persatuan ummat

Persatuan Umat Lebih Utama

Jan 30 • Muamalah • 985 Views • No Comments on Persatuan Umat Lebih Utama

Oleh : Ustadz Rahmat Abd. Rahman, Lc., MA.

(Dosen STIBA Makassar)

{dikutip dari khutbah jum’at)

 

Saudara-saudara sekalian yang dirahmati Allah Shubhana wa ta’ala,

Suatu ketika Di zaman Rasulullah Shallallahu alaihi wa shallam, pernah terjadi perselisihan antara sekelompok kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Perselisihan ini disebabkan satu orang dari masing-masing kedua kelompok ini. Hingga akhirnya kelompok yang berasal dari Muhajirin mengajak kelompoknya untuk bersama dengannya dalam menghadapi  sang Anshori demikian pula sebaliknya. Maka berkumpulah dua kelompok dari kalangan kaum muslimin yang hidup bersama-sama di kota Madinah. Sebagian dari kelompok Muhajirin dan sebahagian lainnya dari kelompok Anshor.

Disaat mereka telah berhadapan untuk saling bertikai, tiba-tiba seseorang datang memberitahu  Rasulullah Shallallahu alaihi wa shallam akan peristiwa tersebut. Maka dengan tergesa-gesa bahkan hingga pakaian Beliau pun belum dikenakan secara sempurna datang menjumpai mereka lalu berdiri ditengah keduanya sambil berkata, Ada’awal jahiliyati wa ana baina adzurikum, apakah kalian saling mempertahankan kelompok dan saling mengangkat syi’ar-syi’ar jahiliyah sedangkan saya masih hidup diantara kalian semua”.

Sang Muhajir ketika memanggil dari kalangan kaum Muhajirin kelompoknya menggunakan syi’ar ‘ya lal muhajirin’, (maknanya wahai kaum Muhajirin) demikian juga dengan sang Anshar mengajak kolompoknya dari kalangan Anshar juga dengan seruan yang sama syi’ar yang sama “ya lal anshor”.  Padahal gelar Muhajirin dan Anshor adalah gelar yang disampaikan oleh Allah subhanahu wata’ala di dalam Al-Qur’an tetapi Rasulullah Shallallahu alaihi wa shallam menyebutnya sebagai syi’ar jahiliyah karena ia dipakai untuk memecah belah diantara kaum muslimin.

Ada’awal jahiliyati wa ana baina adzurikum.” Syi’ar jahiliyahkah yang kalian pakai sesama kalian sedangkan saya masih hidup diantara kamu semua kata Nabi ‘alaihi sallatu wasallam, Da’uha fainnaha muntilah”  (tinggalkan semua syi’ar-syi’ar itu karena sesungguhnya dia hanyalah mengeluarkan bau yang sangat busuk)

saudara-saudara sekalian yang sama berbahagia,

Persatuan umat antar sesama kaum muslimin adalah salah satu maksud dan tujuan utama dari syari’at ini diturunkan. Untuk menjaga kebersamaan, persatuan, persaudaraan sesama kaum muslimin yang tidak dipisahkan oleh batas teritorial manapun, tidak dipisahkan oleh sekat apapun, tidak dipisahkan oleh garis keturunan, tidak dipisahkan oleh suku dan bangsa, tidak dipisahkan oleh ras, tidak dipisahkan oleh bahasa dan warna kulit dan tidak dipisahkan oleh batas-batas manapun yang dilakukan oleh umat manusia saat ini. Persaudaraan didalam Islam adalah sesuatu yang harus dan wajib untuk kita jaga, segala sesuatu yang dapat merusaknya sudah selayaknya kita untuk menolak hal-hal seperti itu.

saudara-saudara sekalian yang sama berbahagia,

Beberapa tahun lalu kita mendengar adanya keretakan dari hubungan antara Negara kita dan Negara tetangga (Malaysia). Kita semua sadar dan yakin bahwa disana adalah tempat dan Negara dari umat Islam, mayoritas dari penduduk Negeri kita adalah umat Islam dan mayoritas dari penduduk negara Malaysia adalah juga umat Islam.

Kita tidak mengetahui secara pasti dan secara tepat apa yang terjadi meskipun kita semua juga tahu betapa banyak provokasi di dalam hubungan antara kedua Negara yang bertetangga dan bahkan serumpun dan seagama ini.

 Meskipun kita juga sadar bahwa memang hingga saat ini pembahasan dan pembicaraan tentang batas antara Negara kita dan Negara Malaysia juga belum selesai. Maka dari itu tidak sepantasnya kita juga ikut-ikutan dengan apa yang dilakukan oleh sebagian masyarakat kita. Memberikan kecaman begitu keras terhadap pemerintah Malaysia bahkan sampai dengan menghina simbol-simbol Negara tersebut. Dan naudzubillah jika sampai kecaman itu kepada tingkat penghinaan yang sangat besar sehingga pantaslah ketika mereka memberikan reaksi yang juga keras yang naudzubillah jika sebagian kita menganggapnya sebagai tingkat arogansi.

Kita tidak setuju dengan segala tindakan provokasi, segala tindakan yang dapat merusak hubungan kedua Negara, kita tidak setuju terhadap semua pihak-pihak yang masuk kedalam peristiwa ini untuk memecah belah antara kita diantara dua Negara ini. Bahkan diantara dua umat yang selama ini hidup rukun dan hidup damai. Kita pantas bahkan harus berhati-hati terhadap kekuatan-kekuatan luar yang ingin masuk memanfaatkan situasi yang ada untuk merusak hubungan antara dua Negara tersebut. Bagi kita, kepentingan umat Islam di daerah Asia Tenggara itu jauh lebih besar dari sekedar melihat dan ikut-ikut dengan apa yang diteriakan oleh sekelompok masyarakat kita.

Dan kita juga tidak mengetahui dari kalangan kelompok-kelompok tersebut siapa yang jelas-jelas dan siapa yang betul-betul ingin membawa aspirasi dari masyarakat bahkan kepentingan Negara kita sekalipun. Kita tidak tau dari kalangan kelompok-kelompok tersebut siapa yang betul-betul ingin mempertahankan Negara kita dengan benar dan siapa yang ternyata bahkan naudzubillah kalau sampai disusupi oleh kekuatan-kekuatan luar yang akhirnya sampai kepada tingkat pemecah belahan terhadap dua Negara dan dua umat. Dua masyarkat yang selama ini hidup damai dan hidup rukun di atas ajaran agama Islam.

Setiap muslim tentu dituntut untuk menjaga hubungannya dengan sesama muslim. Setiap kita dituntut untuk menjaga lisannya, menjaga tangannya, menjaga tingkah lakunya, menjaga opini yang ia berikan dan ia lontarkan kepada orang agar supaya hak-hak dari saudaranya sesama muslim juga terjaga sebab ikatan Islam adalah ikatan yang sangat kuat Allah subhanahu wata’ala sudah mengingatkan kepada kita,

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعً۬ا وَلَا تَفَرَّقُواْ‌ۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءً۬ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦۤ إِخۡوَٲنً۬ا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٍ۬ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡہَا‌ۗ كَذَٲلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَـٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَہۡتَدُونَ (١٠٣

 “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103).

Berpegang teguhlah kamu semua dengan tali Allah subhanahu wata’ala, dengan ajaran  islam yang diturunkan oleh Allah subhanahu wata’ala. Walatafurroku dan jangan kamu saling berselisih, jangan kamu saling bertikai. wadzkuruu ni’matallahi ‘alaikum, ingatlah kata Allah nikmat yang telah Allah berikan kepadamu. Inkuntum adaa’an fa’ala fabainakumubikum, ketika kamu saling bertikai sesamamu yang hanya menimbulkan kerugian, yang hanya menimbulkan kebinasaan, yang tidak memberikan keamanan. lalu kata Allah,  fa’asbahtum bini’matihi ikhwana, kamupun akhirnya menjadi saudara sesama kamu. Persatuan umat adalah sebua keharusan.

Baca Juga >>

Peran Pemuda Dalam Mengisi Kemerdekaan

Kebenaran Adalah Cahaya

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »