Perintah bersiwak

Syarah Umdatul Ahkam: Anjuran Bersiwak

Nov 27 • Hadits • 74 Views • No Comments on Syarah Umdatul Ahkam: Anjuran Bersiwak

HalaqahKe 16

KitabThaharah > Bab Siwak > Hadits No. 17

 

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Jika aku tidak merasa khawatir dapat memberikan “masyaqqah”  (sesuatu yang berat) pada umatku, niscaya aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak melakasanakan shalat”. (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Faidah:

  1. Yang dimaksud dengan masyaqqah adalah perkara-perkara yang dapat membebani seorang hamba.
  2. Hadits ini menjadi dalil kaidah fiqhal-Masyaqqah tajlibu al-taisr (sesuatu yang berat membawa kemudahan)
  3. Para ulama ushul fiqh menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa hukum asal perintah menunjukkan kewajiban suatu perkara. Imam Ibnu Daqiq Al-Id rahimahullah berkata:

Sebagian ulama ushul fiqh berhujjah dengan hadits ini bahwa hukum asal perintah adalah menunjukkan kewajiban suatu perkara. Dalilnya, bahwa kalimat “Jika seandainya tidak” menunjukkan penafian terhadap sesuatu karena keberadaan selainnya. Maka hal ini menunjukkan penafian terhadap perintah karena adanya masyaqqah. Penafian karena masyaqqah itu adalah penafian terhadap kewajian sesuatu, bukan penafian terhadap dianjurkannya sesuatu. Sebab dianjurkannya bersiwak telah tsabit pada setiap shalat. Oleh karena itu, hadits ini menunjukkan bahwa hukum asal suatu perintah adalah menunjukkan kewajibannya”. Lihat: Ibnu Daqiq al-Id, Ihkam al-Ahkam (Cet II; t.t.p.: Dar al-Atsar Li al-Nasyr wa al-Tauzi’, 1436 H.), h. 112.

 

  1. Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahkan umatnya untuk bersiwak setiap kali shalat.

 

Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir al-Syatsri hafizhahullah berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahkan umatnya untuk bersiwak setiap hendak shalat. Dan perintah untuk bersiwak tidak ada dalam syariat. Dari hadits ini para ulama menyimpulkan bahwa hukum asal perintah dalam syariat menunjukkan wajibnya perkara tersebut”  [ Lihat: Dr. Sa’ad bin Nashir al-Syatsri, Syarh Umdati al-Ahkam ( Cet. I; Riyadh:  Kunuz Isybiliyah Li al-Nasyr wa al-Tauzi’, 1429 H.), h. 55.]

 

  1. Siwak adalah menggosok gigi dengan ranting atau akar pohon yang khusus dipakai untuk bersiwak.

 

  1. Ibnu Daqiq rahimahullah berkata: “Hendaklah seseorang dalam melakukan taqarrub kepada Allah dilakukan dalam keadaan yang suci dan bersih yang sempurna”.[Lihat: Ibnu Daqiq al-Id, Ihkam al-Ahkam (Cet II; t.t.p.: Dar al-Atsar Li al-Nasyr wa al-Tauzi’, 1436 H.), h. 112.]

 

  1. Hadits ini menunjukkan bahwa siwak adalah sesuatu yang dianjurkan ketika hendak melaksanakan shalat, namun ia tidak sampai pada hukum wajib.

 

  1. Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir al-Syatsri hafizhahullah berkata: “Dari hadits ini para ulama menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berijtihad, sebab beliau menjadikan fa’il (pelaku) dinisbatkan pada dirinya. Beliau bersabda, “Jika aku tidak khawatir dapat memberi masyaqqah pada umatku, niscaya aku akan memerintahkan mereka”, ini menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga berijtihad. Tidak semua hukum darinya bermula dari nash (dalil). Akan tetapi, ijtihad Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam jika telah ditetapkan dan tidak di nasakh (hapus) maka hal itu menunjukkan wahyu dari Allah dan tidak boleh mengingkarinya. Lihat: Dr. Sa’ad bin Nashir al-Syatsri, Syarh Umdati al-Ahkam [( Cet. I; Riyadh: Kunuz Isybiliyah Li al-Nasyr wa al-Tauzi’, 1429 H.), h. 56.]

 

09 Rabiul Awal 1439 H

Abu Ukkasyah Wahyu al-Munawy

kata : perintah bersiwak perintah bersiwak  perintah bersiwak

 

 

Baca Juga :

Amalan Tergantung niatnya

Sholat yang tidak diterima

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »