Sisi Lain Car Free Day

Dec 23 • Aqidah • 1095 Views • No Comments on Sisi Lain Car Free Day

Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai Car Free Day bertujuan mensosialisasikan kepada masyarakat guna menurunkan ketergantungan terhadap kendaraan bermotor. Kegiatan ini biasanya didorong oleh aktivis yang bergerak dalam bidang lingkungan dan transportasi. Atau koalisi LSM Lingkungan sebagai wadah yang menampung aspirasi masyarakat dalam pembuatan kebijakan pemerintah.

Sayangnya momen ini oleh sebagian LSM digunakan justru tujuan pemurtadan. Ini terbukti dengan beredarnya video mengenai upaya kristenisasi di ibu kota DKI Jakarta. Dalam video berdurasi 23 menit dan 43 detik itu bertajuk “Spesial: Kristenisasi Terselubung di Car Free Day Jakarta.” Diperlihatkan sederet upaya sebuah komunitas melakukan gerakan kristenisasi terselubung di dalam rangkaian CFD, 2 November 2014.

Dalam video tersebut terlihat sekelompok masyarakat sedang memberikan hadiah kepada anak-anak dan para remaja yang diduga sebagai simbol-simbol agama kristen. Seperti kalung bergambar merpati, biskuit, permen, pin bertuliskan I’m Saved (Saya terselamatkan) dan sejumlah barang lain. (Republika, 10 Nov 2014). Upaya kristenisasi tidak hanya di Ibu Kota juga terjadi di Aceh dan beberapa kota lainnya. Betapa pemurtadan sudah dilakukan secara terang-terangan. Hal demikian sudah melanggar aturan SKB Tiga Menteri. Bahwa tidak boleh menyebarkan agama kepada orang yang telah beragama.

Alaa kulli hal sebagaimana digambarkan Rasulullah. Akan datang suatu masa dimana seseorang paginya beriman lalu di sore harinya kafir. Atau sebaliknya. Seolah agama adalah jualan yang bisa dibeli kapanpun. Bukan hanya Car Free Day mengancam akidah ummat, juga dibeberapa hari kedepan menjelang pergantian tahun baru terutama Natal.

Toleransi yang Salah Kaprah

“Kenapa kamu tidak mengucapkan selamat Natal sebagaimana kami juga mengucapkan Selamat Idul Fitri kepada kalian. Bukankah ini hanya ucapan selamat belaka” sebut temannya yang nonmuslim.

Mahasiswa muslim Amerika ini menimpali, “Apakah kamu mengetahui dua kalimat syahadat. Katakanlah, saya bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.”

Si temannya langsung mengelak, “Tidak mungkin saya mengucapkan kalimat syahadat. Saya akan pindah agama nantinya.”

“Dan begitu pula mengapa saya tidak mengucapkan selamat Natal kepada anda.”

Saudaraku, Ini persoalan prinsip akidah. Tidak ada kata toleransi. Haram hukumnya mengucapkan selamat Natal. Termasuk bekerja dalam hal membantu peribadatan mereka. Meskipun itu sekedar menjual peralatan yang disinyalir digunakan dalam beribadah. Secara tidak langsung juga ikut andil dalam peribadatan mereka.

Adapun persoalan muamalah semisal jual beli, berbisnis dengan nonmuslim itu tidak mengapa. Disini baru berlaku toleransi. Rasulullah juga berdagang dengan orang Yahudi, Nasrani dan orang musyrik. Tapi tidak sampai gegabah pada kekafiran. Jangan karena persoalan lapar kemudian menjual akidah.

Dalam kaitannya ibadah tidak ada kompromi. Sama saja setuju dengan peribadatan mereka, “Selamat Tuhan ada tiga. Selamat atas penyekutuan anda terhadap Allah.”

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga,” (QS. Al-Maidah: 72).

Apakah kita akan mengatakan pada seorang yang baru saja berzina dengan ucapan, “Selamat anda telah berzina.” Kepada pencuri, “Selamat anda telah korupsi.” Dan kalimat semisalnya. Jika saja tidak tega memberikan selamat kepada para pezina, pencuri bagaimana lagi mengucapkan selamat kepada yang menyekutukan Allah?

Untukmu Agamu dan Untukku Agamaku

“Ya Muhammad, bagaimana kalau kami setengah hari menyembah Tuhanmu tapi dengan syarat kamu juga harus ikut peribadatan kami setengah hari?” tawaran orang Quraisy.

“Tidak” jawab Rasulullah.

“Lalu bagaimana kalau kami satu hari menyembah Tuhanmu dan satu harinya kamu juga menyembah tuhan kami?”

“Tidak bisa.”

“Bagaimana kalau kami menyembah Tuhanmu sebulan lalu kamu cukup sehari ikut beribadah sama kami?” “Tidak bisa” sebut Nabi.

“Kalau begitu kami menyembah Tuhanmu setahun dan kamu cukup menyembah tuhan kami sehari?” “Tidak bisa” tegasnya.

Bagaimana kalau seumur hidup kami menyembah Tuhanmu sedangkan kamu cukup sehari saja beribadah pada kami!?”

“Tidak bisa.” Tegas beliau. Tidak ada kompromi apalagi toleransi dalam hal ibadah. Bagaimana jika seandainya ada yang menawarkan demikian. Apakah kita rela mengucapkan sekali saja, selamat Natal.

Turunlah firmanNya, “Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1-6).

Islam Agama Sempurna

Pembaca yang semoga istiqamah dalam kebenaran. Islam tidak membutuhkan kita. Sekalipun seorang murtad dari agamanya tidak sedikitpun menguragi kekuasaan Kerajaan Allah. Betapa ruginya mereka yang hendak menukar akhirat dengan sekardus mie, sembako atau sugukan rupiah.

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya..” (QS. Al-Maidah: 54).

Satu orang murtad akan digantikan dengan kaum dalam bentuk jamak. Islam akan tetap berjaya dengan atau tanpa kita. Kitalah yang butuh dengan islam bukan islam yang butuh kita!

“Sungguh Allah telah memuliakan kita dengan islam. Barangsiapa yang mencari kemuliaan selain islam maka dia menjerumuskan dirinya pada kehinaan” seperti kata Umar Ibnu al-Khattab. Betapa islam adalah anugrah nikmat terbesar dari Allah. Betapun sulitnya hidup anda, berkecukupan tetapi hidup dalam naungan islam jauh lebih baik daripada anda begelimang harta  tapi hidup dalam kekafiran.

Mulai zaman Rasulullah, Khulafaur ar-Rasyidah dan khilafah setelahnya semuanya menegakkan hukum islam. Sungguh kecelakaan suatu kaum yang ingin dimenangkan oleh Allah lantas menggunakan hukum diluar islam.

Di zaman Rasulullah pula sudah ada Imperium Roma dan Persia. Namun demikian beliau tidak pernah menyuruh para sahabatnya sekedar study banding pada mereka.

Adalah kewajiban bagi setiap muslim menjaga akidah ummat. Terutama pemerintah sebagai pengayom ummat dan bangsa. Namun disayangkan jika pemerintah yang menfasilitasi terjadinya pemurtadan.

Mutharrif Ibnu Abdullah pernah didatangi sekelompok aliran sesat Khawarij. “Bagaimana kalau anda ikut juga dengan aliran kami” bujuknya.

“Seandainya saya memiliki dua nyawa. Biarlah satu nyawa saya itu ikut dengan kelompok aliranmu. Dan satunya lagi saya tetap istiqomah sebagaiman saat ini. Kalaupun aliranmu itu benar maka saya akan berusaha juga bagaimana satu nyawa saya lainnya ikut dengan aliranmu.”

Namun lanjutnya, “Sayangnya saya hanya memiliki satu nyawa.  Dan satu-satunya nyawa pemberian Allah ini tidak akan saya sia-siakan.” Jika saja terhadap aliran sesat tidak ada kompromi lantaran merusak syahadat bagaimana lagi dengan akidah yang sudah jelas kekafirannya?

Muhammad Scilta Riska

(Al-Balagh edisi 7, jum’at 12 Desember 2014)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »