Petunjuk Al Qur an Dalam Memilih Pemimpin

Petunjuk Al Qur’an dalam Memilih Pemimpin

Mar 10 • Aqidah • 1156 Views • No Comments on Petunjuk Al Qur’an dalam Memilih Pemimpin

(Sumber : Buletin Al-Balaqh edisi 16 tahun XII Jumadil Ula 1438)

Sebagai warga negara yang bertanggung jawab, sudah seharusnya kita turut serta dan ikut berpartisipasi dalam memilih pemimpin. Keseriusan kita untuk terus menjaga kemaslahatan umat harus dibarengi dengan bentuk nyata dalam memberikan perhatian terhadap kondisi sosial masyarakat secara umum. Perhatian ini sebagai konsekuensi logis dari karakteristik Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamiin. Perhatian terhadap kondisi Indonesia berarti perhatian terhadap kondisi umat Islam sebagai penduduk mayoritas di negara ini.

Kepemimpinan dalam konsep al-Qur’an disebutkan dengan istilah imamah. Sedangkan pemimpin dengan istilah imam. Al-Qur’an mengaitkan kepemimpinan dengan hidayah dan pemberian petunjuk pada kebenaran. Seorang pemimpin tidak boleh melakukan kezhaliman, dan tidak pernah melakukan kezaliman dalam segala tingkat kezaliman. Baik kezaliman dalam keilmuan dan perbuatan, kezaliman dalam mengambil keputusan dan aplikasinya. Seorang pemimpin harus mengetahui keadaan umatnya, merasakan langsung penderitaan mereka. Seorang pemimpin harus melebihi umatnya dalam segala hal keilmuan dan perbuatan, pengabdian dan ibadah, keberanian dan keutamaan, sifat dan prilaku, dan lainnya.

Sebagai agama yang telah disempurnakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Islam tidak hanya mengatur masalah ibadah dan akhlak serta urusan-urusan akhirat. Tapi juga mengatur urusan-urusan dunia termasuk cara hidup bermasyarakat maupun bernegara, cara menjadi rakyat dan menjadi pemerintah.

Pada prinsipnya, menurut Islam setiap orang adalah pemimpin. Ini sejalan dengan fungsi dan peran manusia di muka bumi sebagai khalifahtullah yang diberi tugas untuk senantiasa mengabdi dan beribadah kepada-Nya. Hal ini senada dengan firman Allah dalam al-Qur’an yang

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةً۬‌ۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيہَا مَن يُفۡسِدُ فِيہَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ‌ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

 “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah? Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau.’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (Terjemahan QS. Al-Baqarah: 30)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Masing-masing kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang amir yang memimpin masyarakat adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban kepemimpinannya atas mereka.” (HR. Bukhari)

Orang Munafik Memilih Pemimpin Kafir

Selaku manusia yang tidak jauh dari kesalahan, kita dituntut untuk sangat berhati-hati dalam menentukan pilihan dalam memilih pemimpin. Dalam Islam, akidah merupakan syarat utama yang harus diperhatikan dalam memilh seorang pemimpin. Pilihlah pemimpin yang seakidah dan memenuhi kriteria seorang pemimpin sehingga dapat menjaga akidah dan agama umat Islam.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga mengharamkan umat Islam dipimpin oleh pemimpin kafir karena bukan tidak mungkin, mereka justru bukan mensejahterakan rakyat, tapi malah merampas dan mengeksploitasi kekayaan rakyat untuk kepentingan kaum kafir internasional sebagai partner dan tuan-tuan mereka. Bagi umat muslim, ada beberapa kriteria yang tidak boleh dipilih sebagai pemimpin dalam konteks apapun. Yaitu kafir, termasuk berbagai aliran sesat serta seorang muslim yang memiliki ideologi sekuler, tidak memihak kepada kaum muslimin, apalagi yang jelas-jelas memihak kaum kafir.

Loyalitas seorang muslim haruslah kepada sesama muslim bukan kepada yang berlawanan agama dengannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman;

۞ يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَہُودَ وَٱلنَّصَـٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَ‌ۘ بَعۡضُہُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٍ۬‌ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُ ۥ مِنۡہُمۡ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu), sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Terjemahan QS. al-Maidah: 51).

Dari ayat tersebut dapat kita mengambil suatu pelajaran bahwa ketika pemimpin itu berasal dari satu golongan, maka dia akan berusaha meningkatkan keuntungan bagi golongannya tersebut. Memberi kesempatan kaum kafir untuk berkuasa sama saja dengan berperan dalam mendorong kemunduran umat Islam. Dengan pimpinan yang kafir, tidak akan ada lagi aturan halal-haram, terlebih jika penguasa itu di-back up oleh kaum kapitalis. Pikirannya cuma bagaimana caranya balik modal, dan tidak mempedulikan rakyat kecil.

………..(Bersambung)

Baca Juga >>

Jangan Menjadikan Orang Kafir Sebagai Pemimpin

Melahirkan Pemimpin yang Ideal

Pemimpin yang Ideal

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »