Perbedaan Antara Kebaikan & Dosa

Jun 8 • Fiqih • 137 Views • No Comments on Perbedaan Antara Kebaikan & Dosa

وَعَنْ اَلنَوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ – رضي الله عنه – قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنْ اَلْبِرِّ وَالْإِثْمِ فَقَالَ: – اَلْبِرُّ: حُسْنُ اَلْخُلُقِ, وَالْإِثْمُ: مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ, وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ اَلنَّاسُ – أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

“Dari Nawwas bin Sam’an –radhiyallahu ‘anhu- dia berkata, aku pernah bertanya pada Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam- tentang kebaikan dan dosa. Beliau bersabda, “Kebaikan itu adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah perkara-perakara yang mengganjal di dadamu dan engkau benci jika manusia melihatnya”. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim)

Penjelasan:

1.  Jawaban Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- terhadap pertanyaan Nawwas bin Sam’an -radhiyallahu ‘anhu- merupakan jawaban yang singkat mencakup seluruh jenis kebaikan.

Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah berkata:

“Kadangkala, jawaban Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pada hadits Nawwas ini mencakup seluruh sifat (kebaikan) ini. Karena akhlak yang baik kadang yang dimaksud adalah berakhlak baik dengan akhlak-akhlak syariat dan beradab dengan adab-adab yang Allah ajarkan pada hambaNya dalam kitabNya, sebagamana firman Allah kepada Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur”. Aisyah berkata, “Akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an”. Maksdunya, beliau menghiasi dirinya dengan adab-adab al-Qur’an itu dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangannya, sehingga mengamalkan al-Qur’an menjadi akhlak baginya, bagaikan tabiat baik yang tidak berpisah darinya. Ini adalah akhlak yang paling baik dan paling indah”. (Jami’ul Ulum wal Hikam: 285)

2.  Dosa merupakan lawan dari kebaikan. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam al-Qur’an:

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ 

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. (QS. Al-Maidah: 2)

3. Seorang mukmin yang hatinya bersih akan merasa risih terhadap dosa walau ia belum mengilmuinya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin –rahimahullah– berkata: 

أن المؤمن الذي قلبه صاف يحوك في نفسه الإثم وإن لم يعلم أنه إثم بل يتردد فيه 

“Bahwa seorang mukmin yang hatinya bersih akan mengganjal di hatinya tentang dosa itu walau ia belum mengetahui bahwa perkara itu adalah dosa. Ia akan merasa ragu padanya”. (Syarh Arbain an-Nawaiyah karya Syaikh al-Utsaimin: 326)

4.  Seorang mukmin tidak senang jika ada orang yang melihat kesalahan dan dosanya. Berbeda dengan orang-orang yang tidak ada iman dalam hatinya, mereka tidak akan merasa malu melakukan keburukan walau terjadi di halayak manusia, bahkan ia akan membanggakan kemaksiatannya. (Syarh Arbain an-Nawaiyah karya Syaikh al-Utsaimin: 327)

5. Yang mennjadi standar dan patokan mengenai jiwa yang tersebut dalam hadits adalah jiwa seorang mukmin yang yakin. Adapun seorang pendosa, jiwanya tidak menjadi mizan (ukuran) untuk kebaikan dan dosa. Yang dimaksud dalam hadits adalah seorang muslim yang bertakwa yang dapat diterima tentang anggapan kebaikannya pada sesuatu atau anggapan keburukann terhadapnya. (al-Minhatu ar-Rabbaniyah fi Syarh al-Arbain an-Nawawiyah karya Syaikh Shalih al-Fauzan: 219-220)

Dikutip Oleh: Ustadz Muhammad Ode Wahyu al-Munawy

Pembina Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an an-Nail

Alumni Jurusan Syariah Prodi Perbandingan Mazhab dan Hukum Islam Stiba Makassar

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »