. Sehingga kata Esau bertahap berubah menjadi YoshuaYeshuaYesus.Akhiran “us” adalah nama-nama yang identik dengan masyarakat Romawi seperti Agustinus, Benedictus, Clementinus, Diaclitianus, Efesus, Filipus, Gregorius, Oktavianus, Paulus, Tarsus, Urbanus dan seterusnya hingga Zebedeus. Demikianlah jika suatu ajaran agama dibuat oleh manusia maka nama Tuhanpun akan menjadi masalah.

 

Tangan manusia terlalu manusiawi memainkan kerusakan terhadap firman Tuhan. Meski demikian para penginjil dan para pemuka agama Kristiani tetap memaksa bahwa setiap kata, koma dan titik dari Injil adalah Fiman Tuhan!.

 

Penterjemahan Injil ke dalam berbagai bahasa di dunia tanpa mengikutsertakan bahasa asli Alkitab memang mempermudah tugas-tugas missionaris, namun dilain pihak semakin memperlihatkan secara jelas bahwa ayat-ayat Alkitab semakin tidak terjaga. New Testament (Gospel/Injil) yang diklaim berbahasa asli Yunani yang mungkin disadur dari bahasa Aram sesungguhnya juga sudah hilang, sehingga tidak ada lagi naskah asli dari Injil. Bahkan ini bertentangan dengan bahasa Yesus yang sama sekali tidak mengerti bahasa Yunani. Bukankah ini mencederai sakralitas Injil yang diklaim sebagai firman Tuhan ?.

 

Umat Kristiani sebaiknya belajar dari umat Islam dalam menterjemahkan Al-Quran. Setiap terjemahan AlQuran ke berbagai bahasa di dunia selalu mengikutsertakan bahasa asli dari ayat-ayat yang ditulis dalam bahasa Arab. Sehingga sekalipun terdapat kesalahan dalam penterjemahan akibat kelalaian dan kelemahan manusia umat Islam tetap akan dengan mudah merujuk kepada ayat dalam bahasa aslinya, apalagi setiap umat Islam memang diwajibkan belajar membaca AlQuran dalam bahasa Arab. Kami umat Islam tidak diajar membaca terjemahan tetapi kami diajar untuk membaca teks asli dari AlQuran, inilah yang kami sebut dengan mengaji.“Berpikir merupakan pekerjaan terberat yang pernah ada yang mungkin menjadi alasan mengapa hanya sedikit orang yang mau melakukannya”.

 

Semoga bermanfaat.



[1]Tulisan dalam bahasa Ibrani dibaca dari kanan seperti tulisan Arab

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »