Tadabbur Ayat Puasa

Jun 15 • Ibadah • 244 Views • No Comments on Tadabbur Ayat Puasa

Oleh : Abu Ukkasyah Wahyu al-Munawy

Allah Azza Wajalla berfirman:

ياأيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

“Wahai sekalian orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183)

Faidah:

1. Kewajiban puasa ini sesungguhnya telah diwajibkan pada umat-umat sebelumnya, yang menunjukkan mulianya ibadah ini, yang menekankan kepada kita untuk tidak melalaikan ibadah yang agung ini. Justru kita harus bersungguh-sungguh dalam menjalankannya sebagai bentuk munafasah (berlomba) dalam melakukan kebaikan terhadap umat-umat sebelumnya.

Imam Ibn Katsir rahimahullah berkata:

وذكر أنه كما أوجب عليهم فقد أوجبه على من كان قبلهم فلهم فيه أسوة وليجتهد هولاء في أداء هذا الفرض أكمل مما فعله أولئك كما قال تعالى : (لكل جعلنا منكم شرعة ومنهاجا ولو شاء الله لجعلكم أمة واحدة ولكن ليبلوكم فيما آتاكم فاستبقوا الخيرات))

“Allah subhanahu wata’ala menyebutkan bahwa sebagaimana puasa ini telah diwajibkan pada kaum muslimin, puasa ini juga telah diwajibkan pada umat-umat sebelum mereka. Karena itu, terhadap puasa ini kaum muslimin memiliki uswah (teladan). Sehingga mereka harus bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah yang wajib ini dan berupaya agar ibadah mereka lebih sempurna dari umat-umat sebelum mereka. Sebagaimana firman Allah azza wajalla: ((Setiap kalian kami jadikan syariat dan minhaj (jalan hidup). Jika Allah berkehendak, Allah menjadikan kalian umat yang satu, tapi Allah hendak menguji kalian atas nikmat-nikmat yang telah Dia berikan pada kalian. Maka berlomba-lombalah dalam mengerjakan kebaikan))”. (Tafsir Ibn Katsir: 1/196)

Syaikh Abdurrahman Ibn Nasir as-Sa’di rahimahullah berkata:

فيه تنشيط لهذه الأمة بأنه ينبغي لكم أن تنافسوا غيركم في تكميل الأعمال والمسارعة إلى صالح الخصال وأنه ليس من الأمور الثقيلة التي اختصيتم بها

“Padanya terdapat penyemangatan terhadap umat ini, bahwa hendaknya kalian bermunfasah (berlomba) dengan umat selain kalian dalam menyempurnakan amalan dan berlomba pula dalam memperbaiki sifat-sifat mereka, serta sesungguhnya ibadah ini bukanlah perkara yang berat yang hanya dikhususkan untuk kalian”. (Tafsir as-Sa’di: 83)

2. Bolehnya beribadah dengan syariat sebelum kita dengan syarat, syariat itu tidak menyelisihi syariat kita dan telah ditetapkan pula dalam syariat kita, baik melalui al-Qur’an ataupun hadits.

3. Allah azza wajalla ketika menyebut perintah puasa dalam ayat ini dengan menggunakan kata كتب yang bermakna diwajibkan. Artinya puasa hukumnya wajib bagi setiap muslim.

4. Amalan merupakan bagian dari iman.

5. Lajnah Ilmiyah Fi Markaz tadabbur menukil perkataan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah dalam kitabnya iqtidha shirathil mustaqim, bahwa kata كما (sebagaimana) dipahami darinya 2 perkara:

• Bahwasanya puasa para ahli kitab dahulu dalam penentuannya juga menggunakan ru’yah dan tidak dengan hisab. Hanya saja mereka merubah hal itu.

Ini menunjukkan bahwa Allah menyukai ibadah puasa ini, sebab jika Allah tidak menyukai ibadah ini, niscaya Allah tidak akan menyariatkannya pada seluruh umat. (Liyaddabbaru aayatihi: 79)

Imam ibn Katsir rahimahullah menukil perkataan Ubbad Ibn Manshur rahimahullah dari Hasan rahimahullah bahwa puasa umat-umat sebelum kita juga dilaksanakan selama sebulan penuh. (Tafsir Ibn Katsir: 1/196)

6. Menahan diri dari makan dan minum sebagai bentuk taqarrub kepada Allah dengan menjalankan ibadah puasa ini, tidak akan membahayakan tubuh, sebab ibadah ini telah teruji pada umat-umat sebelumnya.

7. Ibadah ini menunjukkan salah satu sifat Allah yang mulia, bahwa Allah azza wajalla adalah Rabb yang Maha Adil. Hal itu ditunjukkan dengan penyariatan ibadah ini kepada kaum muslimin yang dirasakan cukup berat bagi mereka, dengan menahan makan dan minum yang membuat mereka lemah sebagai bentuk ketaatan pada-Nya. Maka dengan itu Allah menghapuskan kesalahan mereka bagai dedaunann yang berguguran di musim semi mulai dari awal waktu menahan makan saat terbit fajar hingga matahari terbenam.

Diantara nikmat yang besar bagi seorang muslim adalah Allah menghapuskan baginya dosa-dosa yang pernah ia lakukan yang dimana dosa-dosa itu hakikatnya dapat menghalangi dirinya dari masuk ke dalam surga. Maka dengan kasih sayang-Nya Allah menghapus dosa-dosa itu melaui ibadah ini.

Maka betapa banyak dosa yang dihapuskan pada bulan ramadhan ini, betapa banyak orang-orang yang Allah muliakan dengan pembebasan dari api neraka pada setiap malamnya, betapa banyak manusia yang Allah tinggikan derajatnya karena qiyam dan bacaan al-Qur’annya, lalu para pemenang-pemenang dalam ibadah ini mendapat gelar takwa yang dengannya seseorang dijanjikan masuk ke dalam surga. Inilah keadilan Allah yang luar biasa, bahkan sebenarnya amalan manusia tidak sebanding dengan pemberian Allah yang luar biasa besarnya.

8. Allah hendak memuliakan orang-orang yang bertemu dengan bulan ramadhan yang hendak memuliakannya. Sebab bulan ramadhan adalah bulan yang mulia, pertemuan orang-orang yang ingin memuliakannya dengannya bisa membuat mereka mulia. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam

الصوم لي وأنا أجزي به

Puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.

Ibnu Quddamah rahimahullah berkata:

اعلم أن في الصوم خصيصة ليست في غيره وهي إضافة إلى الله تعالى وكفى بهذه الإضافة شرفا كما شرف البيت بإضافته إليه

“Ketahuilah bahwa pada puasa terdapat kekhususan yang tidak dimiliki pada selainnya, yaitu ia disandarkan pada Allah. Dan cukuplah dengan penyandaran ini sebagai kemuliaan, sebagaimana Allah memuliakan ka’bah dengan menyandarkannya pada-Nya”. (Mukthashar Minhaj al-Qashidin: 31)

9. Puasa merupakan sebab untuk menjadikan seseorang menjadi orang bertakwa.

10. Allah menyebut pada awal ayat ini dengan seruan wahai orang-orang yang beriman, padahal orang-orang yang beriman juga merupakan ciri orang-orang yang bertakwa. Lalu pada akhir ayat Allah menyebutkan “Agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa”. Pada penyebutan ini ada dua faidah yang sangat agung:

• Allah tidak membolehkan kita untuk mentazkiyah diri sendiri sebagai seorang yang bertakwa, karena sesungguhnya Allahlah yang lebih mengetahui siapa yang lebih bertakwa diantara kita.

• Hakikatnya Allah ingin menjadikan orang-orang yang beriman itu sebagai manusia yang memiliki tingkatan takwa yang sempurna dan paling tinggi. Sebab pada bulan ramadhan ini, semua sifat takwa tanpa terkecuali terkumpul padanya. Mulai dari sifat ihsan, sedikit tidur di malam hari dengan shalat dan baca al-Qur’an, istighfar diwaktu sahur, bersedekah dan zakat, menahan amarah, memaafkan orang lain, memperbanyak istighfar dan doa, dan lainnya semuanya terkumpul dalam amalan-amalan yang dianjurkan dalam sebulan penuh. Karena itu orang-orang yang membiasakan dirinya dengan semua itu dalam sebulan akan terbiasa dengan sifat-sifat takwa itu lalu menjadikan mereka meraih tingkatan ketakwaan yang paling sempurna. Wallahu a’lam.

(Materi disampaikan pada program Tadabbur al-Qur’an Ummat Tv Hari rabu 19 Ramadhan 1438 H ditulis kembali hari kamis 20 ramadhan 1438 H)

kata kunci : Tadabbur Ayat Puasa 183 Tadabbur Ayat Puasa 183 Tadabbur Ayat Puasa 183

Baca Juga>>

Tadabbur Ayat : Diwajibkan Atas Kamu Berpuasa

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

« »